3 Alasan Iran Ancam 'Menggembok' Selat Hormuz, Salah Satunya Balasan atas Serangan AS
Senin, 23 Juni 2025 - 14:12 WIB
loading...
Ada tiga alasan logis mengapa Iran ancam tutup total Selat Hormuz setelah tiga situs nuklirnya diserang AS. Foto/Alma Research and Education Center
A
A
A
JAKARTA - Hanya butuh 14 bom Bunker Buster GBU-57 Amerika Serikat (AS) untuk mengguncang bukan hanya perut bumi Fordow dan Natanz di Iran, tetapi juga geopolitik Selat Hormuz. Setelah AS melancarkan Operasi Midnight Hammer dan menghantam tiga situs nuklir Iran pada Sabtu malam lalu, Teheran merespons dengan mengancam menutup total Selat Hormuz.
Ancaman Teheran ini bisa menimbulkan gejolak ekonomi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur vital 30% ekspor minyak dunia.
Ancaman negara Islam tersebut bukan gertakan kosong. Pada Minggu (22/6/2026), Parlemen Iran dilaporkan telah menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz, dan kini keputusan akhir ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Baca Juga: Balas Serangan AS, Parlemen Iran Dilaporkan Setuju Tutup Selat Hormuz
Tapi apa sebenarnya motivasi Iran di balik ancaman itu? Mengapa sebuah negara yang juga bergantung pada jalur tersebut berani mempertaruhkan ekonomi dan reputasi globalnya?
Tiga Alasan Iran Siap "Menggembok" Selat Hormuz
Serangan udara Amerika Serikat ke situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan merupakan pukulan strategis telak bagi Iran. Ketiga lokasi tersebut adalah tulang punggung program nuklir nasional yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade.
Menurut Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, 14 bom Bunker Buster GBU-57 dijatuhkan oleh tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit, didukung oleh lebih dari 125 pesawat tempur.
Situs nuklir Fordow—yang dibangun di dalam gunung—dihancurkan hingga menyisakan lubang besar selebar 20 meter.
Iran tidak mampu membalas dengan cara konvensional yang setara. Sistem pertahanannya terbukti gagal mendeteksi jet-jet siluman AS. Maka, opsi balasan paling masuk akal bagi Iran adalah mengancam infrastruktur global musuh secara asimetris—yaitu energi dunia.
“Penutupan Selat Hormuz akan berdampak langsung pada pasar minyak global dan ekonomi Barat,” kata analis pertahanan dari Al Jazeera, Hossein Rahimi.
Penutupan selat bukan sekadar pembalasan, tetapi pengganda tekanan geopolitik.
Iran memahami betul bahwa Selat Hormuz adalah satu dari sedikit "tombol krisis global" yang masih mereka miliki.
Selat selebar 39 km ini merupakan jalur laut tunggal bagi negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait untuk mengekspor minyak.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz.
Ini setara dengan 30% konsumsi minyak global.
Dengan mengancam menutup selat, Iran memaksa AS dan sekutunya berhitung ulang. Iran juga menempatkan tekanan pada negara Teluk agar menjauh dari blok Barat. Lebih lanjut, Iran menambah tekanan pada pasar minyak dunia yang sensitif pasca-pandemi Covid-19 dan perang Ukraina.
Lebih penting lagi, kartu Selat Hormuz bisa digunakan untuk menekan Dewan Keamanan PBB agar menghindari sanksi tambahan dijatuhkan pada Iran. Langkah ini juga memaksa negosiasi ulang perjanjian nuklir (JCPOA Iran) yang telah "dihancurkan" AS. Selain itu, tindakan tersebut bisa memperkuat posisi Iran dalam blok Timur bersama China dan Rusia.
“Hormuz bukan cuma selat air. Ia adalah alat negosiasi global,” tulis kolumnis Foreign Affairs, Vali Nasr.
Ancaman penutupan Hormuz memiliki efek psikologis instan: harga minyak melonjak.
Pada Senin (23/6/2025), WTI (West Texas Intermediate) naik 6,1% menjadi USD79 per barel dan Brent naik 5,8% ke level USD83.
Investor global langsung bereaksi atas potensi terganggunya aliran minyak dari Teluk Persia. Bahkan, perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute dan menaikkan biaya asuransi.
Risiko penutupan Selat Hormuz mengirim sinyal ketidakstabilan pada semua pasar komoditas, menurut laporan CNBC.
Ancaman Teheran ini bisa menimbulkan gejolak ekonomi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur vital 30% ekspor minyak dunia.
Ancaman negara Islam tersebut bukan gertakan kosong. Pada Minggu (22/6/2026), Parlemen Iran dilaporkan telah menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz, dan kini keputusan akhir ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Baca Juga: Balas Serangan AS, Parlemen Iran Dilaporkan Setuju Tutup Selat Hormuz
Tapi apa sebenarnya motivasi Iran di balik ancaman itu? Mengapa sebuah negara yang juga bergantung pada jalur tersebut berani mempertaruhkan ekonomi dan reputasi globalnya?
Tiga Alasan Iran Siap "Menggembok" Selat Hormuz
1. Balasan Asimetris atas Serangan AS
Serangan udara Amerika Serikat ke situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan merupakan pukulan strategis telak bagi Iran. Ketiga lokasi tersebut adalah tulang punggung program nuklir nasional yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade.
Menurut Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, 14 bom Bunker Buster GBU-57 dijatuhkan oleh tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit, didukung oleh lebih dari 125 pesawat tempur.
Situs nuklir Fordow—yang dibangun di dalam gunung—dihancurkan hingga menyisakan lubang besar selebar 20 meter.
Iran tidak mampu membalas dengan cara konvensional yang setara. Sistem pertahanannya terbukti gagal mendeteksi jet-jet siluman AS. Maka, opsi balasan paling masuk akal bagi Iran adalah mengancam infrastruktur global musuh secara asimetris—yaitu energi dunia.
“Penutupan Selat Hormuz akan berdampak langsung pada pasar minyak global dan ekonomi Barat,” kata analis pertahanan dari Al Jazeera, Hossein Rahimi.
Penutupan selat bukan sekadar pembalasan, tetapi pengganda tekanan geopolitik.
2. Kartu Tawar Strategis di Meja Global
Iran memahami betul bahwa Selat Hormuz adalah satu dari sedikit "tombol krisis global" yang masih mereka miliki.
Selat selebar 39 km ini merupakan jalur laut tunggal bagi negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait untuk mengekspor minyak.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz.
Ini setara dengan 30% konsumsi minyak global.
Dengan mengancam menutup selat, Iran memaksa AS dan sekutunya berhitung ulang. Iran juga menempatkan tekanan pada negara Teluk agar menjauh dari blok Barat. Lebih lanjut, Iran menambah tekanan pada pasar minyak dunia yang sensitif pasca-pandemi Covid-19 dan perang Ukraina.
Lebih penting lagi, kartu Selat Hormuz bisa digunakan untuk menekan Dewan Keamanan PBB agar menghindari sanksi tambahan dijatuhkan pada Iran. Langkah ini juga memaksa negosiasi ulang perjanjian nuklir (JCPOA Iran) yang telah "dihancurkan" AS. Selain itu, tindakan tersebut bisa memperkuat posisi Iran dalam blok Timur bersama China dan Rusia.
“Hormuz bukan cuma selat air. Ia adalah alat negosiasi global,” tulis kolumnis Foreign Affairs, Vali Nasr.
3. Efek Psikologis dan Ekonomi Dunia
Ancaman penutupan Hormuz memiliki efek psikologis instan: harga minyak melonjak.
Pada Senin (23/6/2025), WTI (West Texas Intermediate) naik 6,1% menjadi USD79 per barel dan Brent naik 5,8% ke level USD83.
Investor global langsung bereaksi atas potensi terganggunya aliran minyak dari Teluk Persia. Bahkan, perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute dan menaikkan biaya asuransi.
Risiko penutupan Selat Hormuz mengirim sinyal ketidakstabilan pada semua pasar komoditas, menurut laporan CNBC.
(mas)
Lihat Juga :