Presiden Tertua di Dunia Ini Kembali Calonkan Diri
Senin, 14 Juli 2025 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Anggota Gerakan Demokratik Rakyat Kamerun (CPDM) yang berkuasa dan pendukung lainnya sejak tahun lalu secara terbuka menyerukan agar Biya mencalonkan diri kembali.
Namun, partai-partai oposisi dan beberapa kelompok masyarakat sipil berpendapat bahwa pemerintahannya yang panjang telah menghambat perkembangan ekonomi dan demokrasi. Dua mantan sekutu telah keluar dari koalisi yang berkuasa dan mengumumkan rencana untuk mencalonkan diri secara terpisah dalam pemilu.
Baca Juga: Presiden Ini Sudah Berusia 80 Tahun, tapi Ingin Perpanjang Kekuasaannya hingga 40 Tahun Lagi
“Pengumuman Presiden Biya untuk mencalonkan diri kembali merupakan tanda yang jelas dari transisi politik Kamerun yang tersendat. Setelah lebih dari 40 tahun berkuasa, yang dibutuhkan negara ini adalah pembaruan – bukan pengulangan. Rakyat Kamerun berhak atas perubahan demokratis dan kepemimpinan yang akuntabel,” ujar Nkongho Felix Agbor, seorang advokat hak asasi manusia dan pengacara, kepada kantor berita The Associated Press.
Pengumuman hari Minggu ini pasti akan memicu kembali perdebatan mengenai kelayakan Biya untuk menjabat. Ia jarang tampil di depan umum, seringkali mendelegasikan tanggung jawab kepada kepala staf kantor kepresidenan yang berpengaruh.
Oktober lalu, ia kembali ke Kamerun setelah absen selama 42 hari, yang memicu spekulasi bahwa ia sedang sakit. Pemerintah mengklaim ia baik-baik saja tetapi melarang segala diskusi mengenai kesehatannya, dengan alasan bahwa itu adalah masalah keamanan nasional.
Namun, partai-partai oposisi dan beberapa kelompok masyarakat sipil berpendapat bahwa pemerintahannya yang panjang telah menghambat perkembangan ekonomi dan demokrasi. Dua mantan sekutu telah keluar dari koalisi yang berkuasa dan mengumumkan rencana untuk mencalonkan diri secara terpisah dalam pemilu.
Baca Juga: Presiden Ini Sudah Berusia 80 Tahun, tapi Ingin Perpanjang Kekuasaannya hingga 40 Tahun Lagi
“Pengumuman Presiden Biya untuk mencalonkan diri kembali merupakan tanda yang jelas dari transisi politik Kamerun yang tersendat. Setelah lebih dari 40 tahun berkuasa, yang dibutuhkan negara ini adalah pembaruan – bukan pengulangan. Rakyat Kamerun berhak atas perubahan demokratis dan kepemimpinan yang akuntabel,” ujar Nkongho Felix Agbor, seorang advokat hak asasi manusia dan pengacara, kepada kantor berita The Associated Press.
Pengumuman hari Minggu ini pasti akan memicu kembali perdebatan mengenai kelayakan Biya untuk menjabat. Ia jarang tampil di depan umum, seringkali mendelegasikan tanggung jawab kepada kepala staf kantor kepresidenan yang berpengaruh.
Oktober lalu, ia kembali ke Kamerun setelah absen selama 42 hari, yang memicu spekulasi bahwa ia sedang sakit. Pemerintah mengklaim ia baik-baik saja tetapi melarang segala diskusi mengenai kesehatannya, dengan alasan bahwa itu adalah masalah keamanan nasional.
Lihat Juga :