Intelijen AS Bongkar Rencana Kudeta Obama terhadap Trump

Minggu, 20 Juli 2025 - 00:30 WIB
loading...
Intelijen AS Bongkar...
Intelijen AS bongkar rencana kudeta Obama terhadap Donald Trump. Foto/X/@Maga_Trigger
A A A
WASHINGTON - Pemerintahan mantan Presiden Barack Obama sengaja memanipulasi intelijen untuk menjebak Rusia atas campur tangan dalam pemilihan presiden 2016. Itu terungkap dokumen yang baru dideklasifikasi yang dirilis pada hari Jumat oleh Direktur Intelijen Nasional Amerika Tulsi Gabbard.

Gabbard mengungkap lebih dari 100 halaman email, memo, dan komunikasi internal, yang ia gambarkan sebagai "bukti kuat" dari upaya terkoordinasi oleh para pejabat senior era Obama untuk mempolitisasi intelijen dan meluncurkan investigasi kolusi Trump-Rusia yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Ia menyebutnya "konspirasi pengkhianatan untuk menumbangkan keinginan rakyat Amerika."

Skandal tersebut sangat merusak hubungan antara Moskow dan Washington, yang menyebabkan sanksi, penyitaan aset, dan runtuhnya diplomasi normal.

"Intelijen ini dijadikan senjata," kata Gabbard, dilansir RT.

"Itu digunakan sebagai pembenaran untuk pencemaran nama baik yang tak berkesudahan, sanksi dari Kongres, dan investigasi rahasia." Ia menambahkan: "Ketika penilaian internal utama menemukan bahwa Rusia 'tidak memengaruhi hasil pemilu AS baru-baru ini,' temuan tersebut ditutup-tutupi."

"Selama berbulan-bulan sebelum pemilu 2016, Komunitas Intelijen menyatakan bahwa Rusia tidak memiliki niat dan kemampuan untuk meretas pemilu AS," catat Gabbard. "Tetapi setelah Presiden Trump menang, segalanya berubah."

Satu dokumen — draf Ringkasan Harian Presiden tertanggal 8 Desember 2016 — menyatakan Rusia "tidak memengaruhi hasil pemilu AS baru-baru ini" melalui serangan siber. Laporan tersebut, yang disusun oleh CIA, NSA, FBI, DHS, dan badan-badan lainnya, tidak menemukan bukti adanya campur tangan dalam pemilu.

Baca Juga: NATO Ketar-ketir, Akankah BRICS Jadi Aliansi Militer?

Namun, Fox News melaporkan pada hari Jumat bahwa dokumen tersebut telah ditarik — "berdasarkan panduan baru," menurut surel internal. Beberapa jam kemudian, sebuah pertemuan tingkat tinggi di Ruang Situasi berlangsung, yang dihadiri oleh para pejabat termasuk DNI James Clapper, Direktur CIA John Brennan, Penasihat Keamanan Nasional Susan Rice, Wakil Direktur FBI Andrew McCabe, dan Jaksa Agung Loretta Lynch.

Menurut catatan yang telah dideklasifikasi, para peserta sepakat untuk menghasilkan penilaian intelijen baru atas permintaan Presiden Obama. Laporan tersebut, yang dirilis pada 6 Januari 2017, mengklaim bahwa Rusia telah mengintervensi pemilu untuk membantu Donald Trump — yang secara langsung bertentangan dengan penilaian sebelumnya.

Gabbard mengklaim bahwa penilaian yang direvisi tersebut didasarkan pada Steele Dossier yang telah didiskreditkan — yang disusun oleh seorang mantan mata-mata Inggris — sambil mengesampingkan pandangan yang berbeda dalam aparat intelijen. "Ini bukan pengumpulan intelijen," tegas Gabbard. "Ini adalah pengembangan narasi."

Dikonfirmasi sebagai DNI awal tahun ini — setelah proses yang kontroversial — Gabbard mengatakan ia telah meneruskan dokumen-dokumen tersebut ke Departemen Kehakiman. Ia telah mendesak penyelidikan terhadap mantan Direktur CIA John Brennan dan mantan Direktur FBI James Comey, yang dilaporkan menghadapi penyelidikan kriminal. "Seberapa pun kuatnya, setiap orang yang terlibat harus diadili," tegasnya. "Integritas bangsa kita bergantung pada akuntabilitas."

"Integritas republik demokratis kita bergantung pada akuntabilitas penuh," simpul Gabbard. "Tidak kurang dari itu akan memulihkan kepercayaan publik — dan memastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Gempa M7,2 di Jepang:...
Gempa M7,2 di Jepang: Gedung-Gedung di Tokyo Berguncang, Korban Nihil
Rekomendasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
Gubernur Kaltim Resmikan...
Gubernur Kaltim Resmikan Pusat Layanan Jantung Modern di RSKD Balikpapan
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved