AS Siap Habiskan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina

Jum'at, 02 Mei 2025 - 10:16 WIB
loading...
AS Siap Habiskan 100...
Amerika Serikat siap menghabiskan 100 hari lagi untuk mendamaikan Rusia dan Ukraina. Foto/The New York Times
A A A
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) siap mendedikasikan 100 hari lagi untuk memediasi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

Itu disampaikan Wakil Presiden AS JD Vance kepada Fox News. Menurutnya, AS telah membuat kemajuan dengan meminta kedua belah pihak untuk menyampaikan ide-ide mereka guna menyelesaikan konflik.

"Kami memiliki langkah pertama ini," kata Vance, merenungkan 100 hari pertama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Wapres AS JD Vance: Ukraina Tak Akan Menang Perang Melawan Rusia!

"Kami telah mengeluarkan proposal perdamaian di luar sana dan menerbitkannya, dan kami akan bekerja sangat keras selama 100 hari ke depan untuk mencoba menyatukan orang-orang ini," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (2/5/2025).

Vance mencatat bahwa sebelum pemerintahan Trump terlibat, "Moskow dan Kyiv bahkan tidak berbicara—tidak satu sama lain, tidak kepada siapa pun. Mereka hanya bertengkar."

"Sekarang, tugas diplomasi adalah mencoba untuk mendekatkan kedua pihak ini," ujarnya, menunjuk pada jurang yang sangat besar antara apa yang diinginkan Rusia dan apa yang diinginkan Ukraina.

Selama kampanye Pemilu tahun lalu, Trump berjanji untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina "dalam waktu 24 jam" setelah memasuki Gedung Putih—sesuatu yang kemudian dia gambarkan sebagai "berlebihan".

Sejak menjabat pada bulan Januari, dia telah mendesak kedua belah pihak untuk mencapai gencatan senjata dan baru-baru ini menunjukkan rasa frustrasi atas kurangnya kemajuan.

Meskipun Rusia memuji Trump dan timnya karena lebih memahami posisinya daripada pemerintahan Joe Biden, Moskow bersikeras bahwa gencatan senjata yang komprehensif harus mencakup diakhirinya mobilisasi Ukraina dan penghentian pengiriman senjata asing.

Kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar "gencatan senjata energi" selama sebulan yang ditengahi oleh Trump pada bulan Maret, serta gencatan senjata Paskah selama 30 jam bulan lalu.

Moskow telah menuntut agar Ukraina mencabut klaimnya atas Crimea dan empat wilayah lainnya, serta meninggalkan ambisinya bergabung dengan NATO.

Pada hari Kamis, utusan khusus Trump, Keith Kellogg, mengatakan Kyiv telah setuju untuk mengakui kendali Rusia atas apa yang dianggapnya sebagai "wilayah pendudukan", namun tidak mengakui kedaulatan Rusia secara resmi.

Namun, Kyiv telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan tanah apa pun kepada Rusia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Ben Gvir Batal ke AS, Dipersulit Dapat Visa?
Rekomendasi
MSIN Paparkan Strategi...
MSIN Paparkan Strategi Streaming Global di APOS 2026, V+Short Tembus 5 Juta Unduhan
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri, Langsung Teriak: Siap!
Berita Terkini
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved