Sosok Asim Munir, Jenderal Pakistan Penghafal Al-Qur'an yang Bikin India Marah
Senin, 05 Mei 2025 - 11:27 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan ini memperkuat pandangan bahwa negara tersebut kini berada di bawah bayang-bayang militer yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga membawa misi ideologis yang terang-terangan.
Dengan posisi strategis sebagai panglima militer di negara bersenjata nuklir, dan dengan pendekatan jihad yang semakin dilembagakan, Jenderal Munir menciptakan tantangan tersendiri bagi India dan kawasan Asia Selatan secara keseluruhan.
Bagi India, Munir bukan sekadar lawan militer, tetapi representasi dari militerisasi ideologi—agama sebagai senjata geopolitik.
Pendekatan religius yang dia usung dapat mengaburkan kalkulasi rasional dalam hubungan bilateral.
Jika keputusan strategis dipandu oleh imperatif ideologis dan bukan kalkulasi pragmatis, maka eskalasi konflik bisa terjadi tanpa peringatan, didorong oleh narasi moral-spiritual yang sulit dinegosiasikan.
Jenderal Asim Munir mencerminkan wajah baru militer Pakistan yang lama—sebuah lembaga yang kembali ke akar ideologis Islamisme yang pernah mendominasi era Zia-ul-Haq.
Namun di era modern yang lebih kompleks, langkah Munir ini bisa menciptakan dilema strategis, tidak hanya bagi musuh-musuh Pakistan, tetapi juga bagi stabilitas internal negara itu sendiri.
Di tangan seorang "Jenderal Mullah", militer bukan lagi instrumen pertahanan semata, melainkan alat dakwah ideologis bersenjata.
Menurut laporan The Economic Times, Senin (5/5/2025), dunia— khususnya India—harus memperhatikan dengan seksama ke mana arah Pakistan di bawah komando Asim Munir akan bergerak. Karena dari Rawalpindi, gema jihad bisa saja terdengar lebih nyaring daripada suara diplomasi.
Dengan posisi strategis sebagai panglima militer di negara bersenjata nuklir, dan dengan pendekatan jihad yang semakin dilembagakan, Jenderal Munir menciptakan tantangan tersendiri bagi India dan kawasan Asia Selatan secara keseluruhan.
Bagi India, Munir bukan sekadar lawan militer, tetapi representasi dari militerisasi ideologi—agama sebagai senjata geopolitik.
Pendekatan religius yang dia usung dapat mengaburkan kalkulasi rasional dalam hubungan bilateral.
Jika keputusan strategis dipandu oleh imperatif ideologis dan bukan kalkulasi pragmatis, maka eskalasi konflik bisa terjadi tanpa peringatan, didorong oleh narasi moral-spiritual yang sulit dinegosiasikan.
Jenderal Asim Munir mencerminkan wajah baru militer Pakistan yang lama—sebuah lembaga yang kembali ke akar ideologis Islamisme yang pernah mendominasi era Zia-ul-Haq.
Namun di era modern yang lebih kompleks, langkah Munir ini bisa menciptakan dilema strategis, tidak hanya bagi musuh-musuh Pakistan, tetapi juga bagi stabilitas internal negara itu sendiri.
Di tangan seorang "Jenderal Mullah", militer bukan lagi instrumen pertahanan semata, melainkan alat dakwah ideologis bersenjata.
Menurut laporan The Economic Times, Senin (5/5/2025), dunia— khususnya India—harus memperhatikan dengan seksama ke mana arah Pakistan di bawah komando Asim Munir akan bergerak. Karena dari Rawalpindi, gema jihad bisa saja terdengar lebih nyaring daripada suara diplomasi.
(mas)
Lihat Juga :