Pria Ini Ngebut dengan Tesla dan Tabrak Mati 3 Orang Sekeluarga, lalu Tertawa
Rabu, 23 April 2025 - 16:06 WIB
loading...
Pria China tabrak mati tiga orang sekeluarga dengan mobil Tesla berkecepatan tinggi. Mirisnya, pelaku justru tertawa di tempat kejadian. Foto/SCMP/Weibo/Douyin
A
A
A
BEIJING - Seorang pemuda China berusia 20 tahun menabrak tiga orang dari satu keluarga hingga tewas menggunakan mobil Tesla yang dikemudikannya dengan kecepatan tinggi. Mirisnya, pelaku justru tertawa di tempat kejadian perkara (TKP) dan menolak meminta maaf atas perbuatannya.
Insiden tragis ini terjadi pada 2 Oktober lalu di Provinsi Guangdong. Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (23/4/2025), pemuda bernama Liao mengemudi dalam kecepatan 129 km/jam di area dengan batas maksimal hanya 40 km/jam.
Dia saat itu tengah bertengkar dengan pacarnya dan mengabaikan permintaan sang pacar untuk memperlambat laju mobil listriknya.
Baca Juga: Tesla Bakal Tarik Hampir 700.000 Mobilnya karena Kesalahan Sistem Bisa Picu Kecelakaan
Liao kemudian menabrak satu keluarga yang sedang menyeberang jalan untuk menghadiri makan malam.
Sang ibu (30) dan bayi laki-lakinya yang belum genap setahun meninggal di tempat, sementara sang ayah (31) meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Kami menunggu mereka pulang untuk makan malam. Tapi yang datang malah kabar kematian mereka dari polisi. Rasanya dunia runtuh,” ujar Hu, ayah korban pria, seperti dikutip dari Elephant News.
Kisah memilukan ini makin menyulut amarah publik karena sikap Liao yang dingin dan tidak menunjukkan penyesalan. Dia bahkan sempat bercanda dan tertawa saat berada di lokasi kejadian yang dipenuhi darah.
Lebih ironis lagi, ayah Liao malah menyalahkan "takdir" dan mengancam keluarga korban.
“Anak saya membunuh putra Anda adalah kehendak Tuhan. Kalau Anda menuntut anak saya, itu bencana buatan manusia,” ujar sang ayah.
Keluarga korban menolak tawaran kompensasi sebesar 800.000 yuan (sekitar Rp1,8 miliar) dari keluarga Liao. Mereka juga menolak usulan agar Liao kelak merawat orang tua korban setelah keluar dari penjara.
“Uang itu tidak bisa mengembalikan anak dan cucu saya. Dan bagaimana mungkin kami menerima perawatan dari pembunuh keluarga kami?” kata Hu penuh emosional.
Dalam persidangan, Hu mendesak agar Liao dihukum seberat-beratnya, bahkan mengajukan tuntutan hukuman mati.
“Satu nyawa untuk tiga nyawa, itu baru adil,” tegasnya.
Kasus ini memicu gelombang kemarahan di media sosial China. Banyak warganet menyebut tindakan Liao sebagai pembunuhan yang disengaja, dan menyerukan agar keadilan ditegakkan seadil-adilnya.
Insiden tragis ini terjadi pada 2 Oktober lalu di Provinsi Guangdong. Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (23/4/2025), pemuda bernama Liao mengemudi dalam kecepatan 129 km/jam di area dengan batas maksimal hanya 40 km/jam.
Dia saat itu tengah bertengkar dengan pacarnya dan mengabaikan permintaan sang pacar untuk memperlambat laju mobil listriknya.
Baca Juga: Tesla Bakal Tarik Hampir 700.000 Mobilnya karena Kesalahan Sistem Bisa Picu Kecelakaan
Liao kemudian menabrak satu keluarga yang sedang menyeberang jalan untuk menghadiri makan malam.
Sang ibu (30) dan bayi laki-lakinya yang belum genap setahun meninggal di tempat, sementara sang ayah (31) meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Kami menunggu mereka pulang untuk makan malam. Tapi yang datang malah kabar kematian mereka dari polisi. Rasanya dunia runtuh,” ujar Hu, ayah korban pria, seperti dikutip dari Elephant News.
Kisah memilukan ini makin menyulut amarah publik karena sikap Liao yang dingin dan tidak menunjukkan penyesalan. Dia bahkan sempat bercanda dan tertawa saat berada di lokasi kejadian yang dipenuhi darah.
Lebih ironis lagi, ayah Liao malah menyalahkan "takdir" dan mengancam keluarga korban.
“Anak saya membunuh putra Anda adalah kehendak Tuhan. Kalau Anda menuntut anak saya, itu bencana buatan manusia,” ujar sang ayah.
Keluarga korban menolak tawaran kompensasi sebesar 800.000 yuan (sekitar Rp1,8 miliar) dari keluarga Liao. Mereka juga menolak usulan agar Liao kelak merawat orang tua korban setelah keluar dari penjara.
“Uang itu tidak bisa mengembalikan anak dan cucu saya. Dan bagaimana mungkin kami menerima perawatan dari pembunuh keluarga kami?” kata Hu penuh emosional.
Dalam persidangan, Hu mendesak agar Liao dihukum seberat-beratnya, bahkan mengajukan tuntutan hukuman mati.
“Satu nyawa untuk tiga nyawa, itu baru adil,” tegasnya.
Kasus ini memicu gelombang kemarahan di media sosial China. Banyak warganet menyebut tindakan Liao sebagai pembunuhan yang disengaja, dan menyerukan agar keadilan ditegakkan seadil-adilnya.
(mas)
Lihat Juga :