Perang Sengit, Kamboja Dilaporkan Tembak Jatuh 1 dari 6 Jet Tempur F-16 Thailand
Kamis, 24 Juli 2025 - 15:28 WIB
loading...
Perang sengit, Kamboja dilaporkan tembak jatuh satu dari 6 jet tempur F-16 Thailand. Foto/Bangkok Post/Facebook Chumchon Khon Surin
A
A
A
PHNOM PENH - Thailand dan Kamboja telah terlibat perang sengit lintas batas pada Kamis (24/7/2025). Jurnalis veteran Kamboja, Soy Sopheap, melaporkan Thailand mengerahkan enam jet tempur F-16, dengan satu di antaranya ditembak jatuh.
Soy Sopheap mengeklaim laporannya bersumber dari Angkatan Darat Kamboja.
Phnom Pen Post melaporkan pertempuran masih berlangsung di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, di titik-titik konflik utama: Kuil Ta Mone Thom, Kuil Ta Krabey, wilayah Mom Bei, dan dekat Kuil Preah Vihear.
Para pemimpin Kamboja mengatakan bahwa tentara Thailand memulai serangan, menyusul pengumuman kemarin tentang penerapan "strategi militer Chakraphong Phuvanaat".
Perdana Menteri Hun Manet menyatakan bahwa pasukan Thailand melancarkan serangan terhadap posisi militer Kamboja di kuil Ta Mone Thom dan Ta Krabey di provinsi Oddar Meanchey dan memperluas serangan mereka ke wilayah Mom Bei.
“Kamboja selalu berkomitmen untuk menyelesaikan masalah secara damai, tetapi dalam kasus ini, kami tidak punya pilihan selain merespons invasi bersenjata ini dengan kekerasan,” ujarnya melalui media sosial.
“Pemerintah Kerajaan Kamboja, kementerian terkait, otoritas provinsi, dan khususnya angkatan bersenjata Kamboja secara aktif dan berani bekerja untuk melindungi kedaulatan negara, integritas wilayah, dan kepentingan nasional tertinggi, baik di medan perang maupun dalam upaya diplomatik, sekaligus membantu warga negara yang terdampak invasi militer Thailand,” imbuh dia.
Baca Juga: Thailand dan Kamboja Perang, Jet Tempur F-16 Dikerahkan
Ketua Senat Hun Sen juga mengonfirmasi bahwa invasi militer Thailand tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah yang dikeluarkan kemarin untuk menutup Kuil Ta Mone Thom pada 24 Juli, setelah itu mereka mulai menyerang pasukan Kamboja.
"Militer Kamboja tidak punya pilihan selain melawan dan melakukan serangan balik. Saya mengimbau sesama warga Kamboja untuk tidak panik, menimbun beras atau barang, atau menaikkan harga. Mohon tetap beraktivitas seperti biasa di semua sektor dan tempat, kecuali di wilayah perbatasan Provinsi Oddar Meanchey dan Preah Vihear, yang sedang diserang oleh pasukan Thailand," tulisnya di media sosial.
Baik Manet maupun Hun Sen mengimbau masyarakat untuk mempercayai Pemerintah Kerajaan dan angkatan bersenjata Kamboja.
Baca Juga: Thailand dan Kamboja Perang, 2 Warga Sipil Tewas
"Mohon tetap tenang dan kalem, dan lanjutkan pekerjaan sehari-hari Anda seperti biasa," kata Hun Sen.
Surat kabar Thailand, Thai PBS World, melaporkan hari ini bahwa tentara Thailand telah melancarkan operasi, yang dikenal sebagai "strategi militer Chakraphong Phuvanaat", untuk menghadapi Kamboja, menyusul ledakan ranjau darat lainnya di celah Chong An Ma, yang mengakibatkan seorang tentara Thailand kehilangan satu kakinya.
Disebutkan bahwa strategi tersebut digunakan oleh tentara Thailand selama bentrokan bersenjata dengan Kamboja di Kuil Preah Vihear dari tahun 2008 hingga 2011.
Soy Sopheap mengeklaim laporannya bersumber dari Angkatan Darat Kamboja.
Phnom Pen Post melaporkan pertempuran masih berlangsung di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, di titik-titik konflik utama: Kuil Ta Mone Thom, Kuil Ta Krabey, wilayah Mom Bei, dan dekat Kuil Preah Vihear.
Para pemimpin Kamboja mengatakan bahwa tentara Thailand memulai serangan, menyusul pengumuman kemarin tentang penerapan "strategi militer Chakraphong Phuvanaat".
Perdana Menteri Hun Manet menyatakan bahwa pasukan Thailand melancarkan serangan terhadap posisi militer Kamboja di kuil Ta Mone Thom dan Ta Krabey di provinsi Oddar Meanchey dan memperluas serangan mereka ke wilayah Mom Bei.
“Kamboja selalu berkomitmen untuk menyelesaikan masalah secara damai, tetapi dalam kasus ini, kami tidak punya pilihan selain merespons invasi bersenjata ini dengan kekerasan,” ujarnya melalui media sosial.
“Pemerintah Kerajaan Kamboja, kementerian terkait, otoritas provinsi, dan khususnya angkatan bersenjata Kamboja secara aktif dan berani bekerja untuk melindungi kedaulatan negara, integritas wilayah, dan kepentingan nasional tertinggi, baik di medan perang maupun dalam upaya diplomatik, sekaligus membantu warga negara yang terdampak invasi militer Thailand,” imbuh dia.
Baca Juga: Thailand dan Kamboja Perang, Jet Tempur F-16 Dikerahkan
Ketua Senat Hun Sen juga mengonfirmasi bahwa invasi militer Thailand tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah yang dikeluarkan kemarin untuk menutup Kuil Ta Mone Thom pada 24 Juli, setelah itu mereka mulai menyerang pasukan Kamboja.
"Militer Kamboja tidak punya pilihan selain melawan dan melakukan serangan balik. Saya mengimbau sesama warga Kamboja untuk tidak panik, menimbun beras atau barang, atau menaikkan harga. Mohon tetap beraktivitas seperti biasa di semua sektor dan tempat, kecuali di wilayah perbatasan Provinsi Oddar Meanchey dan Preah Vihear, yang sedang diserang oleh pasukan Thailand," tulisnya di media sosial.
Baik Manet maupun Hun Sen mengimbau masyarakat untuk mempercayai Pemerintah Kerajaan dan angkatan bersenjata Kamboja.
Baca Juga: Thailand dan Kamboja Perang, 2 Warga Sipil Tewas
"Mohon tetap tenang dan kalem, dan lanjutkan pekerjaan sehari-hari Anda seperti biasa," kata Hun Sen.
Surat kabar Thailand, Thai PBS World, melaporkan hari ini bahwa tentara Thailand telah melancarkan operasi, yang dikenal sebagai "strategi militer Chakraphong Phuvanaat", untuk menghadapi Kamboja, menyusul ledakan ranjau darat lainnya di celah Chong An Ma, yang mengakibatkan seorang tentara Thailand kehilangan satu kakinya.
Disebutkan bahwa strategi tersebut digunakan oleh tentara Thailand selama bentrokan bersenjata dengan Kamboja di Kuil Preah Vihear dari tahun 2008 hingga 2011.
(mas)
Lihat Juga :