Kenapa India dan Pakistan Menjadi Musuh Bebuyutan ? Ini Sejarah Lengkapnya

Selasa, 13 Mei 2025 - 13:13 WIB
loading...
Kenapa India dan Pakistan...
Pakistan dan India merupakan dua negara yang menjadi musuh bebuyutan. Foto/X/@haveigotnews
A A A
ISLAMABAD - India dan Pakistan kini tengah jadi dua negara yang banyak disorot dunia. Konflik keduanya semakin memanas dan bahkan hingga timbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.

Tidak hanya itu, masing-masing negara juga mulai mengklaim kemenangan mereka sendiri terkait perang ini setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan akhir pekan lalu.

Terkait konflik yang sedang berlangsung ini, rupanya masih banyak orang yang belum mengetahui latar belakang dari permusuhan India dan Pakistan. Berikut ini penjelasan tentang sejarah konflik antar kedua negara.

Sejarah Konflik India dan Pakistan

Konflik antara India dan Pakistan merupakan salah satu perseteruan geopolitik paling kompleks dan berkepanjangan di dunia modern.

Sejak pemisahan India pada tahun 1947, kedua negara telah terlibat dalam serangkaian perang, krisis diplomatik, dan ketegangan militer yang terus berulang. Inti dari konflik ini adalah wilayah Kashmir, yang hingga kini masih menjadi sumber utama perselisihan.

Baca Juga: Jenderal India Tak Setuju Perang Habis-habisan Melawan Pakistan: Ini Bukan Film Bollywood!

Pada tahun 1947, setelah pembagian British India, wilayah Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim diperintah oleh seorang maharaja Hindu yang memilih bergabung dengan India.

Keputusan ini memicu kemarahan Pakistan dan menyebabkan Perang India-Pakistan pertama pada tahun 1947–1948. Perang ini berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB, namun tidak menyelesaikan status Kashmir secara permanen.

Perang kedua terjadi pada tahun 1965, ketika Pakistan melancarkan Operasi Gibraltar untuk menyusupkan pasukan ke Kashmir dengan tujuan memicu pemberontakan. Namun, operasi ini gagal dan berujung pada perang besar yang menyebabkan ribuan korban jiwa. Gencatan senjata kembali tercapai melalui intervensi diplomatik Uni Soviet dan Amerika Serikat, menghasilkan Deklarasi Tashkent.

Pada tahun 1971, konflik kembali memanas, kali ini terkait dengan krisis di Pakistan Timur (sekarang Bangladesh). India mendukung gerakan kemerdekaan di wilayah tersebut, yang menyebabkan perang ketiga antara India dan Pakistan. Perang ini berakhir dengan kemenangan India dan kemerdekaan Bangladesh, serta penandatanganan Perjanjian Simla yang menetapkan Garis Kontrol (Line of Control) di Kashmir.

Meskipun telah terjadi beberapa upaya perdamaian, ketegangan tetap tinggi. Pada tahun 1999, konflik Kargil meletus ketika pasukan Pakistan dan militan menyusup ke wilayah India di Kargil. India berhasil merebut kembali wilayah tersebut setelah pertempuran sengit, namun hubungan kedua negara kembali memburuk.

Sejak akhir 1980-an, wilayah Kashmir menjadi pusat pemberontakan bersenjata yang didukung oleh kelompok militan. India menuduh Pakistan mendukung kelompok-kelompok ini, sementara Pakistan menyatakan bahwa mereka hanya memberikan dukungan moral dan diplomatik kepada rakyat Kashmir. Konflik ini telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan pelanggaran hak asasi manusia di kedua belah pihak.

Serangan teroris besar, seperti serangan Mumbai pada tahun 2008 dan serangan Pulwama pada tahun 2019, semakin memperburuk hubungan kedua negara. India menanggapi dengan melakukan serangan udara ke wilayah Pakistan, yang memicu ketegangan militer dan meningkatkan risiko eskalasi konflik.
Wikipedia

Pada tahun 2025, ketegangan kembali meningkat setelah serangan terhadap wisatawan di Kashmir yang menewaskan puluhan orang. India menuduh kelompok militan yang berbasis di Pakistan sebagai pelaku, sementara Pakistan membantah keterlibatan. Serangan ini memicu serangkaian serangan udara dan artileri antara kedua negara, dengan korban jiwa di kedua belah pihak.

Amerika Serikat, yang sebelumnya enggan terlibat, akhirnya memediasi gencatan senjata untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, gencatan senjata ini rapuh dan sering dilanggar, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran. Upaya mediasi internasional seringkali terhambat oleh ketidakpercayaan dan kepentingan politik domestik masing-masing negara.

Salah satu isu krusial lainnya adalah Perjanjian Air Indus, yang telah menjadi sumber ketegangan baru. India mengancam akan mengurangi aliran air ke Pakistan, yang sangat bergantung pada sungai-sungai tersebut untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Langkah ini dianggap sebagai taktik tekanan yang dapat memperburuk hubungan kedua negara.

Selain konflik militer, hubungan sosial dan budaya antara India dan Pakistan juga terpengaruh. Pertukaran budaya, seperti pertandingan kriket dan kerja sama seni, telah berkurang drastis. Dulu, kriket menjadi jembatan diplomasi, namun kini pertandingan antara kedua negara jarang terjadi karena alasan keamanan dan politik.

Meskipun telah terjadi berbagai upaya perdamaian, termasuk pertemuan puncak dan dialog bilateral, hasilnya sering kali tidak bertahan lama. Setiap kali terjadi serangan teroris atau insiden militer, proses perdamaian kembali terhenti. Ketidakpercayaan yang mendalam dan tekanan politik domestik membuat penyelesaian konflik menjadi sangat sulit.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Usai Dikawal Rieke Diah...
Usai Dikawal Rieke Diah Pitaloka, Kasus Nikita Mirzani Kini Dipantau Komisi Yudisial
Pupuk Kaltim Perkuat...
Pupuk Kaltim Perkuat Komitmen Bangun Ekonomi Inklusif
Ramalan Nyeleneh Dukun...
Ramalan Nyeleneh Dukun Ghana Viral: Argentina Tersingkir, Portugal Juara Piala Dunia 2026
Berita Terkini
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Infografis
Sejarah Boikot Olahraga...
Sejarah Boikot Olahraga Dunia dan Ancaman Jerman Mundur dari Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved