Siapa Negara Penjajah Pertama di Dunia?
Selasa, 10 Juni 2025 - 13:14 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1526, mereka melakukan pelayaran budak transatlantik pertama, dari Pantai Afrika ke Brasil. Ini menjadi contoh bagi kekuatan Eropa lainnya untuk melakukan hal yang sama di koloni mereka, yang segera menjadi hal yang umum.
Perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 12 juta hingga 12,8 juta orang Afrika diangkut dengan cara ini ke Amerika, dalam 400 tahun, dengan sekitar 2 juta orang kehilangan nyawa selama perjalanan dan banyak lagi yang terbunuh setelah mereka tiba.
Praktik ini, selain kengerian yang ditimbulkannya pada masa itu, memiliki dampak yang masih kita lihat hingga kini, hampir 500 tahun kemudian. Perbudakan mulai dilihat sebagai pemisahan ras, karena sebagian besar budak adalah orang Afrika. Seiring berjalannya waktu, pembenaran mulai muncul (seperti eugenika dan bahkan cara-cara keagamaan untuk membenarkannya), yang menjadi dasar rasisme seperti yang kita kenal sekarang.
Meskipun mereka menghapus perbudakan di seluruh kekaisaran pada tahun 1869, mereka mempertahankan praktik "buruh kontrak pribumi", yang semuanya kecuali nama adalah budak, hingga berakhirnya kediktatoran.
Hal ini membuat ekonomi Portugis tumbuh pesat, dengan jaringan perdagangan luar negeri dan perdagangan kolonial yang menyumbang sekitar 1/5 dari pendapatan nasional Portugis.
Pada Pertempuran Alcácer-Quibir, tahun 1578, ketika Portugal, di bawah Raja Sebastian, mencoba menaklukkan kota Afrika Utara lainnya, mereka kehilangan rajanya. Negara tersebut menjadi bagian dari persatuan dinasti dengan Spanyol yang berlangsung hingga tahun 1640, ketika akhirnya memperoleh kemerdekaannya lagi.
Hal ini memicu pemikiran yang dikenal di Portugal sebagai "Sebastianisme", keyakinan bahwa Raja Sebastian suatu hari akan kembali, di hari yang berkabut, dan membawa Portugal kembali ke kejayaannya sebelumnya. Kata ini masih digunakan hingga kini untuk menggambarkan nostalgia orang Portugis terhadap apa yang mereka "miliki" dan keyakinan bahwa saat ini mereka "bukan apa-apa".
Perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 12 juta hingga 12,8 juta orang Afrika diangkut dengan cara ini ke Amerika, dalam 400 tahun, dengan sekitar 2 juta orang kehilangan nyawa selama perjalanan dan banyak lagi yang terbunuh setelah mereka tiba.
Praktik ini, selain kengerian yang ditimbulkannya pada masa itu, memiliki dampak yang masih kita lihat hingga kini, hampir 500 tahun kemudian. Perbudakan mulai dilihat sebagai pemisahan ras, karena sebagian besar budak adalah orang Afrika. Seiring berjalannya waktu, pembenaran mulai muncul (seperti eugenika dan bahkan cara-cara keagamaan untuk membenarkannya), yang menjadi dasar rasisme seperti yang kita kenal sekarang.
Meskipun mereka menghapus perbudakan di seluruh kekaisaran pada tahun 1869, mereka mempertahankan praktik "buruh kontrak pribumi", yang semuanya kecuali nama adalah budak, hingga berakhirnya kediktatoran.
3. Membangun Nagasaki hingga Timor Timur
Mereka terus menjelajahi dan mencari perdagangan di seluruh dunia, dari Afrika, melewati Arabia, dan mencapai Jepang, tempat mereka membangun kota Nagasaki. Beberapa pos terdepan dibangun di sepanjang jalan, banyak di antaranya telah berkembang menjadi koloni, seperti Goa, Daman, Diu, dan Timor Timur.Hal ini membuat ekonomi Portugis tumbuh pesat, dengan jaringan perdagangan luar negeri dan perdagangan kolonial yang menyumbang sekitar 1/5 dari pendapatan nasional Portugis.
4. Kalah dengan Negara Eropa Lainnya
Namun, Kekaisaran mulai menurun ketika Belanda, Inggris, dan Prancis ikut serta dalam permainan kolonial dan perdagangan. Mereka mulai mengepung atau menaklukkan pos-pos perdagangan dan wilayah Portugis yang tersebar, sehingga mengurangi kekuatan mereka. Umumnya dikatakan bahwa orang Portugis hebat dalam menemukan sesuatu, tetapi buruk dalam mempertahankannya.Pada Pertempuran Alcácer-Quibir, tahun 1578, ketika Portugal, di bawah Raja Sebastian, mencoba menaklukkan kota Afrika Utara lainnya, mereka kehilangan rajanya. Negara tersebut menjadi bagian dari persatuan dinasti dengan Spanyol yang berlangsung hingga tahun 1640, ketika akhirnya memperoleh kemerdekaannya lagi.
Hal ini memicu pemikiran yang dikenal di Portugal sebagai "Sebastianisme", keyakinan bahwa Raja Sebastian suatu hari akan kembali, di hari yang berkabut, dan membawa Portugal kembali ke kejayaannya sebelumnya. Kata ini masih digunakan hingga kini untuk menggambarkan nostalgia orang Portugis terhadap apa yang mereka "miliki" dan keyakinan bahwa saat ini mereka "bukan apa-apa".
5. Tak Lagi Menjadi Negara Adidaya
Setelah itu, negara tersebut tidak pernah menjadi negara adidaya seperti dulu. Negara tersebut kehilangan beberapa koloni (termasuk koloni terbesarnya, Brasil) dan rute perdagangan, ibu kotanya dihancurkan oleh gempa bumi pada tahun 1755, dan diduduki selama Perang Napoleon.Lihat Juga :