Pertama Kalinya, Belanda Sebut Israel sebagai Ancaman

Selasa, 29 Juli 2025 - 10:20 WIB
loading...
Pertama Kalinya, Belanda...
Belanda, untuk pertama kalinya, menyebut Israel sebagai ancaman asing bagi keamanan nasionalnya. Foto/Jonathan Shaul/Flash90
A A A
DEN HAAG - Belanda, untuk pertama kalinya, menyebut Israel sebagai ancaman asing bagi keamanan nasionalnya. Alasannya, rezim Zionis melakukan kampanye disinformasi yang membahayakan nyawa warga negara Belanda.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Koordinator Nasional untuk Keamanan dan Antiterorisme (NCTV) menyatakan bahwa Israel berupaya memengaruhi opini publik dan politik di negara Eropa tersebut dengan mengedarkan dokumen langsung kepada jurnalis dan politisi Belanda, alih-alih menggunakan jalur diplomatik resmi.

Mengutip laporan Middle East Eye, Selasa (29/7/2025), kampanye disinformasi oleh Israel terjadi setelah bentrokan yang terjadi usai pertandingan sepak bola antara Ajax dan Maccabi Tel Aviv di Amsterdam, November lalu.

Baca Juga: 3 Fakta Massa Israel Lakukan Rasisme ke Orang Arab usai Laga Ajax vs Maccabi Tel Aviv

Hampir 30 orang terluka ketika suporter Israel terekam dalam video melakukan vandalisme, mengancam dan menyerang orang-orang, serta meneriakkan slogan-slogan rasis dan anti-Arab.

Otoritas Israel mencap kerusuhan tersebut sebagai antisemitisme dan memerintahkan dua pesawat penyelamat ke Belanda untuk mengevakuasi para suporter.

Seminggu kemudian, Wali Kota Amsterdam Femke Halsema menarik kembali pernyataannya yang menyebut kekerasan tersebut sebagai "pogrom", dengan mengatakan bahwa Israel "melewati" otoritas Belanda terkait detail peristiwa dan pembingkaiannya.

Laporan NCTV menyatakan bahwa dokumen yang diedarkan oleh badan-badan yang berafiliasi dengan Israel juga memuat "detail pribadi yang tidak biasa dan tidak diinginkan" tentang warga negara Belanda.

Kementerian Kehakiman, Keamanan, dan Luar Negeri Belanda memperingatkan bahwa individu-individu tersebut dapat menghadapi ancaman, pelecehan, dan bahkan serangan fisik.

NCTV juga menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya ancaman dari Israel dan AS terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag. Laporan tersebut menyatakan bahwa hal ini berpotensi mengganggu kinerja pengadilan.

Tahun lalu, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas peran mereka dalam dugaan kejahatan perang di Gaza dan wilayah Palestina lainnya yang diduduki.

Pengadilan tersebut sejak itu menghadapi tekanan signifikan dari AS dan Israel untuk menghentikan penyelidikan tersebut.

Belanda menjadi tuan rumah bagi lembaga-lembaga hukum internasional utama, seperti Mahkamah Internasional (ICJ), dan memikul tanggung jawab khusus untuk melindungi mereka dari pengaruh eksternal.

Laporan NCTV muncul ketika pemerintah Belanda—sekutu tradisional Israel—semakin kritis terhadap negara tersebut atas perangnya di Gaza dan memburuknya situasi kemanusiaan di daerah kantong Palestina yang terkepung tersebut.

Bersama dengan Irlandia dan Spanyol, Belanda telah mendesak Uni Eropa untuk mengevaluasi kembali hubungannya dengan Israel karena perangnya di Gaza, menuduh negara tersebut melanggar ketentuan hak asasi manusia dalam perjanjian asosiasi Uni Eropa-Israel.

Pada Februari 2024, Pengadilan Banding Den Haag memerintahkan pemerintah Belanda untuk menghentikan ekspor komponen jet tempur siluman F-35 ke Israel.

Pengadilan tersebut menyuarakan kekhawatiran bahwa senjata tersebut dapat digunakan untuk melanggar hukum humaniter internasional.

Namun, terlepas dari keputusan pengadilan tersebut, terdapat laporan bahwa Belanda masih mendukung rantai pasokan jet tempur F-35 versi Israel.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Batalyon Israel Pembunuh...
Batalyon Israel Pembunuh Hind Rajab Dapat Pukulan Keras di Lebanon Selatan
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Zelensky Ajak Putin...
Zelensky Ajak Putin Bertemu di AS: Kalau Diminta Trump Dia Sulit Menolak
Rekomendasi
Garda Bangsa Dukung...
Garda Bangsa Dukung Penuh Program Pemerintahan Prabowo
Road to Kilau Raya Hadir...
Road to Kilau Raya Hadir di Kota Mojokerto, Siapkan Pesta Rakyat Penuh Kemeriahan
Aturan Baru FIFA Makan...
Aturan Baru FIFA Makan Korban Pertama: Almiron Dikartu Merah Gara-Gara Tutup Mulut
Berita Terkini
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Batalyon Israel Pembunuh...
Batalyon Israel Pembunuh Hind Rajab Dapat Pukulan Keras di Lebanon Selatan
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved