Hamas Menyambut Baik Niat Prancis Mengakui Palestina pada Bulan September
Jum'at, 25 Juli 2025 - 16:36 WIB
loading...
Pejuang Hamas berada di Jalur Gaza. Foto/anadolu
A
A
A
JALUR GAZA - Gerakan Palestina Hamas memuji pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang niat negaranya mengakui negara Palestina pada bulan September. Pada hari Kamis (24/7/2025), Macron mengatakan Prancis akan secara resmi mengakui negara Palestina pada pertemuan Majelis Umum PBB di bulan September.
"Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyambut baik pengumuman Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang niat negaranya mengakui Negara Palestina pada sidang Majelis Umum PBB mendatang di bulan September, dan menganggapnya sebagai langkah positif ke arah yang benar untuk mencapai keadilan bagi rakyat Palestina kami yang tertindas dan mendukung hak sah mereka untuk menentukan nasib sendiri dan mendirikan negara Palestina merdeka di semua tanah yang diduduki dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya," tegas pernyataan gerakan tersebut pada hari Kamis.
Pada saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keputusan Macron untuk mengakui Palestina.
Surat kabar Jerusalem Post melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut keputusan Macron sebagai aib dan mengatakan Israel tidak akan mengizinkan pembentukan negara Palestina.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam diplomasi Prancis dan muncul di tengah meningkatnya seruan internasional untuk mengakhiri perang di Gaza dan menghidupkan kembali proses perdamaian yang terhenti.
“Sesuai dengan komitmen historisnya untuk perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah, saya telah memutuskan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina,” tulis Macron dalam pernyataan yang dipublikasikan di media sosial.
Ia menambahkan, “Prioritas mendesak adalah mengakhiri perang di Gaza dan memastikan bantuan kemanusiaan menjangkau penduduk sipil.”
Menurut media Prancis, pernyataan Macron disertai dengan surat bertanda tangan yang ditujukan kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.
Di dalamnya, ia menegaskan kembali dukungan Prancis terhadap solusi dua negara dan hak Palestina menentukan nasib sendiri.
Prancis akan menjadi tuan rumah bersama, bersama Arab Saudi, konferensi internasional tentang konflik Israel-Palestina September ini.
Semula dijadwalkan pada bulan Juni, pertemuan puncak tersebut ditunda karena pecahnya perang antara Israel dan Iran.
Pertemuan persiapan tingkat menteri dilaporkan akan diadakan pada 28-29 Juli di New York.
Baca juga: Mediator: Hamas Sampaikan Tanggapan Nyata dan Positif pada Proposal Gencatan Senjata
"Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyambut baik pengumuman Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang niat negaranya mengakui Negara Palestina pada sidang Majelis Umum PBB mendatang di bulan September, dan menganggapnya sebagai langkah positif ke arah yang benar untuk mencapai keadilan bagi rakyat Palestina kami yang tertindas dan mendukung hak sah mereka untuk menentukan nasib sendiri dan mendirikan negara Palestina merdeka di semua tanah yang diduduki dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya," tegas pernyataan gerakan tersebut pada hari Kamis.
Pada saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keputusan Macron untuk mengakui Palestina.
Surat kabar Jerusalem Post melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut keputusan Macron sebagai aib dan mengatakan Israel tidak akan mengizinkan pembentukan negara Palestina.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam diplomasi Prancis dan muncul di tengah meningkatnya seruan internasional untuk mengakhiri perang di Gaza dan menghidupkan kembali proses perdamaian yang terhenti.
“Sesuai dengan komitmen historisnya untuk perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah, saya telah memutuskan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina,” tulis Macron dalam pernyataan yang dipublikasikan di media sosial.
Ia menambahkan, “Prioritas mendesak adalah mengakhiri perang di Gaza dan memastikan bantuan kemanusiaan menjangkau penduduk sipil.”
Menurut media Prancis, pernyataan Macron disertai dengan surat bertanda tangan yang ditujukan kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.
Di dalamnya, ia menegaskan kembali dukungan Prancis terhadap solusi dua negara dan hak Palestina menentukan nasib sendiri.
Prancis akan menjadi tuan rumah bersama, bersama Arab Saudi, konferensi internasional tentang konflik Israel-Palestina September ini.
Semula dijadwalkan pada bulan Juni, pertemuan puncak tersebut ditunda karena pecahnya perang antara Israel dan Iran.
Pertemuan persiapan tingkat menteri dilaporkan akan diadakan pada 28-29 Juli di New York.
Baca juga: Mediator: Hamas Sampaikan Tanggapan Nyata dan Positif pada Proposal Gencatan Senjata
(sya)
Lihat Juga :