Mengapa PM Israel Benjamin Netanyahu Muncul di Terowongan Dekat Masjid Al-Aqsa? Ini Analisisnya
Minggu, 08 Juni 2025 - 14:39 WIB
loading...
A
A
A
Netanyahu Berbohong
Kemunculan Netanyahu di dalam terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap oleh warga Palestina sebagai unjuk kekuatan yang sengaja provokatif dan upaya untuk merebut kembali tanah simbolis setelah kegagalannya di Gaza.
Abdullah Marouf, seorang peneliti yang mengkhususkan diri dalam urusan Masjid Al-Aqsa, memberi tahu Palestine Chronicle bahwa tindakan kelompok pemukim fanatik di Israel baru-baru ini telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baru sebulan yang lalu, selama Paskah, salah satu serangan terbesar yang pernah ada ke Al-Aqsa terjadi, dengan 2.268 pemukim memasuki kompleks masjid dalam satu hari.
“Ini belum pernah terjadi dalam sejarah konflik ini,” kata Marouf. “Apa yang kita lihat adalah perubahan besar dalam cara para pemukim mendekati situs tersebut—bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi juga sebagai tempat ibadah.”
Dia merujuk pada kesepakatan John Kerry tahun 2015, yang menegaskan bahwa orang Yahudi akan diizinkan untuk mengunjungi Al-Aqsa tetapi tidak boleh berdoa di sana, sementara umat Muslim tetap memiliki hak eksklusif untuk beribadah di dalam kompleksnya.
“Hal ini berubah pada tahun 2024, ketika para pemukim mulai mendeklarasikan Al-Aqsa sebagai tempat ibadah orang Yahudi, dan Itamar Ben-Gvir secara terbuka mengizinkan semua jenis ritual keagamaan. Sejak saat itu, kita telah melihat perubahan dramatis dalam status quo,” imbuh dia.
Marouf juga menanggapi klaim Netanyahu saat berjalan melalui terowongan di bawah Silwan—bagian dari apa yang disebut Israel sebagai "Kota Daud".
"Itu tidak masuk akal," katanya. "Menurut penggalian Israel sendiri—seperti yang dilakukan oleh arkeolog Eilat Mazar—tembok kuno Yerusalem berasal dari 4.500 tahun yang lalu. Itu lima belas abad sebelum Raja Daud [King David] diyakini tiba di kota itu. Ketika Netanyahu mengeklaim bahwa dia berjalan di tanah leluhurnya, dia hanya berbohong."
Menurut Marouf, aksi Netanyahu adalah propaganda murni—upaya untuk secara retroaktif membuat legitimasi bagi pendudukan ilegal.
"Dan propaganda ini tidak dapat diterima—secara akademis, historis, dan politis," simpulnya. "Seluruh dunia masih menolak untuk mengakui pendudukan Israel atas Yerusalem Timur."
(mas)
Lihat Juga :