Di Mana Pulau Sandy Cay yang Diklaim China dan Filipina sebagai Wilayahnya?

Rabu, 30 April 2025 - 10:15 WIB
loading...
Di Mana Pulau Sandy...
China mengibarkan bendera di Pulau Sandy Cay yang juga diklaim Filipina. Foto/scmp
A A A
MANILA - Sandy Cay adalah sekelompok gundukan pasir kecil yang terletak di Laut China Selatan, khususnya di wilayah Kepulauan Spratly.

Wilayah ini menjadi pusat sengketa antara Filipina dan China, dengan klaim kedaulatan yang saling bertentangan.

Meskipun ukurannya kecil, Sandy Cay memiliki signifikansi strategis dan hukum yang besar dalam konteks geopolitik kawasan.

Lokasi dan Signifikansi Geografis


Sandy Cay terletak sekitar 1,5 mil laut (sekitar 2,8 km) barat laut dari Pulau Thitu (dikenal sebagai Pag-asa Island oleh Filipina), yang merupakan salah satu pos terdepan militer Filipina di Kepulauan Spratly.

Selain itu, Sandy Cay juga berdekatan dengan Subi Reef, pulau buatan yang dikuasai China dan telah dimiliterisasi.

Posisi geografis ini menjadikan Sandy Cay sebagai titik strategis dalam persaingan pengaruh di kawasan tersebut.

Status Hukum dan Klaim Kedaulatan


Meskipun Sandy Cay hanya terdiri dari gundukan pasir kecil, sebagian dari wilayahnya tetap berada di atas permukaan air saat pasang tinggi.

Menurut hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), fitur maritim yang tetap berada di atas permukaan air saat pasang tinggi dapat menghasilkan laut teritorial sejauh 12 mil laut.

Hal ini memberikan nilai strategis tambahan bagi negara yang mengklaim kedaulatan atas Sandy Cay.

Filipina mengklaim Sandy Cay sebagai bagian dari wilayahnya, sementara China juga mengklaim kedaulatan atas wilayah tersebut.

Kedua negara telah melakukan tindakan simbolis untuk menegaskan klaim mereka, termasuk penanaman bendera nasional di Sandy Cay.

Pada April 2025, China mengklaim telah mengibarkan bendera nasionalnya di Sandy Cay, yang kemudian dibantah Filipina dengan melakukan kunjungan dan pengibaran bendera mereka sendiri di wilayah tersebut.

Ketegangan Terkini dan Implikasi Geopolitik


Ketegangan antara Filipina dan Tiongkok terkait Sandy Cay meningkat seiring dengan latihan militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Filipina di kawasan tersebut.

Tindakan China yang mengklaim kedaulatan atas Sandy Cay dianggap sebagai respons terhadap peningkatan kerja sama militer antara Filipina dan Amerika Serikat.

Sementara itu, Filipina menegaskan tidak ada pendudukan permanen oleh China di Sandy Cay dan wilayah tersebut tetap berada di bawah kedaulatan Filipina.

Situasi ini mencerminkan dinamika kompleks di Laut China Selatan, di mana klaim kedaulatan, kepentingan strategis, dan aliansi militer saling berinteraksi.

Sandy Cay, meskipun kecil, menjadi simbol dari persaingan yang lebih luas antara kekuatan regional dan global di kawasan tersebut.

Sandy Cay adalah fitur maritim kecil di Laut China Selatan yang menjadi pusat sengketa antara Filipina dan China.

Meskipun ukurannya kecil, Sandy Cay memiliki signifikansi strategis dan hukum yang besar, terutama karena potensinya untuk menghasilkan laut teritorial.

Ketegangan terkait Sandy Cay mencerminkan dinamika geopolitik yang lebih luas di kawasan tersebut, di mana klaim kedaulatan dan kepentingan strategis saling bertentangan.

Penyelesaian sengketa ini memerlukan pendekatan diplomatik yang hati-hati dan penghormatan terhadap hukum internasional untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan.

Baca juga: Amnesty Tegaskan Israel Lakukan Genosida yang Disiarkan Langsung di Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Israel Incar Pemimpin...
Israel Incar Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Siap Perang Lagi 
Rekomendasi
Bursa Saham RI Diguncang...
Bursa Saham RI Diguncang MSCI, OJK Garansi Pasar Modal RI Tak Akan Turun Kasta
Gapasdap: Penggunaan...
Gapasdap: Penggunaan B50 untuk Kapal Bebani Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan
PDIP Nonaktifkan Anggota...
PDIP Nonaktifkan Anggota DPRD TTU Imbas Dugaan Intimidasi Dokter Icha
Berita Terkini
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved