Bill Gates dan Bisnis Vaksin: Sumbang Rp2,6 Triliun tapi Minta Uji Vaksin TBC pada Rakyat Indonesia

Jum'at, 09 Mei 2025 - 10:01 WIB
loading...
Bill Gates dan Bisnis...
Miliarder AS Bill Gates memberikan dana hibah Rp2,6 triliun kepada Indonesia. Namun, dia minta vaksin TBC besutannya diujikan kepada rakyat Indonesia. Foto/KTVU
A A A
JAKARTA - Bill Gates miliarder Amerika Serikat (AS) dikenal sebagai pendiri Microsoft. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini, dia sibuk dengan bisnis vaksin.

Melalui Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF), sang miliarder telah memberikan dana hibah kepada Indonesia. Namun, diaingin Indonesia jadi tempat uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC) yang dikembangkannya.

Sejak tahun 2009, BMGF telah menyalurkan lebih dari USD159 juta (Rp2,6 triliun) kepada Indonesia, terutama untuk sektor kesehatan.

Dana tersebut digunakan untuk berbagai inisiatif, termasuk pengadaan vaksin dan penguatan kapasitas produksi vaksin di dalam negeri.

Baca Juga: Bill Gates Berikan Dana Hibah Rp2,6 Triliun ke Indonesia

Salah satu contoh nyata adalah dukungan terhadap Bio Farma, perusahaan farmasi milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang kini mampu memproduksi dua miliar dosis vaksin polio setiap tahun.

Gates menggelontorkan puluhan miliar dolar ke berbagai program imunisasi di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.

Namun, di balik citra filantropinya, muncul pertanyaan besar: apakah kekuasaan Gates dalam urusan vaksin terlalu besar untuk dibiarkan begitu saja?

Sejak tahun 2000, BMGF telah menyumbangkan lebih dari USD50 miliar untuk sektor kesehatan global, menjadikannya salah satu donor terbesar untuk organisasi seperti WHO, GAVI, dan CEPI.

Di GAVI, misalnya, yayasan Gates menjadi penyumbang kedua terbesar setelah pemerintah Inggris, dengan donasi mencapai lebih dari USD 4 miliar.

Di sisi lain, Gates juga tercatat pernah berinvestasi langsung ke perusahaan biofarmasi, seperti BioNTech dan CureVac—dua nama besar dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Menurut data dari Forbes dan SEC, Gates Foundation membeli saham BioNTech senilai USD55 juta pada 2019, yang nilainya melonjak saat pandemi melanda.

“Tidak boleh ada satu orang pun—sekalipun dermawan—yang memiliki pengaruh sebesar itu terhadap kebijakan kesehatan global,” ujar Dr David McCoy dari University College London kepada The Lancet pada 2020.

Pengaruh Gates semakin mencolok saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dia terlibat dalam peluncuran inisiatif COVAX dan menyumbang ke WHO saat Amerika Serikat menghentikan pendanaan.

Namun, program ini dikritik karena distribusi vaksin yang timpang—negara-negara berkembang tetap tertinggal.

Kontroversi juga sempat muncul dalam program vaksin HPV di India tahun 2009, yang disponsori oleh PATH, mitra Gates Foundation. Program ini dihentikan setelah beberapa kematian remaja perempuan dan temuan parlemen India terkait kurangnya pengawasan dan pelanggaran etika.

Di Indonesia, perdebatan serupa muncul. “Filantropi besar seharusnya memperkuat sistem kesehatan lokal, bukan menggantikannya dengan pendekatan global yang kadang tak memahami konteks lokal,” kata Dr Siti Mardiyah, mantan Menteri Kesehatan Indonesia yang juga pakar bioetika dari Universitas Gadjah Mada.

Meski begitu, banyak pihak juga mengakui peran besar Gates dalam memberantas polio, mempercepat distribusi vaksin malaria, dan mendanai riset penyakit tropis yang sering diabaikan.

Kini, dunia dihadapkan pada dilema: antara memanfaatkan dana dan jaringan Gates yang sangat besar, atau membatasi pengaruhnya demi menjaga akuntabilitas publik.

Peran Bill Gates dalam Dunia Vaksin


Sejak didirikan pada tahun 2000, BMGF telah menyumbangkan lebih dari USD50 miliar ke berbagai sektor, termasuk kesehatan global. Fokus utama yayasan ini adalah:

♦Vaksinasi massal (seperti polio, malaria, dan Covid-19).
♦Penelitian vaksin inovatif (misalnya vaksin malaria R21/Matrix-M).
♦Peningkatan sistem distribusi imunisasi di negara berkembang.

Pengaruh Bill Gates di Organisasi Kesehatan Global


Bill Gates juga menjadi donatur dan pemegang pengaruh besar di beberapa organisasi kesehatan global. Dua di antaranya adalah:

♦GAVI, the Vaccine Alliance, di mana Gates Foundation adalah pendonor terbesar kedua setelah pemerintah Inggris. Sejak 2000, Gates menyumbang lebih dari USD4 miliar ke GAVI.
♦WHO (World Health Organization), di mana yayasan Gates adalah salah satu penyumbang non-pemerintah terbesar ke WHO, mengalahkan banyak negara.


Kritik dan Kekhawatiran Publik

1. Sentralisasi Kekuasaan di Tangan Filantropis


Beberapa ahli dan jurnalis menyoroti bagaimana Gates, meski bukan pejabat publik atau ilmuwan medis, memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan global tentang vaksin dan penyakit menular.

2. Potensi Konflik Kepentingan dengan Perusahaan Farmasi


Gates Foundation diketahui menginvestasikan dana ke perusahaan farmasi.

Contohnya BioNTech (pengembang vaksin Covid-19 Pfizer), di mana Gates Foundation menginvestasikan USD55 juta pada tahun 2019. Saham itu kemudian meningkat nilainya secara signifikan saat pandemi.

Kemudian ada CureVac, perusahaan Jerman yang menerima dana riset dari Gates.

Kritik muncul karena BMGF bisa mendapat keuntungan finansial dari investasi yang sejajar dengan keputusan kebijakan vaksinasi global yang turut mereka pengaruhi.

3. Program Eksperimental di Negara Berkembang


Beberapa program vaksinasi yang didukung Gates di Afrika dan Asia Selatan telah dikritik karena minimnya pengawasan etis, kurangnya persetujuan informasi yang benar dari peserta, penolakan dan protes dari komunitas lokal.

Contohnya program vaksin HPV di India pada 2009 yang melibatkan remaja perempuan berusia 9–15 tahun mengalami kematian dan efek samping. Proyek ini kemudian dihentikan setelah penyelidikan Parlemen India.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Kesal! Trump: AS Bayar...
Kesal! Trump: AS Bayar Mahal untuk Lindungi Eropa dari Serangan Rusia
Rekomendasi
Premier Padel Valladolid...
Premier Padel Valladolid P2 2026 Tayang di VISION+, Cek Jadwal Lengkapnya
Kroasia Kalahkan Panama,...
Kroasia Kalahkan Panama, Gol Ante Budimir Jaga Asa Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
240 BUMN Tak Produktif...
240 BUMN Tak Produktif Dibubarin Prabowo: Tidak Untung, Rugi Terus
Berita Terkini
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Infografis
Bill Gates Sumbang Rp2,6...
Bill Gates Sumbang Rp2,6 Triliun tapi Minta Uji Vaksin di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved