Lebanon Ungkap Israel Tolak Usulan Periksa Lokasi di Pinggiran Beirut sebelum Serangan Udara

Sabtu, 07 Juni 2025 - 07:15 WIB
loading...
Lebanon Ungkap Israel...
Satu gedung hancur total dan kerusakan terjadi pada bangunan dan kendaraan di sekitarnya setelah serangan udara Israel terhadap wilayah Dahieh di Beirut, Lebanon pada 6 Juni 2025. Foto/Houssam Shbaro/Anadolu Agency
A A A
BEIRUT - Militer Lebanon mengumumkan pada Jumat (6/6/2025) bahwa Israel menolak usulannya untuk memeriksa lokasi di pinggiran selatan Beirut untuk mencegah serangan udara. Lebanon memperingatkan pelanggaran berkelanjutan terhadap kesepakatan gencatan senjata dapat menyebabkan penangguhan kerja sama dengan mekanisme pemantauan gencatan senjata PBB.

Militer Lebanon menuduh Israel "terus melakukan agresi terhadap Lebanon," mengutip serangan udara baru-baru ini yang menargetkan pinggiran selatan Beirut dan Lebanon selatan pada Kamis malam.

"Meskipun kami telah melakukan upaya koordinasi dengan komite pemantauan untuk mencegah serangan, dan mengirimkan patroli untuk memeriksa beberapa lokasi, pihak Israel menolak usulan tersebut," ungkap militer Lebanon.

Pada Kamis malam, jet tempur Israel melancarkan delapan serangan udara di pinggiran selatan Beirut, setelah peringatan evakuasi.

Agresi itu menandai serangan Israel keempat dan paling intens di daerah itu sejak perjanjian gencatan senjata 27 November 2024 antara Israel dan Lebanon.

Secara paralel, pesawat tempur dan pesawat nirawak Israel melancarkan dua serangan lagi ke kota Ain Qana di Lebanon selatan.

Militer Lebanon mengecam serangan tersebut, menegaskan kembali komitmennya terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang menetapkan gencatan senjata setelah perang tahun 2006 antara kelompok Lebanon Hizbullah dan Israel.

Resolusi tersebut menyerukan penghentian permusuhan, pengerahan Pasukan Sementara PBB di Lebanon, dan dukungan bagi kendali tentara Lebanon atas wilayah selatan.

“Pelanggaran terus-menerus oleh musuh terhadap perjanjian dan penolakan untuk bekerja sama dengan komite pemantauan melemahkan peran komite dan tentara,” ungkap militer, memperingatkan hal ini dapat mendorong tentara untuk “membekukan kerja sama dengan komite terkait inspeksi lokasi.”

Menanggapi kecaman Lebanon, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam Lebanon dengan menyatakan Lebanon “tidak akan menikmati perdamaian atau stabilitas” tanpa “keamanan Israel.”

Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon pada 8 Oktober 2023, yang meningkat menjadi perang skala penuh pada 23 September 2024.

Menurut data resmi, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, melukai lebih dari 17.000 orang, dan membuat hampir 1,4 juta orang mengungsi.

Pasukan Israel telah melakukan serangan hampir setiap hari di Lebanon selatan, yang diklaim menargetkan aktivitas Hizbullah meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah dicapai November lalu.

Gencatan senjata tersebut mengakhiri perang lintas perbatasan selama berbulan-bulan antara Israel dan Hizbullah, yang meningkat menjadi konflik skala penuh pada bulan September.

Otoritas Lebanon telah melaporkan hampir 3.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk kematian 208 orang dan cedera pada lebih dari 500 orang sejak perjanjian tersebut.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, Israel seharusnya menarik diri sepenuhnya dari Lebanon selatan paling lambat tanggal 26 Januari, tetapi batas waktu diperpanjang hingga tanggal 18 Februari setelah Tel Aviv menolak mematuhinya.

Israel masih mempertahankan kehadiran militer di lima pos perbatasan.

Baca juga: Abu Ubaidah Puji Operasi Elite Al-Qassam, 4 Tentara Israel Tewas
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Menakjubkan! Detik-Detik...
Menakjubkan! Detik-Detik Danau Kawah Gunung Filipina Meletus Dahsyat, Picu Tsunami
Rekomendasi
Pilot Pesawat AMA PK-RCY...
Pilot Pesawat AMA PK-RCY yang Dibakar di Bandara Ipdeheik Papua Tewas
Profil Christina Endarwati...
Profil Christina Endarwati Ketua Majelis Hakim Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Para Legenda Bola Kecam...
Para Legenda Bola Kecam Penalti Belgia di Piala Dunia 2026: Senegal Dirampok Wasit
Berita Terkini
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Tolak Rencana Israel Menyerang Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved