Baba Vanga-nya Jepang Ramal Tsunami Dahsyat 5 Juli 2025 Picu Ketakutan, Pakar Angkat Bicara
Kamis, 03 Juli 2025 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Departemen pariwisata telah menyatakan ketidakpercayaan bahwa prediksi komik manga dapat mengakibatkan pembatalan pemesanan tiket yang sebenarnya. Namun, angka-angka tersebut menunjukkan pola yang jelas dari berkurangnya aktivitas perjalanan, terutama dari negara-negara Asia Timur.
Media sosial telah memainkan peran pentingperan fiktif dalam memperkuat klaim manga tersebut. Diskusi berkisar dari skeptis hingga mengkhawatirkan, dengan tanda pagar (tagar) yang terkait dengan prediksi 5 Juli menjadi tren di berbagai platform.
Sifat viral dari postingan ini telah mempersulit informasi faktual untuk menembus kebisingan.
Menambah kecemasan, seorang ahli feng shui Hong Kong juga meramalkan gempa bumi besar antara bulan Juni dan Agustus, memberikan daya tarik lebih lanjut pada gagasan bahwa bencana akan segera terjadi, bahkan tanpa dukungan ilmiah.
Gearoid Reidy dari Bloomberg menyimpulkannya dengan menyoroti ketidakmungkinanan statistik dari prediksi tersebut: "Dua benar-benar merupakan angka ajaib yang hanya sedikit—jika ada—prediktor gempa bumi yang berhasil mencapainya."
Sementara pejabat dan ilmuwan telah mengecam prediksi tersebut sebagai tidak berdasar, mereka terus menekankan pentingnya kesiapsiagaan umum.
Jepang tetap menjadi salah satu negara yang paling rawan gempa bumi di dunia, dan pemerintah mendorong warganya dan pengunjung untuk tetap mendapat informasi melalui saluran resmi.
Seperti yang dicatat oleh Reidy dari Bloomberg: “Bersiaplah menghadapi bencana—bukan karena komik mengatakan demikian, tetapi karena di Jepang, bencana besar berikutnya bukanlah masalah apakah akan terjadi, tetapi kapan.”
Insiden tersebut menjadi pengingat betapa mudahnya ketakutan dapat meningkat di era digital, dan betapa pentingnya bagi lembaga publik untuk merespons dengan cepat dengan informasi yang akurat.
Peran Media Sosial dan Interpretasi Budaya
Media sosial telah memainkan peran pentingperan fiktif dalam memperkuat klaim manga tersebut. Diskusi berkisar dari skeptis hingga mengkhawatirkan, dengan tanda pagar (tagar) yang terkait dengan prediksi 5 Juli menjadi tren di berbagai platform.
Sifat viral dari postingan ini telah mempersulit informasi faktual untuk menembus kebisingan.
Menambah kecemasan, seorang ahli feng shui Hong Kong juga meramalkan gempa bumi besar antara bulan Juni dan Agustus, memberikan daya tarik lebih lanjut pada gagasan bahwa bencana akan segera terjadi, bahkan tanpa dukungan ilmiah.
Gearoid Reidy dari Bloomberg menyimpulkannya dengan menyoroti ketidakmungkinanan statistik dari prediksi tersebut: "Dua benar-benar merupakan angka ajaib yang hanya sedikit—jika ada—prediktor gempa bumi yang berhasil mencapainya."
Kesiapsiagaan atas Kepanikan
Sementara pejabat dan ilmuwan telah mengecam prediksi tersebut sebagai tidak berdasar, mereka terus menekankan pentingnya kesiapsiagaan umum.
Jepang tetap menjadi salah satu negara yang paling rawan gempa bumi di dunia, dan pemerintah mendorong warganya dan pengunjung untuk tetap mendapat informasi melalui saluran resmi.
Seperti yang dicatat oleh Reidy dari Bloomberg: “Bersiaplah menghadapi bencana—bukan karena komik mengatakan demikian, tetapi karena di Jepang, bencana besar berikutnya bukanlah masalah apakah akan terjadi, tetapi kapan.”
Insiden tersebut menjadi pengingat betapa mudahnya ketakutan dapat meningkat di era digital, dan betapa pentingnya bagi lembaga publik untuk merespons dengan cepat dengan informasi yang akurat.
(mas)
Lihat Juga :