AS Menuntut Perundingan Langsung Rusia-Ukraina Tanpa Mediator
Sabtu, 03 Mei 2025 - 08:46 WIB
loading...
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tammy Bruce. Foto/deplu as
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) tidak akan lagi bertindak sebagai mediator dalam negosiasi antara Rusia dan Ukraina, menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Tammy Bruce.
Berbicara dalam jumpa pers rutin pada hari Kamis (1/5/2025), ia menyatakan sudah waktunya bagi kedua pihak mengusulkan solusi mereka sendiri dan terlibat dalam perundingan langsung.
Trump sebelumnya berjanji mengakhiri konflik Ukraina "dalam waktu 24 jam" jika terpilih, meskipun ia kemudian menggambarkan klaim tersebut sebagai "berlebihan."
Sejak menjabat pada bulan Januari, ia mendesak kedua belah pihak melakukan gencatan senjata tetapi telah menyatakan frustrasi atas lambatnya kemajuan dalam perundingan.
Trump telah memperingatkan AS dapat menarik diri dari proses perdamaian jika terus tersendat.
Sebelumnya, Moskow mengisyaratkan siap memulai perundingan langsung dengan Kiev "tanpa prasyarat," sementara Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan Rusia mematuhi gencatan senjata singkat selama perayaan Hari Kemenangan pekan depan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mencap pengumuman gencatan senjata Rusia sebagai "manipulasi."
"Kami tidak akan menjadi mediator," ujar Bruce kepada wartawan saat ditanya tentang peran Washington di masa mendatang.
Dia menjelaskan, "Kami tentu masih berkomitmen untuk itu dan kami akan membantu dan melakukan apa yang kami bisa, tetapi kami tidak akan terbang ke seluruh dunia begitu saja untuk memediasi pertemuan."
"Sudah saatnya bagi kedua negara yang terlibat dalam konflik ini untuk mengajukan proposal konkret tentang bagaimana konflik ini berakhir. Itu terserah mereka," Bruce menambahkan.
Pernyataannya kontras dengan komentar Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang mengatakan awal pekan ini bahwa Washington berencana mendedikasikan 100 hari lagi untuk memediasi kesepakatan damai.
Laporan media mengklaim proposal perdamaian AS mencakup pengakuan kedaulatan Rusia atas Krimea dan kendali de facto-nya atas sebagian dari empat bekas wilayah Ukraina yang memilih untuk bergabung dengan Rusia.
Dilaporkan juga menyerukan "pembekuan" konflik di sepanjang garis depan saat ini.
Mengomentari keputusan Moskow menghentikan operasi militer pekan depan, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan jeda tersebut harus menjadi "awal negosiasi langsung dengan Kiev tanpa prasyarat." Namun, Kiev menuntut gencatan senjata 30 hari tanpa syarat.
Baca juga: AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China dan Rusia pada Five Eyes
Berbicara dalam jumpa pers rutin pada hari Kamis (1/5/2025), ia menyatakan sudah waktunya bagi kedua pihak mengusulkan solusi mereka sendiri dan terlibat dalam perundingan langsung.
Trump sebelumnya berjanji mengakhiri konflik Ukraina "dalam waktu 24 jam" jika terpilih, meskipun ia kemudian menggambarkan klaim tersebut sebagai "berlebihan."
Sejak menjabat pada bulan Januari, ia mendesak kedua belah pihak melakukan gencatan senjata tetapi telah menyatakan frustrasi atas lambatnya kemajuan dalam perundingan.
Trump telah memperingatkan AS dapat menarik diri dari proses perdamaian jika terus tersendat.
Sebelumnya, Moskow mengisyaratkan siap memulai perundingan langsung dengan Kiev "tanpa prasyarat," sementara Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan Rusia mematuhi gencatan senjata singkat selama perayaan Hari Kemenangan pekan depan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mencap pengumuman gencatan senjata Rusia sebagai "manipulasi."
"Kami tidak akan menjadi mediator," ujar Bruce kepada wartawan saat ditanya tentang peran Washington di masa mendatang.
Dia menjelaskan, "Kami tentu masih berkomitmen untuk itu dan kami akan membantu dan melakukan apa yang kami bisa, tetapi kami tidak akan terbang ke seluruh dunia begitu saja untuk memediasi pertemuan."
"Sudah saatnya bagi kedua negara yang terlibat dalam konflik ini untuk mengajukan proposal konkret tentang bagaimana konflik ini berakhir. Itu terserah mereka," Bruce menambahkan.
Pernyataannya kontras dengan komentar Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang mengatakan awal pekan ini bahwa Washington berencana mendedikasikan 100 hari lagi untuk memediasi kesepakatan damai.
Laporan media mengklaim proposal perdamaian AS mencakup pengakuan kedaulatan Rusia atas Krimea dan kendali de facto-nya atas sebagian dari empat bekas wilayah Ukraina yang memilih untuk bergabung dengan Rusia.
Dilaporkan juga menyerukan "pembekuan" konflik di sepanjang garis depan saat ini.
Mengomentari keputusan Moskow menghentikan operasi militer pekan depan, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan jeda tersebut harus menjadi "awal negosiasi langsung dengan Kiev tanpa prasyarat." Namun, Kiev menuntut gencatan senjata 30 hari tanpa syarat.
Baca juga: AS Mulai Bagikan Info Intel Ruang Angkasa Sensitif China dan Rusia pada Five Eyes
(sya)
Lihat Juga :