Trump Ultimatum Netanyahu: Israel Jangan Serang Iran di Tengah Perundingan Nuklir!
Kamis, 29 Mei 2025 - 10:05 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump memberi tahu PM Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak menyerang Iran di tengah perundingan nuklir Washington-Teheran. Foto/Ilustrasi SINDO News
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa dia telah memberi tahu Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak menyerang Iran di tengah perundingan nuklir Washington-Teheran. Dia mengatakan serangan seperti itu akan menjadi "tidak pantas".
"Ya, saya ingin jujur, ya saya telah melakukannya," kata Trump ketika ditanya apakah dia telah memberi tahu Netanyahu dalam panggilan telepon pekan lalu untuk tidak mengambil tindakan apa pun yang dapat mengganggu perundingan Washington dengan Teheran.
Ketika didesak tentang apa yang dia katakan kepada PM Netanyahu, Trump menjawab: "Saya hanya mengatakan bahwa saya tidak menganggapnya pantas, kami sedang berdiskusi dengan mereka."
Baca Juga: Netanyahu Sebut Rencana Israel Serang Situs Nuklir Iran Hoax
"Saya katakan kepadanya bahwa hal ini tidak pantas dilakukan saat ini karena kami sudah sangat dekat dengan solusinya," papar Trump.
"Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan, dan jika kami dapat membuat kesepakatan, kami akan menyelamatkan banyak nyawa," imbuh orang nomor satu Amerika tersebut, seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/5/2025).
Sementara itu, Netanyahu menepis laporan New York Times yang mengeklaim bahwa militer Israel akan menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mengganggu perundingan nuklir antara Washington dan Teheran. Netanyahu menyebut laporan tersebut sebagai "berita palsu" atau "hoax".
Laporan yang diterbitkan pada hari Rabu (28/5/2025) tersebut mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa para pemimpin Israel khawatir Presiden Trump mungkin mengizinkan Iran untuk mempertahankan kemampuan pengayaan nuklirnya—yang sangat ditentang Israel.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa intelijen AS yakin Israel dapat melancarkan serangan terhadap Iran hanya dengan pemberitahuan tujuh jam, bahkan jika kesepakatan diplomatik tercapai.
"Berita palsu", demikian komentar singkat kantor Netanyahu dalam menanggapi laporan tersebut.
Teheran dan Washington dalam beberapa minggu terakhir telah mengadakan lima putaran perundingan yang berfokus pada masalah tersebut—kontak tingkat tertinggi mereka sejak AS pada tahun 2018 menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 selama masa jabatan pertama Trump.
Iran mengatakan sebelumnya pada hari Rabu bahwa mereka mungkin mempertimbangkan untuk mengizinkan inspektur AS dengan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memeriksa fasilitas nuklirnya jika kesepakatan dicapai dengan Amerika Serikat.
Tetapi Israel telah berulang kali mengancam tindakan militer terhadap musuh bebuyutannya tersebut dan laporan media AS pekan lalu mengatakan Israel sedang membuat persiapan untuk menyerang situs nuklir Iran meskipun pembicaraan AS-Iran sedang berlangsung.
Trump tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap Iran, tetapi mengatakan dia menginginkan ruang untuk membuat kesepakatan terlebih dahulu—dan juga mengatakan bahwa Israel, dan bukan Amerika Serikat—akan memimpin dalam serangan semacam itu.
Iran telah lama dituduh oleh kekuatan Barat berusaha mengembangkan senjata nuklir—sebuah klaim yang secara konsisten dibantah Teheran, bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil yang damai.
"Ya, saya ingin jujur, ya saya telah melakukannya," kata Trump ketika ditanya apakah dia telah memberi tahu Netanyahu dalam panggilan telepon pekan lalu untuk tidak mengambil tindakan apa pun yang dapat mengganggu perundingan Washington dengan Teheran.
Ketika didesak tentang apa yang dia katakan kepada PM Netanyahu, Trump menjawab: "Saya hanya mengatakan bahwa saya tidak menganggapnya pantas, kami sedang berdiskusi dengan mereka."
Baca Juga: Netanyahu Sebut Rencana Israel Serang Situs Nuklir Iran Hoax
"Saya katakan kepadanya bahwa hal ini tidak pantas dilakukan saat ini karena kami sudah sangat dekat dengan solusinya," papar Trump.
"Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan, dan jika kami dapat membuat kesepakatan, kami akan menyelamatkan banyak nyawa," imbuh orang nomor satu Amerika tersebut, seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/5/2025).
Sementara itu, Netanyahu menepis laporan New York Times yang mengeklaim bahwa militer Israel akan menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mengganggu perundingan nuklir antara Washington dan Teheran. Netanyahu menyebut laporan tersebut sebagai "berita palsu" atau "hoax".
Laporan yang diterbitkan pada hari Rabu (28/5/2025) tersebut mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa para pemimpin Israel khawatir Presiden Trump mungkin mengizinkan Iran untuk mempertahankan kemampuan pengayaan nuklirnya—yang sangat ditentang Israel.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa intelijen AS yakin Israel dapat melancarkan serangan terhadap Iran hanya dengan pemberitahuan tujuh jam, bahkan jika kesepakatan diplomatik tercapai.
"Berita palsu", demikian komentar singkat kantor Netanyahu dalam menanggapi laporan tersebut.
Teheran dan Washington dalam beberapa minggu terakhir telah mengadakan lima putaran perundingan yang berfokus pada masalah tersebut—kontak tingkat tertinggi mereka sejak AS pada tahun 2018 menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 selama masa jabatan pertama Trump.
Iran mengatakan sebelumnya pada hari Rabu bahwa mereka mungkin mempertimbangkan untuk mengizinkan inspektur AS dengan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memeriksa fasilitas nuklirnya jika kesepakatan dicapai dengan Amerika Serikat.
Tetapi Israel telah berulang kali mengancam tindakan militer terhadap musuh bebuyutannya tersebut dan laporan media AS pekan lalu mengatakan Israel sedang membuat persiapan untuk menyerang situs nuklir Iran meskipun pembicaraan AS-Iran sedang berlangsung.
Trump tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap Iran, tetapi mengatakan dia menginginkan ruang untuk membuat kesepakatan terlebih dahulu—dan juga mengatakan bahwa Israel, dan bukan Amerika Serikat—akan memimpin dalam serangan semacam itu.
Iran telah lama dituduh oleh kekuatan Barat berusaha mengembangkan senjata nuklir—sebuah klaim yang secara konsisten dibantah Teheran, bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil yang damai.
(mas)
Lihat Juga :