Trump Ingin Gelar Perundingan Nuklir Baru dengan Rusia, Ada Apa Gerangan?
Sabtu, 26 Juli 2025 - 01:10 WIB
loading...
Donald Trump ingin perundingan nuklir baru dengan Rusia. Foto/X/@WhiteHouse
A
A
A
WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia akan melanjutkan negosiasi untuk mempertahankan pembatasan senjata nuklir yang ada dengan Rusia . Itu menunjukkan bentuk kekhawatiran mendalam AS terhadap Rusia.
Presiden menyampaikan pernyataan tersebut seiring berakhirnya perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak dan metode pengirimannya, pada 5 Februari 2026.
"Itu bukan perjanjian yang ingin Anda akhiri. Kami sedang mulai mengupayakannya," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih sebelum kunjungan ke Skotlandia pada hari Jumat, menurut Reuters.
"Ketika Anda mencabut pembatasan nuklir, itu masalah besar," kata Trump, dilansir RT.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan awal tahun ini bahwa "dialog antara Rusia dan AS mengenai pengendalian senjata diperlukan, terutama terkait stabilitas strategis." Namun, ia menekankan bahwa hal itu membutuhkan "tingkat kepercayaan yang memadai," yang perlu diimbangi dengan normalisasi hubungan bilateral yang diputus oleh pemerintahan Biden pada tahun 2022.
Baca Juga: Siapa Nick Maynard? Dokter Bedah Inggris yang Tuding Israel Tembaki Warga Gaza seperti Permainan Video
Perjanjian New START ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan mitranya dari AS saat itu, Barack Obama, dalam periode pemulihan hubungan singkat yang dikenal sebagai "reset".
Hubungan kemudian memburuk ke titik terendah dalam sejarah akibat tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 dan konflik di Ukraina.
Selama masa jabatan pertama Trump, AS menarik diri dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) tahun 1987 dengan Rusia, yang melarang rudal darat dengan jangkauan 500–5.500 km, serta Perjanjian Langit Terbuka tahun 1992, yang memungkinkan kedua negara melakukan penerbangan pengintaian di wilayah masing-masing. Moskow pun mengikuti dan menuduh Washington membongkar sistem kendali senjata global.
Presiden menyampaikan pernyataan tersebut seiring berakhirnya perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak dan metode pengirimannya, pada 5 Februari 2026.
"Itu bukan perjanjian yang ingin Anda akhiri. Kami sedang mulai mengupayakannya," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih sebelum kunjungan ke Skotlandia pada hari Jumat, menurut Reuters.
"Ketika Anda mencabut pembatasan nuklir, itu masalah besar," kata Trump, dilansir RT.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan awal tahun ini bahwa "dialog antara Rusia dan AS mengenai pengendalian senjata diperlukan, terutama terkait stabilitas strategis." Namun, ia menekankan bahwa hal itu membutuhkan "tingkat kepercayaan yang memadai," yang perlu diimbangi dengan normalisasi hubungan bilateral yang diputus oleh pemerintahan Biden pada tahun 2022.
Baca Juga: Siapa Nick Maynard? Dokter Bedah Inggris yang Tuding Israel Tembaki Warga Gaza seperti Permainan Video
Perjanjian New START ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan mitranya dari AS saat itu, Barack Obama, dalam periode pemulihan hubungan singkat yang dikenal sebagai "reset".
Hubungan kemudian memburuk ke titik terendah dalam sejarah akibat tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 dan konflik di Ukraina.
Selama masa jabatan pertama Trump, AS menarik diri dari Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF) tahun 1987 dengan Rusia, yang melarang rudal darat dengan jangkauan 500–5.500 km, serta Perjanjian Langit Terbuka tahun 1992, yang memungkinkan kedua negara melakukan penerbangan pengintaian di wilayah masing-masing. Moskow pun mengikuti dan menuduh Washington membongkar sistem kendali senjata global.
(ahm)
Lihat Juga :