Dinilai Lamban Tangani Perang dengan Kamboja, Rakyat Thailand Kecam PM Paetongtarn

Senin, 28 Juli 2025 - 03:30 WIB
loading...
Dinilai Lamban Tangani...
Paetongtarn Shinawatra dinilai lamban tangani perang dengan Kamboja. Foto/X/@KhaosodEnglish
A A A
BANGKOK - Perdana Menteri (PM) Thailand Paetongtarn Shinawatra yang sedang menjalani masa skorsing telah mengunjungi pusat evakuasi di Provinsi Surin di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan dengan Kamboja. Di sana, ia ditegur oleh seorang pengungsi yang mengecam ketidakpedulian dan lambatnya reaksi pemerintah.

Paetongtarn mengunjungi provinsi timur laut ini pada hari Minggu untuk memberikan dukungan moral dan mendistribusikan bantuan dasar kepada penduduk yang mengungsi akibat pertempuran di perbatasan.

Namun, kunjungan tersebut diwarnai oleh rasa frustrasi publik atas penanganan konflik oleh pemerintah, dengan seorang warga yang mengungsi mengkonfrontasi perdana menteri yang sedang diberhentikan sementara karena ketidakpeduliannya terhadap penderitaan mereka yang terdampak.

Setelah tiba di Surin sesaat setelah tengah hari pada hari Minggu, Paetongtarn menuju ke sebuah tempat penampungan di distrik Muang untuk memberikan dukungan dan mendistribusikan bantuan.

Setibanya di tempat penampungan, Chayanuch Choksukudom, yang mengungsi dari rumahnya di distrik Kap Choeng di sepanjang perbatasan, menghampirinya untuk menyampaikan keluhannya.

Namun, setelah keluar dari kendaraannya, Paetongtarn langsung masuk ke tempat penampungan, tampaknya tidak menyadari keberadaan perempuan tersebut.

Seorang ajudan memberi tahu Chayanuch bahwa perdana menteri akan kembali untuk berbicara dengannya, yang ditanggapinya dengan emosional: "Sangat tidak berperasaan."

Baca Juga: Kamboja Tuding Thailand Intensifkan Serangan dan Ciptakan Disinformasi

Berbicara kepada media setelahnya, Chayanuch mengungkapkan kekecewaan yang mendalam atas apa yang ia anggap sebagai ketidakpedulian perdana menteri.

"Saya merasa sangat terluka oleh kata-kata Ung Ing," katanya, merujuk pada perdana menteri dengan nama panggilannya, dilansir Bangkok Post.

"Penanganan pemerintah [terhadap situasi perbatasan] sangat lambat. Rakyat Thailand tidak boleh mati sia-sia. Saat ini, seluruh negeri sedang menderita."

Ia mendesak Paetongtarn untuk mempertimbangkan kembali pendekatannya.

"Saya ingin dia benar-benar membuka hatinya dan melihat betapa besar penderitaan kami. Kami memahami ada kepentingan yang terlibat, tetapi tolong, pikirkan kembali dan bertindaklah lagi — demi bangsa dan rakyatnya," kata Chayanuch.

Ia merujuk pada klaim para kritikus bahwa gejolak di perbatasan disebabkan oleh perselisihan pribadi antara ayahnya, Thaksin, dan pemimpin kuat Kamboja, Hun Sen — sebuah tuduhan yang dibantah oleh Partai Pheu Thai yang berkuasa.

Paetongtarn telah diskors dari jabatannya sebagai perdana menteri sejak awal bulan ini sambil menunggu putusan pengadilan atas panggilan teleponnya yang kontroversial dengan Ketua Senat Kamboja, Hun Sen. Ia juga merangkap jabatan di kabinet sebagai menteri kebudayaan.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Saingan Selat Malaka!...
Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Abaikan AS, Netanyahu...
Abaikan AS, Netanyahu Ngotot Tak Akan Tarik Pasukan Israel dari Lebanon
Rekomendasi
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Air Mata 2016, Sejarah...
Air Mata 2016, Sejarah 2026: Saat Dunia Tak Berhenti Bicarakan Messi
Sinyal Penarikan Dana...
Sinyal Penarikan Dana SAL dari Himbara Mencuat, Begini Pesan OJK
Berita Terkini
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Infografis
Spesifikasi Fregat Merah...
Spesifikasi Fregat Merah Putih, Kapal Perang Tercanggih dengan Senjata Modern
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved