Sosok Asim Munir, Jenderal Pakistan Penghafal Al-Qur'an yang Bikin India Marah
Senin, 05 Mei 2025 - 11:27 WIB
loading...
A
A
A
Dalam pidatonya pada Konvensi Pakistan Diaspora di Islamabad, Munir menegaskan bahwa Kashmir adalah “urat nadi” Pakistan, bukan sekadar klaim teritorial, tetapi sebagai amanah spiritual dan sejarah.
Dia menghidupkan kembali "teori dua negara"—dasar pendirian Pakistan oleh Muhammad Ali Jinnah—yang menyatakan bahwa Muslim dan Hindu adalah dua bangsa yang berbeda secara agama, budaya, dan aspirasi.
"Kita adalah dua bangsa, bukan satu bangsa. Agama kita berbeda, adat kita berbeda, cita-cita kita berbeda," tegasnya di hadapan hadirin.
Retorika ini memperkuat posisi Munir sebagai jenderal yang tidak hanya melihat konflik dengan India sebagai perseteruan geopolitik, melainkan sebagai jihad yang sakral.
Pidato Munir bukan hanya retorika kosong. Pernyataannya mengenai Kashmir, menurut sejumlah pejabat intelijen India, diduga menjadi salah satu pemicu serangan teror kelompok The Resistance Front (TRF) pada 22 April yang menewaskan 26 turis Hindu di Pahalgam, wilayah Jammu dan Kashmir yang dikuasai India.
India menganggap TRF berafiliasi dengan Lashkar-e-Taiba (LeT), kelompok milisi yang bermarkas di Pakistan. Namun, LeT menepis anggapan tersebut.
Media-media India dalam laporannya menduga serangan teror di Kashmir termotivasi oleh pidato-pidato Munir yang memuliakan perjuangan heroik warga Kashmir dan mengutuk perbedaan perlakuan terhadap umat Muslim di India.
Sebagai mantan kepala intelijen militer (MI) dan mantan Direktur Jenderal Inter-Services Intelligence (ISI), Munir memiliki pemahaman mendalam tentang jaringan dalam dan luar negeri Pakistan.
Meski masa jabatannya di ISI relatif singkat—hanya beberapa bulan sebelum dicopot karena konflik dengan Perdana Menteri saat itu, Imran Khan—Munir kembali naik daun berkat dukungan Parlemen dan pengaruh militer yang tak tergoyahkan.
Ketika pada November 2024 Parlemen Pakistan mengesahkan perpanjangan masa jabatan kepala militer menjadi lima tahun, posisi Munir pun semakin kokoh hingga setidaknya 2027.
Dia menghidupkan kembali "teori dua negara"—dasar pendirian Pakistan oleh Muhammad Ali Jinnah—yang menyatakan bahwa Muslim dan Hindu adalah dua bangsa yang berbeda secara agama, budaya, dan aspirasi.
"Kita adalah dua bangsa, bukan satu bangsa. Agama kita berbeda, adat kita berbeda, cita-cita kita berbeda," tegasnya di hadapan hadirin.
Retorika ini memperkuat posisi Munir sebagai jenderal yang tidak hanya melihat konflik dengan India sebagai perseteruan geopolitik, melainkan sebagai jihad yang sakral.
Pidato Munir bukan hanya retorika kosong. Pernyataannya mengenai Kashmir, menurut sejumlah pejabat intelijen India, diduga menjadi salah satu pemicu serangan teror kelompok The Resistance Front (TRF) pada 22 April yang menewaskan 26 turis Hindu di Pahalgam, wilayah Jammu dan Kashmir yang dikuasai India.
India menganggap TRF berafiliasi dengan Lashkar-e-Taiba (LeT), kelompok milisi yang bermarkas di Pakistan. Namun, LeT menepis anggapan tersebut.
Media-media India dalam laporannya menduga serangan teror di Kashmir termotivasi oleh pidato-pidato Munir yang memuliakan perjuangan heroik warga Kashmir dan mengutuk perbedaan perlakuan terhadap umat Muslim di India.
Strategi Jenderal Munir untuk Pakistan
Sebagai mantan kepala intelijen militer (MI) dan mantan Direktur Jenderal Inter-Services Intelligence (ISI), Munir memiliki pemahaman mendalam tentang jaringan dalam dan luar negeri Pakistan.
Meski masa jabatannya di ISI relatif singkat—hanya beberapa bulan sebelum dicopot karena konflik dengan Perdana Menteri saat itu, Imran Khan—Munir kembali naik daun berkat dukungan Parlemen dan pengaruh militer yang tak tergoyahkan.
Ketika pada November 2024 Parlemen Pakistan mengesahkan perpanjangan masa jabatan kepala militer menjadi lima tahun, posisi Munir pun semakin kokoh hingga setidaknya 2027.
Lihat Juga :