Putin: Rezim Ukraina Berubah Menjadi Organisasi Teroris
Kamis, 05 Juni 2025 - 06:53 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin sebut rezim Ukraina telah berubah menjadi organisasi teroris. Foto/Atlantic Council
A
A
A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan rezim Ukraina "yang tidak sah" telah menggunakan cara mengorganisir serangan teroris untuk mencoba mengintimidasi Moskow. Menurutnya, cara itu diambil karena Kyiv menghadapi kerugian besar di medan perang.
"Tindakan sabotase kereta api baru-baru ini di Wilayah Bryansk dan Kursk Rusia tidak diragukan lagi merupakan tindakan teroris,” kata Putin.
"Keputusan untuk melakukan kejahatan tersebut, tentu saja, dibuat oleh pimpinan politik di Ukraina," katanya lagi, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (5/6/2025).
Baca Juga: Ukraina Bombardir 5 Pangkalan Udara Rusia: Lebih dari 40 Pesawat Dihantam, Termasuk Bomber Nuklir
“Serangan terhadap penduduk sipil itu disengaja,” lanjut orang nomor satu Rusia tersebut.
"Dan ini hanya menegaskan kekhawatiran kami bahwa rezim yang sudah tidak sah di Kyiv, yang pernah merebut kekuasaan, secara bertahap berubah menjadi organisasi teroris, dan para sponsornya menjadi kaki tangan para teroris," paparnya.
Presiden Putin menuduh Ukraina dan para pendukung Barat-nya telah berusaha mengalahkan Rusia secara strategis di medan perang. Sekarang, imbuh dia, Kyiv mengubah taktik di tengah meningkatnya kerugian dan kemunduran di sepanjang garis depan.
“Hari ini, di tengah kerugian besar dan mundurnya seluruh garis kontak, kepemimpinan Kyiv telah beralih ke pengorganisasian aksi teroris dalam upaya untuk mengintimidasi Rusia,” kata Putin.
Meskipun demikian, menurutnya, pejabat Ukraina meminta jeda dalam pertempuran dan mengusulkan pertemuan di tingkat tertinggi.
“Tetapi bagaimana pertemuan seperti itu dapat diadakan dalam kondisi seperti ini?” tanya Putin. “Apa yang perlu dibicarakan? Siapa yang melakukan negosiasi dengan mereka yang mengandalkan teror—dengan teroris?”
Pemimpin Rusia itu menekankan, "Kekuasaan, bagi rezim [Kyiv], tampaknya lebih penting daripada perdamaian, lebih penting daripada nyawa manusia."
Dua insiden sabotase kereta terjadi pada Sabtu malam dan Minggu pagi. Pada insiden pertama, sebuah jembatan ambruk di depan kereta penumpang yang sedang melaju di Wilayah Bryansk. Insiden kedua terjadi di Wilayah Kursk, ketika sebuah jembatan kereta api ambruk di bawah kereta barang yang sedang melaju. Secara total, tujuh orang tewas dan lebih dari 120 orang terluka.
Kedua serangan itu terjadi sesaat sebelum putaran kedua perundingan Rusia-Ukraina di Istanbul dan di tengah meningkatnya serangan pesawat nirawak Kyiv ke Rusia, yang menurut Moskow ditujukan untuk menggagalkan proses perdamaian.
"Tindakan sabotase kereta api baru-baru ini di Wilayah Bryansk dan Kursk Rusia tidak diragukan lagi merupakan tindakan teroris,” kata Putin.
"Keputusan untuk melakukan kejahatan tersebut, tentu saja, dibuat oleh pimpinan politik di Ukraina," katanya lagi, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (5/6/2025).
Baca Juga: Ukraina Bombardir 5 Pangkalan Udara Rusia: Lebih dari 40 Pesawat Dihantam, Termasuk Bomber Nuklir
“Serangan terhadap penduduk sipil itu disengaja,” lanjut orang nomor satu Rusia tersebut.
"Dan ini hanya menegaskan kekhawatiran kami bahwa rezim yang sudah tidak sah di Kyiv, yang pernah merebut kekuasaan, secara bertahap berubah menjadi organisasi teroris, dan para sponsornya menjadi kaki tangan para teroris," paparnya.
Presiden Putin menuduh Ukraina dan para pendukung Barat-nya telah berusaha mengalahkan Rusia secara strategis di medan perang. Sekarang, imbuh dia, Kyiv mengubah taktik di tengah meningkatnya kerugian dan kemunduran di sepanjang garis depan.
“Hari ini, di tengah kerugian besar dan mundurnya seluruh garis kontak, kepemimpinan Kyiv telah beralih ke pengorganisasian aksi teroris dalam upaya untuk mengintimidasi Rusia,” kata Putin.
Meskipun demikian, menurutnya, pejabat Ukraina meminta jeda dalam pertempuran dan mengusulkan pertemuan di tingkat tertinggi.
“Tetapi bagaimana pertemuan seperti itu dapat diadakan dalam kondisi seperti ini?” tanya Putin. “Apa yang perlu dibicarakan? Siapa yang melakukan negosiasi dengan mereka yang mengandalkan teror—dengan teroris?”
Pemimpin Rusia itu menekankan, "Kekuasaan, bagi rezim [Kyiv], tampaknya lebih penting daripada perdamaian, lebih penting daripada nyawa manusia."
Dua insiden sabotase kereta terjadi pada Sabtu malam dan Minggu pagi. Pada insiden pertama, sebuah jembatan ambruk di depan kereta penumpang yang sedang melaju di Wilayah Bryansk. Insiden kedua terjadi di Wilayah Kursk, ketika sebuah jembatan kereta api ambruk di bawah kereta barang yang sedang melaju. Secara total, tujuh orang tewas dan lebih dari 120 orang terluka.
Kedua serangan itu terjadi sesaat sebelum putaran kedua perundingan Rusia-Ukraina di Istanbul dan di tengah meningkatnya serangan pesawat nirawak Kyiv ke Rusia, yang menurut Moskow ditujukan untuk menggagalkan proses perdamaian.
(mas)
Lihat Juga :