Media Iran: Berapa Banyak Peti Mati Tentara AS yang Akan Dipulangkan Trump demi Membela Israel?

Minggu, 22 Juni 2025 - 06:54 WIB
loading...
Media Iran: Berapa Banyak...
Media Iran menerbitkan laporan yang menanyakan berapa banyak peti mati tentara AS yang akan dipulang Presiden Donald Trump dari Timur Tengah demi membela Israel. Foto/Tehran Times
A A A
TEHERAN - Media Iran, Tehran Times, menerbitkan laporan yang menanyakan berapa banyak peti mati tentara Amerika Serikat (AS) yang akan dipulang Presiden Donald Trump dari Timur Tengah demi membela Israel. Itu isyarat bahwa pangkalan Amerika di kawasan itu telah dibidik militer Teheran.

Menurut laporan tersebut, Asia Barat tengah menyaksikan skenario yang telah lama ditakutkan. Selama bertahun-tahun, analis, pejabat, dan politisi memperingatkan Israel dan Amerika Serikat bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu gelombang pembalasan yang menghancurkan dari Angkatan Bersenjata Iran dan membuka pintu gerbang bagi pertikaian regional dengan gaung internasional.

"How many coffins will Trump send home for the sake of Israel? (Berapa banyak peti mati yang akan dikirim Trump pulang demi Israel?)" demikian judulartikel tersebut, yang diterbitkan Sabtu (21/6/2025).

Baca Juga: Iran Sembunyikan Material Nuklir dari Serangan Israel, Zionis dan AS Makin Sulit Menemukannya

Namun pada 13 Juni, Israel dan Amerika memutuskan bahwa mereka bersedia menanggung beban pembalasan itu jika itu berarti menghilangkan program nuklir Iran dan mengganggu stabilitas pemerintah Iran.

Analis menduga bahwa rencana Israel adalah menyerang Iran dengan dukungan Amerika, sehingga melindungi AS dari konsekuensi langsung. Laporan itu melanjutkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump yakin bahwa setelah membunuh komandan tertinggi Iran dan menyerang situs nuklir dan militer negara itu, Iran akan kekurangan kepemimpinan dan sumber daya untuk melancarkan serangan balasan yang efektif. "Mereka juga berasumsi bahwa rakyat Iran akan mendukung agresor asing itu, membantu membubarkan sisa-sisa pemerintahan Iran," lanjut laporan Tehran Times.

Menurut media Iran tersebut, delapan hari setelah perang, tidak satu pun dari tujuan tersebut yang terpenuhi. Situs nuklir dan kemampuan militer Iran sebagian besar masih utuh. Israel tidak dapat lagi mempertahankan kampanye udara intensif yang diluncurkannya pada hari pertama. Rakyat Iran lebih bersatu dari sebelumnya dan terlebih lagi, generasi baru pemimpin militer Iran, yang mengambil alih komando dalam beberapa jam setelah pembunuhan pendahulu mereka, melepaskan rentetan rudal tanpa henti ke wilayah pendudukan.

"Kota-kota besar Israel, termasuk Tel Aviv, Haifa, dan Be'er Sheva, telah mengalami kerusakan yang signifikan, dan kepercayaan publik merosot karena rakyat Israel menyadari bahwa otoritas mereka memulai perang yang tidak dapat mereka menangkan, membahayakan orang-orang yang telah mereka janjikan akan memasuki ruang 'paling aman' bagi orang Yahudi," imbuh laporan tersebut.

Seruan untuk campur tangan Amerika semakin meningkat di Israel. Media-media berbahasa Ibrani semakin banyak melaporkan kurangnya sumber daya militer dan ekonomi rezim Israel untuk mempertahankan perang yang berkepanjangan dan tak terduga dengan Iran, terutama mengingat persenjataan rudal Iran yang tersisa dalam jumlah besar.

Pejabat rezim Zionis dilaporkan mendesak AS untuk campur tangan secara langsung, dan meluluhlantakkan situs nuklir Iran dengan amunisi penghancur bunker yang tidak dimiliki Israel, sehingga memungkinkan Israel untuk menyatakan kemenangan.

Sementara itu, Iran telah mengakui bantuan Amerika Serikat kepada Israel telah menyebabkan kematian lebih dari 400 warga Iran dan cedera pada lebih dari 2.000 orang lainnya, banyak di antaranya adalah wanita dan anak-anak.

Namun, Iran, setidaknya untuk saat ini, memilih untuk mengecualikan AS dari pembalasan langsung. Teheran terus menargetkan situs militer, politik, dan strategis yang penting di Israel, tetapi telah memperingatkan bahwa mereka akan menganggap keterlibatan langsung AS dalam perang sebagai garis merah, yang memicu respons terhadap kepentingan Amerika.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
3 Alasan Iran Serang...
3 Alasan Iran Serang Kuwait dan Bahrain, Ada Pergerakan Membantu Militer AS
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Hina Bosnia, Reporter...
Hina Bosnia, Reporter TV AS Akhirnya Minta Maaf
Gempa Dahsyat Venezuela,...
Gempa Dahsyat Venezuela, Bandara Internasional Ditutup hingga Warga Berhamburan ke Jalan
Pengadilan Kriminal...
Pengadilan Kriminal Internasional Bekukan Uang Eks Presiden Filipina Duterte
Rekomendasi
Mengapa Kakbah Menjadi...
Mengapa Kakbah Menjadi Kiblat Umat Islam? Ini Makna Filosofisnya
11 Kombes Pol Pecah...
11 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026, Ini Namanya
Kemendikdasmen Buka...
Kemendikdasmen Buka Seleksi PPG Calon Guru 2026, Cek Syarat dan Bidang Studinya
Berita Terkini
47 Pejabat Ditangkap...
47 Pejabat Ditangkap karena Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Pesawat Jatuh di Prancis,...
Pesawat Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved