Arab Saudi Tuntut Keadilan Bagi Palestina
Selasa, 08 September 2020 - 06:46 WIB
loading...
A
A
A
Penasihat Gedung Putih Jared Kushner berharap negara Arab yang lain dapat segera memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel dalam beberapa bulan ke depan. Pangeran Mohammed dan Kushner telah berdiskusi tentang pentingnya pemulihan negosiasi perdamaian antara Palestina dan Israel setelah UEA menormalisasi hubungan diplomatik. (Baca juga: Gegara Resesi, Singapura Mulai Tak Ramah Pada TKA)
UEA merupakan negara Arab ketiga yang mengakui keberadaan Israel setelah Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994. Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel menghentikan pencaplokan wilayah di Tepi Barat. Bagi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, ini merupakan capaian bersejarah mengingat pemimpin Israel jarang yang sukses menormalisasi hubungan dengan negara Arab.
Meski demikian, perubahan di lapangan sangat kecil. Warga Palestina pesimistis Israel akan memenuhi janjinya, apalagi pergi dari kawasan strategis dan bersejarah seperti Yerusalem. Namun, UEA tetap optimistis dan berharap Palestina akan merdeka dan meraih perdamaian. Beberapa negara Arab juga tampak optimistis dengan adanya aksi nyata.
Sebelumnya, reaksi negara Arab dalam berbagai isu Palestina selalu berujung canggung. Pada akhir 2017, AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Para pemimpin Arab pun sontak mengajukan protes dan marah. Namun, tak ada yang mampu bertindak lebih dari itu karena mereka tak mengakui keberadaan Israel sebagai negara.
Hubungan tidak resmi antara negara Arab dan Israel juga sebenarnya sudah terbangun dalam bidang keamanan sejak beberapa dekade silam. Pasalnya, kedua belah pihak memiliki musuh yang sama, yakni Iran. Hubungan dalam bidang politik, budaya, dan ekonomi juga mulai membaik belakangan ini. Salah satu tandanya dengan diundangnya Israel dalam 2020 Dubai Expo. (Baca juga: Bisnis Esek-Esek Terancam Tinggal Cerita Gara-Gara Teledildonik)
UEA merupakan negara Arab ketiga yang mengakui keberadaan Israel setelah Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994. Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel menghentikan pencaplokan wilayah di Tepi Barat. Bagi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, ini merupakan capaian bersejarah mengingat pemimpin Israel jarang yang sukses menormalisasi hubungan dengan negara Arab.
Meski demikian, perubahan di lapangan sangat kecil. Warga Palestina pesimistis Israel akan memenuhi janjinya, apalagi pergi dari kawasan strategis dan bersejarah seperti Yerusalem. Namun, UEA tetap optimistis dan berharap Palestina akan merdeka dan meraih perdamaian. Beberapa negara Arab juga tampak optimistis dengan adanya aksi nyata.
Sebelumnya, reaksi negara Arab dalam berbagai isu Palestina selalu berujung canggung. Pada akhir 2017, AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Para pemimpin Arab pun sontak mengajukan protes dan marah. Namun, tak ada yang mampu bertindak lebih dari itu karena mereka tak mengakui keberadaan Israel sebagai negara.
Hubungan tidak resmi antara negara Arab dan Israel juga sebenarnya sudah terbangun dalam bidang keamanan sejak beberapa dekade silam. Pasalnya, kedua belah pihak memiliki musuh yang sama, yakni Iran. Hubungan dalam bidang politik, budaya, dan ekonomi juga mulai membaik belakangan ini. Salah satu tandanya dengan diundangnya Israel dalam 2020 Dubai Expo. (Baca juga: Bisnis Esek-Esek Terancam Tinggal Cerita Gara-Gara Teledildonik)
Lihat Juga :