Gereja Tertua di Palestina Makin Terancam, Sering Diteror dan Hampir Dibakar Zionis
Selasa, 15 Juli 2025 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan, “Para pemukim, yang seringkali bersenjata, tidak secara fisik menyakiti anggota keluarga, tetapi kehadiran mereka merusak pohon zaitun,” yang mengancam perekonomian lokal yang sebagian besar bergantung pada produksi minyak zaitun. Ia mengkhawatirkan kemungkinan terburuk untuk panen tahun ini.
Mengenai tanggapan resmi, ia berkata: “Tidak ada yang mengendalikan para pemukim — baik pemerintah Israel, maupun militer Israel yang menduduki Tepi Barat, maupun tim Israel yang konon ‘mengkoordinasikan kehidupan sipil’ dengan Otoritas Palestina. Kami menghubungi mereka, dan mereka mengatakan ingin melakukan sesuatu untuk kami. Tetapi hingga saat ini, mereka tidak melakukan apa pun.”
Menjelaskan dampak emosional yang ditimbulkan, Pastor Bashar menjelaskan bahwa anak-anak Taybeh hidup dalam iklim ketakutan yang begitu intens sehingga mereka mulai menangis hanya dengan menyebut nama pemukim tersebut. “Ketakutan telah menjadi hal yang konstan.”
Kebakaran baru-baru ini di dekat pemakaman tersebut mengikuti pola agresi yang meningkat. Pada tanggal 25 Juni, puluhan pemukim bersenjata menyerang Taybeh dan desa Kristen tetangga, Kafr Malik, membakar rumah dan kendaraan. Insiden semacam itu terjadi "di siang bolong dan dengan impunitas penuh," jelas Pastor Bashar.
Melansir The Jordan Times, para pastor Taybeh mendesak komunitas internasional, diplomat, dan pemimpin gereja untuk menekan otoritas Israel agar menghentikan serangan-serangan ini. Mereka menuntut investigasi yang transparan atas kebakaran dan serangan tersebut serta mengundang para pengamat untuk menyaksikan langsung realitas sehari-hari yang mereka alami.
Ancaman tersebut meluas hingga ke luar Taybeh, hingga ke setidaknya empat belas desa di sekitarnya. Baru minggu lalu, empat pemuda Palestina tewas dalam bentrokan yang melibatkan para pemukim dan pasukan militer Israel.
"Kami hanya menginginkan hidup dalam damai dan keadilan," pungkas Pastor Bashar.
Situasi Taybeh merupakan simbol dari krisis yang lebih besar yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristen di seluruh Palestina.
Mengenai tanggapan resmi, ia berkata: “Tidak ada yang mengendalikan para pemukim — baik pemerintah Israel, maupun militer Israel yang menduduki Tepi Barat, maupun tim Israel yang konon ‘mengkoordinasikan kehidupan sipil’ dengan Otoritas Palestina. Kami menghubungi mereka, dan mereka mengatakan ingin melakukan sesuatu untuk kami. Tetapi hingga saat ini, mereka tidak melakukan apa pun.”
Menjelaskan dampak emosional yang ditimbulkan, Pastor Bashar menjelaskan bahwa anak-anak Taybeh hidup dalam iklim ketakutan yang begitu intens sehingga mereka mulai menangis hanya dengan menyebut nama pemukim tersebut. “Ketakutan telah menjadi hal yang konstan.”
Kebakaran baru-baru ini di dekat pemakaman tersebut mengikuti pola agresi yang meningkat. Pada tanggal 25 Juni, puluhan pemukim bersenjata menyerang Taybeh dan desa Kristen tetangga, Kafr Malik, membakar rumah dan kendaraan. Insiden semacam itu terjadi "di siang bolong dan dengan impunitas penuh," jelas Pastor Bashar.
Melansir The Jordan Times, para pastor Taybeh mendesak komunitas internasional, diplomat, dan pemimpin gereja untuk menekan otoritas Israel agar menghentikan serangan-serangan ini. Mereka menuntut investigasi yang transparan atas kebakaran dan serangan tersebut serta mengundang para pengamat untuk menyaksikan langsung realitas sehari-hari yang mereka alami.
Ancaman tersebut meluas hingga ke luar Taybeh, hingga ke setidaknya empat belas desa di sekitarnya. Baru minggu lalu, empat pemuda Palestina tewas dalam bentrokan yang melibatkan para pemukim dan pasukan militer Israel.
"Kami hanya menginginkan hidup dalam damai dan keadilan," pungkas Pastor Bashar.
Situasi Taybeh merupakan simbol dari krisis yang lebih besar yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristen di seluruh Palestina.
Lihat Juga :