Ukraina Bombardir 'Pearl Harbor Rusia', Ini Penjelasan Sistem Rudal S-400 Gagal Beraksi

Selasa, 03 Juni 2025 - 11:50 WIB
loading...
Ukraina Bombardir Pearl...
Ukraina bombardir Pearl Harbor Rusia, 41 pesawat terkena serangan. Kinerja sistem pertahanan rudal S-400 Rusia dianggap gagal atasi serangan. Foto/SBU/India TV News
A A A
MOSKOW - Gelombang serangan drone Ukraina dengan nama sandi "Operasi Jaring Laba-laba" pada hari Minggu terlah membombardir lima pangkalan udara Rusia. Kini kinerja sistem pertahanan rudal S-400 Moskow dipertanyakan karena gagal mengatasi serangan dahsyat tersebut, yang digambarkan para pakar sebagai tragedi "Pearl Harbor Rusia".

Militer Ukraina mengatakan 41 pesawat Rusia, termasuk pesawat pengebom nuklir, terkena serangan dalam operasi tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bangga dengan Operasi Jaring Laba-laba karena berhasil menargetkan pesawat pengebom strategis bernilai tinggi di dalam wilayah Rusia—lebih dari 4.000 km dari perbatasan Ukraina.

Baca Juga: Ukraina Bombardir 5 Pangkalan Udara Rusia: Lebih dari 40 Pesawat Dihantam, Termasuk Bomber Nuklir

Serangan tersebut diatur oleh badan intelijen Ukraina, SBU, menargetkan pangkalan udara di Belaya (Siberia timur), Dyagilevo (wilayah Ryazan), Ivanovo Severny (Ivanovo), Olenya (Murmansk), dan Ukrainka (wilayah Amur).

Namun, skala dan keberhasilan serangan tersebut telah menimbulkan pertanyaan kritis: Bagaimana Rusia, yang dilengkapi dengan beberapa sistem pertahanan udara tercanggih di dunia seperti S-400 dan S-500, gagal mencegah serangan tersebut?

Menurut pensiunan Letnan Jenderal India Vishnu Chaturvedi, jaringan pertahanan udara Rusia secara teknis "tidak gagal".

Sebaliknya, jaringan tersebut dilewati. Drone-drone Ukraina dilaporkan diluncurkan bukan dari seberang perbatasan atau melalui rute udara, tetapi dari dalam wilayah Rusia sendiri—kemungkinan dari kontainer tersembunyi yang dipasang di truk.

Dengan jarak tempuh yang jauh lebih pendek, kata Chaturvedi, drone-drone tersebut mencapai targetnya dalam hitungan detik atau menit, sehingga pasukan Rusia tidak punya banyak waktu untuk bereaksi.

Yang terpenting, drone-drone tersebut terbang pada ketinggian yang sangat rendah, di bawah jangkauan deteksi radar sistem jarak jauh seperti S-400, yang dirancang untuk mencegat ancaman dari ketinggian tinggi dan jarak jauh. Diperkirakan 117 drone diluncurkan dalam operasi tersebut, yang membuat pertahanan Rusia kewalahan.

Chaturvedi menekankan bahwa kegagalan itu bukan pada sistem pertahanan rudal S-400, tetapi pada intelijen Rusia.

Ukraina dilaporkan telah merencanakan operasi tersebut selama lebih dari setahun, dengan mengangkut pesawat nirawak ke Rusia, mungkin melalui Kazakhstan. Namun, imbuh dia, badan-badan intelijen Rusia gagal mendeteksi ancaman tersebut.

"Sistem S-400 sangat mampu mencegat target hingga sejauh 400 km, termasuk rudal dan pesawat nirawak yang terbang tinggi. Namun, sistem itu tidak pernah dirancang untuk serangan jarak dekat dan ketinggian rendah yang diluncurkan dari dalam wilayahnya sendiri," katanya, seperti dikutip India TV News, Selasa (3/6/2025).

Ini bukan pertama kalinya pesawat nirawak Ukraina menerobos pertahanan Rusia. Antara Agustus 2023 hingga 2024, Ukraina berhasil menghancurkan beberapa sistem S-400, termasuk baterai radarnya.

Namun, Chaturvedi mencatat bahwa hal ini tidak menyiratkan kelemahan pada sistem pertahanan canggih tersebut. Faktor penyebabnya bisa jadi karena kurangnya pengalaman operator, kesalahan penempatan, atau kurangnya pertahanan berlapis yang mendukung S-400—sesuatu yang telah dipastikan India dalam penempatannya sendiri.

Chaturvedi memperingatkan bahwa Rusia tidak mungkin membiarkan serangan 1 Juni itu tidak ditanggapi.

"Presiden [Rusia Vladimir] Putin akan membalas dengan kekuatan. Kyiv dan Sumy bisa menghadapi serangan yang lebih intensif," katanya, seraya menambahkan bahwa ketergantungan Presiden Zelensky pada dukungan Barat telah menimbulkan kerugian besar.

"Zelensky telah mengubah negara yang dulunya berkembang pesat menjadi zona perang. Bahkan jika Ukraina keluar dari konflik, akan butuh waktu 15-20 tahun untuk membangun kembali lembaga dan ekonominya," paparnya.

Sementara Rusia juga menderita dalam perang yang berkepanjangan, serangan pesawat nirawak dan ketidakmampuan Rusia untuk mencegahnya telah mengalihkan perhatian pada meningkatnya kerentanan bahkan militer paling maju ketika dihadapkan dengan peperangan udara asimetris dan berbiaya rendah.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Dari Sampang, Rihul...
Dari Sampang, Rihul CZ Bangun Peluang Lewat Konten Digital
Prabowo Respons Usulan...
Prabowo Respons Usulan Tambahan Beasiswa Doktor bagi Dosen: Akan Kita Tindak Lanjuti
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Berita Terkini
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Infografis
Inggris Saat Ini Menghadapi...
Inggris Saat Ini Menghadapi Ancaman 800 Rudal Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved