3 Negara Paling Sengsara Jika Iran Tutup Selat Hormuz, 2 di Antaranya Punya Bom Nuklir
Senin, 23 Juni 2025 - 15:10 WIB
loading...
A
A
A
Menurut laporan analisis Nikkei Asia, Selat Hormuz adalah nadi kehidupan ekonomi Jepang. Jika ditutup, itu sama artinya Jepang kehilangan oksigen.
Meskipun Jepang memiliki hubungan dagang kuat dengan Arab Saudi dan UEA, akses fisik ke minyak itu tetap melalui Hormuz—dan di situlah letak kerentanannya.
Amerika Serikat akan terdampak, tapi tidak begitu kritis. Alasannya, AS kini menjadi net-exporter energi--sejak 2019, Amerika memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada yang diimpornya.
AS juga memiliki cadangan minyak yang besar, yang mana negara ini memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) lebih dari 370 juta barel per Juni 2025 dan bisa digunakan saat krisis.
Meski demikian, ketika harga minyak global naik otomatis harga BBM di AS juga naik karena pasar energi global terhubung. Ini akan memicu inflasi domestik.
Negara-negara Arab Teluk juga rugi besar. Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas—dan 80–90% ekspor itu melewati Selat Hormuz.
Dampak buruk yang akan dirasakan negara-negara Arab Teluk jika Iran menutup Selat Hormuz adalah pendapatan negara anjlok, karena ekspor minyak terhambat atau dihentikan total.
Selain itu, stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri terancam karena anggaran negara-negara Teluk sangat tergantung dari penjualan minyak mentah.
Meski demikian, Arab Saudi mempunyai jalur pipa minyak Petroline (East-West Pipeline) dari ladang timur ke Laut Merah, kapasitas sekitar 5 juta barel per hari. UAE mempunyai pipa Habshan-Fujairah yang melewati wilayah darat.
Kapasitas pipa alternatif masih jauh di bawah total ekspor normal, sehingga tetap akan ada dampak signifikan.
Meskipun Jepang memiliki hubungan dagang kuat dengan Arab Saudi dan UEA, akses fisik ke minyak itu tetap melalui Hormuz—dan di situlah letak kerentanannya.
Amerika Serikat dan Negara Arab Akan Menderita?
Amerika Serikat akan terdampak, tapi tidak begitu kritis. Alasannya, AS kini menjadi net-exporter energi--sejak 2019, Amerika memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada yang diimpornya.
AS juga memiliki cadangan minyak yang besar, yang mana negara ini memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) lebih dari 370 juta barel per Juni 2025 dan bisa digunakan saat krisis.
Meski demikian, ketika harga minyak global naik otomatis harga BBM di AS juga naik karena pasar energi global terhubung. Ini akan memicu inflasi domestik.
Negara-negara Arab Teluk juga rugi besar. Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas—dan 80–90% ekspor itu melewati Selat Hormuz.
Dampak buruk yang akan dirasakan negara-negara Arab Teluk jika Iran menutup Selat Hormuz adalah pendapatan negara anjlok, karena ekspor minyak terhambat atau dihentikan total.
Selain itu, stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri terancam karena anggaran negara-negara Teluk sangat tergantung dari penjualan minyak mentah.
Meski demikian, Arab Saudi mempunyai jalur pipa minyak Petroline (East-West Pipeline) dari ladang timur ke Laut Merah, kapasitas sekitar 5 juta barel per hari. UAE mempunyai pipa Habshan-Fujairah yang melewati wilayah darat.
Kapasitas pipa alternatif masih jauh di bawah total ekspor normal, sehingga tetap akan ada dampak signifikan.
(mas)
Lihat Juga :