Siapa Yasser Abu Shabab? Pemimpin Gangster Gaza yang Dipersenjatai Israel untuk Melawan Hamas
Minggu, 08 Juni 2025 - 01:15 WIB
loading...
A
A
A
Dalam satu insiden yang dilaporkan, anak buahnya menembaki konvoi bantuan yang berjarak 100 meter dari tank Israel, tanpa ada tanggapan dari para tentara. Serangan udara Israel kemudian menewaskan enam perwira Palestina yang mencoba mencegah penjarahan.
"Orang-orang bersenjata memukuli pengemudi dan mengambil semua makanan jika mereka tidak dibayar [uang perlindungan]," kata seorang pejabat senior di Gaza kepada Haaretz.
Baca Juga: Aliansi Eropa - Yahudi di Ujung Tanduk
Bagi sebagian orang, ia mewakili bentuk baru tatanan lokal, kekuatan yang diperlukan di wilayah yang tidak memiliki pemerintahan. Halaman Facebook Abu Shabab menggambarkannya sebagai "pemimpin akar rumput yang menentang korupsi dan penjarahan," dan para pendukungnya berpendapat bahwa ia melakukan apa yang gagal dilakukan Hamas: melindungi rakyat dan memastikan bantuan sampai ke tempat yang membutuhkan.
Hal ini mengubah Yasser Abu Shabab dari orang kuat lokal menjadi calon pesaing kekuasaan di Gaza selatan, yang secara langsung menantang cengkeraman Hamas yang telah lama ada. Bagi Israel, ia bisa menjadi pemimpin lokal yang mereka harapkan: seseorang yang dapat menguasai suatu wilayah, setidaknya untuk saat ini, sementara perang terus berlanjut dan Hamas terusir.
Bagi yang lain, ia adalah pengkhianat, wajah dari model baru yang berbahaya: seorang pemimpin Palestina yang didukung bukan oleh keinginan rakyat, tetapi oleh kekuatan militer asing.
Mereka melihat Abu Shabab dan anak buahnya sebagai kolaborator yang bekerja sama dengan tentara Israel, bukan sebagai pelindung rakyat mereka. Karena itu, sebagian besar warga Palestina tidak memercayainya atau menerimanya sebagai alternatif nyata bagi Hamas, terlepas dari otoritarianisme atau kegagalan Hamas.
Namun tanpa legitimasi dari penduduk Gaza, cengkeramannya pada kekuasaan tetap goyah.
"Orang-orang bersenjata memukuli pengemudi dan mengambil semua makanan jika mereka tidak dibayar [uang perlindungan]," kata seorang pejabat senior di Gaza kepada Haaretz.
Baca Juga: Aliansi Eropa - Yahudi di Ujung Tanduk
5. Kolaborator atau Pelindung?
Kebangkitan Abu Shabab telah menciptakan perpecahan yang dalam di dalam masyarakat Palestina.Bagi sebagian orang, ia mewakili bentuk baru tatanan lokal, kekuatan yang diperlukan di wilayah yang tidak memiliki pemerintahan. Halaman Facebook Abu Shabab menggambarkannya sebagai "pemimpin akar rumput yang menentang korupsi dan penjarahan," dan para pendukungnya berpendapat bahwa ia melakukan apa yang gagal dilakukan Hamas: melindungi rakyat dan memastikan bantuan sampai ke tempat yang membutuhkan.
Hal ini mengubah Yasser Abu Shabab dari orang kuat lokal menjadi calon pesaing kekuasaan di Gaza selatan, yang secara langsung menantang cengkeraman Hamas yang telah lama ada. Bagi Israel, ia bisa menjadi pemimpin lokal yang mereka harapkan: seseorang yang dapat menguasai suatu wilayah, setidaknya untuk saat ini, sementara perang terus berlanjut dan Hamas terusir.
Bagi yang lain, ia adalah pengkhianat, wajah dari model baru yang berbahaya: seorang pemimpin Palestina yang didukung bukan oleh keinginan rakyat, tetapi oleh kekuatan militer asing.
Mereka melihat Abu Shabab dan anak buahnya sebagai kolaborator yang bekerja sama dengan tentara Israel, bukan sebagai pelindung rakyat mereka. Karena itu, sebagian besar warga Palestina tidak memercayainya atau menerimanya sebagai alternatif nyata bagi Hamas, terlepas dari otoritarianisme atau kegagalan Hamas.
Namun tanpa legitimasi dari penduduk Gaza, cengkeramannya pada kekuasaan tetap goyah.
6. Hanya Efektif untuk Jangka Pendek
Beberapa pengamat membandingkan Pasukan Populer Abu Shabab dengan 'Dewan Kebangkitan' di Irak - milisi suku yang didanai AS untuk mengalahkan al-Qaeda pada pertengahan tahun 2000-an. Kelompok-kelompok tersebut efektif dalam jangka pendek tetapi akhirnya bubar atau berubah menjadi bermusuhan setelah pasukan asing mundur.Lihat Juga :