Terungkap, Israel Persenjatai Geng Kriminal Abu Shabab di Gaza untuk Lemahkan Hamas

Jum'at, 06 Juni 2025 - 15:02 WIB
loading...
Terungkap, Israel Persenjatai...
Israel persenjatai geng kriminal Abu Shabab di Gaza untuk melemahkan Hamas. Foto/QNN
A A A
GAZA - Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Avigdor Lieberman mengungkap bahwa pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu telah mempersenjatai geng kriminal Abu Shabab di Jalur Gaza. Itu bagian dari strategi untuk melemahkan kelompok Hamas.

“Israel mentransfer senapan serbu dan senjata ringan ke geng-geng kriminal di Gaza,” kata Lieberman, pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, kepada KAN, yang dikutip Anadolu, Jumat (6/6/2025).

Dia mengatakan senjata-senjata itu ditransfer ke geng-geng kriminal tersebut atas perintah Netanyahu.

Baca Juga: Dinas Keamanan Gaza Peringatkan Tentara Bayaran Berada di Sebelah Timur Rafah

“Menurut pendapat saya, Kabinet belum menyetujui transfer senjata, tetapi kepala Badan Keamanan Umum (Shin Bet) mengetahuinya,” imbuh dia.

“Kita berbicara tentang apa yang setara dengan ISIS (Daesh) di Gaza. Tidak ada yang menjamin bahwa senjata-senjata ini tidak akan diarahkan ke Israel. Kami tidak memiliki sarana untuk memantau atau melacak,” kata Lieberman.

Pemimpin oposisi, Yair Lapid, mengkritik keras langkah pemerintah PM Netanyahu atas keputusannya mempersenjatai Abu Shabab.

“Setelah Netanyahu berhenti memberikan jutaan dolar kepada Hamas, dia beralih memberikan senjata kepada organisasi yang dekat dengan ISIS di Gaza, semuanya spontan, semuanya tanpa perencanaan strategis, semuanya mengarah pada lebih banyak bencana,” kritik Lapid di X.

Menurut laporan KAN, kantor Netanyahu tidak membantah telah mempersenjatai kelompok-kelompok kriminal di Gaza.

“Israel berupaya mengalahkan Hamas melalui berbagai cara, berdasarkan rekomendasi dari semua kepala lembaga keamanan,” kata kantor tersebut dalam tanggapannya kepada KAN.

Sedangkan Shin Bet menolak mengomentari pernyataan Lieberman.

Media Israel sebelumnya melaporkan munculnya kelompok kriminal bersenjata di Gaza yang menyerang warga Palestina di bawah perlindungan tentara Israel.

Senjata-senjata tersebut, termasuk senjata ringan yang disita dari Hamas, ditransfer ke milisi Yasser Abu Shabab yang beroperasi di sebelah timur Rafah di wilayah yang dikuasai oleh tentara Israel, menurut laporan Al-Jazeera.

Laporan tersebut mencatat bahwa mempersenjatai milisi Abu Shabab merupakan inisiatif oleh badan keamanan dan kepemimpinan politik Israel.

Surat kabar Haaretz mengutip dua sumber yang mengatakan bahwa para milisi yang terkait dengan Abu Shabab baru baru-baru ini mulai beroperasi di Gaza selatan.

Menurut laporan surat kabar tersebut, video yang beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir tampaknya mendukung klaim itu, yang memperlihatkan warga Palestina bersenjata di Gaza mengenakan perlengkapan militer standar, termasuk rompi, helm, dan lencana seperti bendera Palestina dan tambalan berlabel "Layanan Anti-Teror" dalam bahasa Inggris dan Arab.

Sementara kelompok milisi tersebut mengeklaim mengamankan konvoi bantuan kemanusiaan yang memasuki Gaza, laporan Times of Israel mengungkap bahwa mereka justru menjarah konvoi tersebut.

Quds News Network (QNN) melaporkan bahwa Abu Shabab memiliki sejarah penyelundupan narkoba dan kolaborasi dengan kelompok ekstremis. Gengnya, yang terdiri dari lebih dari 200 orang bersenjata, telah mendirikan pangkalan berbenteng di zona yang dikuasai Israel di Rafah.

Kawasan tersebut, yang disebut sebagai "zona kematian", biasanya tidak dapat diakses oleh penduduk Gaza, yang selanjutnya menimbulkan kecurigaan keterlibatan Israel dalam aktivitas geng tersebut, menurut laporan QNN.

Minggu lalu, Brigade Al-Qassam Hamas merilis rekaman yang memperlihatkan kelompok Abu Shabab terlibat dalam operasi penyamaran Israel.

Beberapa video ini memperlihatkan anak buah Yasser Abu Shabab bekerja secara menyamar bersama unit penyamaran Israel yang menargetkan warga Palestina di Rafah.

Sebagai tanggapan, keluarga terkemuka Abu Shabab di Gaza mengumumkan penolakan penuh mereka terhadap Abu Shabab karena bekerja sama dengan Israel.

Laporan tersebut mencatat bahwa pernyataan yang dikeluarkan oleh para tetua dan pemimpin keluarga Abu Shabab, "menggambarkan tindakan tersebut sebagai keputusan yang menyakitkan tetapi perlu", dan muncul setelah semakin banyak bukti tentang peran Yasser Abu Shabab dalam operasi yang didukung Israel selama genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

Sejak Israel mengingkari gencatan senjata pada 18 Maret, militer Zionis telah membunuh dan melukai ribuan warga Palestina di seluruh Jalur Gaza melalui pengeboman udara berdarah dan berkelanjutan.

Pada 7 Oktober 2023, setelah operasi perlawanan Palestina di Israel selatan, militer Israel melancarkan perang genosida terhadap warga Palestina, menewaskan lebih dari 54.000 orang, melukai lebih dari 125.000 orang, dengan lebih dari 14.000 orang masih hilang.

Meskipun banyak negara di seluruh dunia mengutuk genosida Israel, hanya sedikit yang dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban Israel.

Israel saat ini sedang diselidiki atas kejahatan genosida oleh Mahkamah Internasional, sementara PM Netanyahu yang dituduh sebagai penjahat perang sekarang secara resmi diburu oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Putin Puji Trump: Pemimpin...
Putin Puji Trump: Pemimpin yang Tak Mudah Dipengaruhi
Rekomendasi
RSM Indonesia Umumkan...
RSM Indonesia Umumkan Bergabungnya Mahendra Siregar sebagai Senior Advisor
Sepatu Pink Jadi Tren...
Sepatu Pink Jadi Tren di Piala Dunia 2026
Meidra Idol Ternyata...
Meidra Idol Ternyata Tomboy dan Belum Pernah Pacaran
Berita Terkini
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved