Aktivitas Sektor Jasa China Menurun di Tengah Tekanan Tarif AS

Jum'at, 09 Mei 2025 - 07:39 WIB
loading...
Aktivitas Sektor Jasa...
Aktivitas sektor jasa di China menurun di tengah tekanan tarif dari Amerika Serikat. Foto/SINDO News
A A A
JAKARTA - Aktivitas layanan dan jasa di China memburuk lebih dari yang diperkirakan pada April lalu, menurut sebuah badai survei swasta. Ini menjadi indikator kemunduran terbaru bagi perekonomian China yang sudah berada di bawah tekanan akibat pengenaan tarif dari Amerika Serikat (AS).

Indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa versi Caixin China turun ke angka 50,7—level terendah dalam tujuh bulan—berdasarkan pernyataan dari Caixin dan S&P Global pada 6 Mei. Rata-rata perkiraan ekonom yang disurvei oleh Bloomberg adalah 51,8. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi.

Angka yang mengecewakan ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi China menghadapi risiko perlambatan cepat mulai kuartal kedua, setelah awal tahun yang cukup solid.

Baca Juga: Dampak Perang Dagang: Canton Fair Sepi, Industri Ekspor China Terguncang

Dampak Tarif AS


Dengan PMI resmi yang menunjukkan bahwa aktivitas pabrik sudah terpukul akibat lonjakan tarif AS pada April, kini muncul pertanyaan apakah para pembuat kebijakan bisa cukup cepat mendorong konsumsi domestik untuk menutup kehilangan permintaan ekspor yang diperkirakan akan terjadi.

"Perbaikan pasar masih terbatas di tengah sengketa dagang China-AS," tulis ekonom senior Wang Zhe dari Caixin Insight Group, dikutip dari The Straits Times, Jumat (9/4/2025).

“Para pelaku sektor jasa mengungkapkan kekhawatiran mereka atas dampak tarif AS,” sambungnya.

Sub-indeks yang mengukur ekspektasi terhadap aktivitas masa depan sektor layanan dan jasa turun ke level terendah kedua sejak pengumpulan data dimulai pada 2005. Angka tersebut hanya lebih buruk pada Februari 2020, saat pandemi Covid-19 merebak.

Selain menghantam sentimen, tarif AS juga menyebabkan pertumbuhan pesanan bisnis baru menjadi yang paling lambat sejak Desember 2022.

Sebagai tanda bahwa permintaan tenaga kerja di China mulai menurun, perusahaan sektor jasa memangkas jumlah pegawainya untuk bulan kedua berturut-turut pada April karena kekhawatiran terhadap biaya, menurut sub-indeks ketenagakerjaan.

Perlambatan Ekonomi


Para analis yang disurvei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China akan melambat menjadi 4,2 persen pada 2025, jauh di bawah target resmi sekitar 5 persen yang baru-baru ini ditegaskan kembali oleh Menteri Keuangan China Lan Fo’an.

Kondisi pasar tenaga kerja akan sangat menentukan kekuatan belanja konsumen. Goldman Sachs Group memperkirakan bahwa sekitar 16 juta orang—lebih dari 2 persen dari angkatan kerja—mungkin terdampak oleh ekspor yang ditujukan ke AS.

PMI resmi untuk sektor non-manufaktur, yang mencakup aktivitas konstruksi dan jasa, tercatat di angka 50,4 pada April, sedikit di bawah perkiraan konsensus sebesar 50,6. Sub-indeks untuk jasa terus berkutat di sekitar batas 50 poin—yang memisahkan ekspansi dan kontraksi—sejak awal 2025.

Sejumlah survei swasta dan resmi mencakup ukuran sampel, lokasi, dan jenis bisnis yang berbeda, dengan laporan Caixin lebih berfokus pada usaha kecil dan menengah di sektor non-negara.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Kapal Penangkap Ikan...
Kapal Penangkap Ikan Tenggelam di Lepas Pantai Busan, 2 Awak Asal Indonesia Hilang
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan...
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan soal Kerja Sama dengan Hanania Group
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved