Negara Ini Akan Bagi-bagi Uang Tunai Besar-besaran kepada Rakyatnya
Minggu, 06 Juli 2025 - 14:10 WIB
loading...
Korea Selatan bersiap untuk membagi-bagikan uang tunai besar-besaran kepada rakyatnya untuk meningkatkan pengeluaran dalam negeri. Foto/Yonhap
A
A
A
SEOUL - Korea Selatan (Korsel) meluncurkan program pemberian uang tunai besar-besaran kepada rakyat. Program ini digambarkan para pejabatnya sebagai "kupon konsumsi" untuk meningkatkan pengeluaran dalam negeri dan menyegarkan kembali ekonomi negara yang sedang lesu.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari anggaran tambahan sebesar 31,8 triliun won (lebih dari Rp377,9 triliun) yang disahkan oleh Majelis Nasional (Parlemen) pada hari Jumat. Program ini dijadwalkan akan dimulai pada 21 Juli dan berlangsung hingga 12 September mendatang.
"Kami akan memastikan persiapan menyeluruh untuk peluncuran pembayaran ini sehingga dapat berfungsi sebagai katalisator pemulihan ekonomi dengan meningkatkan konsumsi dan mendukung mereka yang membutuhkan," kata Wakil Menteri Dalam Negeri Kim Min-jae, yang memimpin gugus tugas antarlembaga yang mengawasi inisiatif tersebut.
Baca Juga: Korea Selatan Hadapi Penurunan Populasi 85% pada Tahun 2125
Semua warga negara yang tinggal di Korea Selatan mulai 18 Juni akan menerima pembayaran satu kali sebesar 150.000 won (Rp1,7 juta).
Pencairan akan dilakukan melalui kartu kredit atau debit, kartu prabayar, atau sertifikat hadiah yang dikeluarkan pemerintah daerah.
Dukungan tambahan akan menargetkan kelompok rentan. Rumah tangga yang hampir miskin dan keluarga dengan orang tua tunggal akan menerima 300.000 won, dan penerima tunjangan hidup dasar akan mendapatkan 400.000 won.
"Mereka yang tinggal di daerah pedesaan akan menerima tambahan 50.000 won untuk mendorong pembangunan daerah yang seimbang," kata Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan, seperti dikutip dari Korea Herald, Minggu (6/7/2025).
Pembayaran tahap kedua, yang direncanakan pada 22 September hingga 31 Oktober, akan memberikan 100.000 won kepada 90% penerima pendapatan terbawah.
Kelayakan penerima akan ditentukan berdasarkan premi asuransi kesehatan nasional, dengan rincian akan diumumkan pada bulan September.
Korea Selatan, ekonomi terbesar keempat di Asia, nyaris mengalami resesi teknis pada tahun 2024 karena pertumbuhan terhenti pada paruh kedua tahun ini, menyusul kontraksi pada kuartal kedua dan pemulihan yang lemah pada kuartal ketiga.
Penurunan tersebut secara luas dikaitkan dengan ketidakstabilan politik dalam negeri, yang berpuncak pada pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol saat itu atas tuduhan pemberontakan setelah dia sempat memberlakukan darurat militer pada bulan Desember.
Presiden Lee Jae-myung yang baru terpilih, yang mulai menjabat pada tanggal 4 Juni, memperkenalkan paket stimulus yang mencakup bantuan tunai dan voucher digital, serta menjanjikan investasi dalam infrastruktur AI untuk mendorong pertumbuhan.
Namun, beberapa ekonom telah memperingatkan kemungkinan dampak inflasi dan risiko jangka panjang terhadap kesehatan fiskal, karena Kementerian Keuangan berencana untuk mendanai langkah-langkah stimulus melalui utang baru, dengan memproyeksikan defisit fiskal sebesar 4,2% dan utang nasional sebesar 49,1% dari PDB.
Inisiatif tersebut merupakan bagian dari anggaran tambahan sebesar 31,8 triliun won (lebih dari Rp377,9 triliun) yang disahkan oleh Majelis Nasional (Parlemen) pada hari Jumat. Program ini dijadwalkan akan dimulai pada 21 Juli dan berlangsung hingga 12 September mendatang.
"Kami akan memastikan persiapan menyeluruh untuk peluncuran pembayaran ini sehingga dapat berfungsi sebagai katalisator pemulihan ekonomi dengan meningkatkan konsumsi dan mendukung mereka yang membutuhkan," kata Wakil Menteri Dalam Negeri Kim Min-jae, yang memimpin gugus tugas antarlembaga yang mengawasi inisiatif tersebut.
Baca Juga: Korea Selatan Hadapi Penurunan Populasi 85% pada Tahun 2125
Semua warga negara yang tinggal di Korea Selatan mulai 18 Juni akan menerima pembayaran satu kali sebesar 150.000 won (Rp1,7 juta).
Pencairan akan dilakukan melalui kartu kredit atau debit, kartu prabayar, atau sertifikat hadiah yang dikeluarkan pemerintah daerah.
Dukungan tambahan akan menargetkan kelompok rentan. Rumah tangga yang hampir miskin dan keluarga dengan orang tua tunggal akan menerima 300.000 won, dan penerima tunjangan hidup dasar akan mendapatkan 400.000 won.
"Mereka yang tinggal di daerah pedesaan akan menerima tambahan 50.000 won untuk mendorong pembangunan daerah yang seimbang," kata Kementerian Dalam Negeri Korea Selatan, seperti dikutip dari Korea Herald, Minggu (6/7/2025).
Pembayaran tahap kedua, yang direncanakan pada 22 September hingga 31 Oktober, akan memberikan 100.000 won kepada 90% penerima pendapatan terbawah.
Kelayakan penerima akan ditentukan berdasarkan premi asuransi kesehatan nasional, dengan rincian akan diumumkan pada bulan September.
Korea Selatan, ekonomi terbesar keempat di Asia, nyaris mengalami resesi teknis pada tahun 2024 karena pertumbuhan terhenti pada paruh kedua tahun ini, menyusul kontraksi pada kuartal kedua dan pemulihan yang lemah pada kuartal ketiga.
Penurunan tersebut secara luas dikaitkan dengan ketidakstabilan politik dalam negeri, yang berpuncak pada pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol saat itu atas tuduhan pemberontakan setelah dia sempat memberlakukan darurat militer pada bulan Desember.
Presiden Lee Jae-myung yang baru terpilih, yang mulai menjabat pada tanggal 4 Juni, memperkenalkan paket stimulus yang mencakup bantuan tunai dan voucher digital, serta menjanjikan investasi dalam infrastruktur AI untuk mendorong pertumbuhan.
Namun, beberapa ekonom telah memperingatkan kemungkinan dampak inflasi dan risiko jangka panjang terhadap kesehatan fiskal, karena Kementerian Keuangan berencana untuk mendanai langkah-langkah stimulus melalui utang baru, dengan memproyeksikan defisit fiskal sebesar 4,2% dan utang nasional sebesar 49,1% dari PDB.
(mas)
Lihat Juga :