Siapa Tony Blair? Mantan PM Inggris yang Lembaganya Terlibat Rencana Pembersihan Etnis Gaza Riviera Trump
Kamis, 10 Juli 2025 - 15:34 WIB
loading...
A
A
A
Lembaga ini bergerak di bidang penguatan tata kelola pemerintahan, pembangunan ekonomi, dan strategi modernisasi negara-negara berkembang.
TBI membangun jaringan di berbagai negara, termasuk Nigeria, Rwanda, Arab Saudi, dan UEA. Fokus utamanya adalah membantu pemerintah memperkuat birokrasi dan layanan publik melalui pendekatan teknologi dan kebijakan pro-pasar.
Dalam praktiknya, TBI kerap bekerja sama dengan perusahaan konsultan besar seperti McKinsey, Boston Consulting Group (BCG), dan aktor-aktor bisnis besar lainnya.
Namun, TBI juga menuai kritik karena keterlibatannya dalam proyek-proyek yang kontroversial.
Lembaga ini beberapa kali disorot karena memiliki relasi dengan pemerintah otoriter di Timur Tengah, termasuk dukungan teknis terhadap rezim yang memiliki catatan HAM buruk.
Beberapa pengamat juga mengkritik TBI karena tetap menjalin hubungan erat dengan korporasi dan donatur pro-Israel, yang dianggap bisa memengaruhi netralitas lembaga dalam urusan politik kawasan, khususnya Palestina.
Keterlibatan TBI dalam proyek “Gaza Riviera” muncul ke publik melalui laporan eksklusif Financial Times dan The Guardian.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa lembaga konsultan Boston Consulting Group (BCG) mengembangkan proposal besar untuk merekonstruksi Gaza dengan membangun pelabuhan, resort, kawasan industri, dan infrastruktur modern.
Proyek ini dijuluki “The Great Trust”, dan dianggap sebagai bagian dari upaya Trump dan Netanyahu mengubah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah”—sebuah kawasan wisata dan investasi.
Masalah utamanya adalah, dalam rencana itu juga terdapat opsi relokasi massal warga Gaza ke negara tetangga, seperti Mesir dan Yordania.
TBI dikabarkan terlibat dalam diskusi awal dan pembentukan rencana tersebut. Beberapa staf TBI dilaporkan hadir dalam pertemuan dan ikut membahas dokumen ekonomi dan teknis yang menjadi fondasi proposal.
Meskipun TBI membantah mereka menyetujui atau menandatangani proposal akhir, mereka mengakui telah membaca dokumen, memberikan masukan, dan “menjadi bagian dari diskusi profesional awal.”
Ketika rencana ini bocor dan menuai kritik internasional karena berpotensi menjadi bentuk pembersihan etnis terselubung, TBI mengeluarkan pernyataan mereka “tidak terlibat dalam ide relokasi” dan hanya fokus pada rencana rekonstruksi ekonomi Gaza.
Keterlibatan Tony Blair dan TBI dalam proyek ini segera memicu kemarahan banyak pihak, terutama kalangan aktivis Palestina, akademisi Timur Tengah, dan kelompok HAM internasional.
Mereka menilai proyek “Gaza Riviera” bukanlah sekadar pembangunan ekonomi, tetapi bagian dari rencana sistematis untuk mengosongkan Gaza dari penduduk aslinya.
Blair dianggap menyalahgunakan reputasinya sebagai tokoh pembangunan damai dengan ikut serta, langsung atau tidak langsung, dalam proyek yang berpotensi menjadi pembersihan etnis terselubung.
Banyak yang menyebut proyek itu sebagai bentuk “ethnic cleansing by economic means”.
TBI membangun jaringan di berbagai negara, termasuk Nigeria, Rwanda, Arab Saudi, dan UEA. Fokus utamanya adalah membantu pemerintah memperkuat birokrasi dan layanan publik melalui pendekatan teknologi dan kebijakan pro-pasar.
Dalam praktiknya, TBI kerap bekerja sama dengan perusahaan konsultan besar seperti McKinsey, Boston Consulting Group (BCG), dan aktor-aktor bisnis besar lainnya.
Namun, TBI juga menuai kritik karena keterlibatannya dalam proyek-proyek yang kontroversial.
Lembaga ini beberapa kali disorot karena memiliki relasi dengan pemerintah otoriter di Timur Tengah, termasuk dukungan teknis terhadap rezim yang memiliki catatan HAM buruk.
Beberapa pengamat juga mengkritik TBI karena tetap menjalin hubungan erat dengan korporasi dan donatur pro-Israel, yang dianggap bisa memengaruhi netralitas lembaga dalam urusan politik kawasan, khususnya Palestina.
3. Keterlibatan dalam Rencana “Gaza Riviera”
Keterlibatan TBI dalam proyek “Gaza Riviera” muncul ke publik melalui laporan eksklusif Financial Times dan The Guardian.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa lembaga konsultan Boston Consulting Group (BCG) mengembangkan proposal besar untuk merekonstruksi Gaza dengan membangun pelabuhan, resort, kawasan industri, dan infrastruktur modern.
Proyek ini dijuluki “The Great Trust”, dan dianggap sebagai bagian dari upaya Trump dan Netanyahu mengubah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah”—sebuah kawasan wisata dan investasi.
Masalah utamanya adalah, dalam rencana itu juga terdapat opsi relokasi massal warga Gaza ke negara tetangga, seperti Mesir dan Yordania.
TBI dikabarkan terlibat dalam diskusi awal dan pembentukan rencana tersebut. Beberapa staf TBI dilaporkan hadir dalam pertemuan dan ikut membahas dokumen ekonomi dan teknis yang menjadi fondasi proposal.
Meskipun TBI membantah mereka menyetujui atau menandatangani proposal akhir, mereka mengakui telah membaca dokumen, memberikan masukan, dan “menjadi bagian dari diskusi profesional awal.”
Ketika rencana ini bocor dan menuai kritik internasional karena berpotensi menjadi bentuk pembersihan etnis terselubung, TBI mengeluarkan pernyataan mereka “tidak terlibat dalam ide relokasi” dan hanya fokus pada rencana rekonstruksi ekonomi Gaza.
4. Respons dan Kontroversi
Keterlibatan Tony Blair dan TBI dalam proyek ini segera memicu kemarahan banyak pihak, terutama kalangan aktivis Palestina, akademisi Timur Tengah, dan kelompok HAM internasional.
Mereka menilai proyek “Gaza Riviera” bukanlah sekadar pembangunan ekonomi, tetapi bagian dari rencana sistematis untuk mengosongkan Gaza dari penduduk aslinya.
Blair dianggap menyalahgunakan reputasinya sebagai tokoh pembangunan damai dengan ikut serta, langsung atau tidak langsung, dalam proyek yang berpotensi menjadi pembersihan etnis terselubung.
Banyak yang menyebut proyek itu sebagai bentuk “ethnic cleansing by economic means”.
Lihat Juga :