Israel Bersiap Menyerang dengan Bom Canggih, Seberapa Kuat Pertahanan Udara Iran?
Jum'at, 18 April 2025 - 14:44 WIB
loading...
A
A
A
Amir-Ali Hajizadeh, komandan Pasukan Dirgantara paramiliter Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kuat, mengakui pada tanggal 18 Februari bahwa sistem "pertahanan anti-balistik" Iran mengalami kerusakan dalam "insiden baru-baru ini"—mengacu pada serangan Israel.
Pada hari yang sama, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mohammad Bagheri mengeklaim pertahanan udara Iran berada pada puncak kesiapan, dan kerusakan kecil yang dialaminya telah diperbaiki sepenuhnya.
Tujuh pejabat militer senior Rusia yang mengkhususkan diri dalam rudal mengunjungi Iran pada tahun 2024, dua di antaranya adalah pakar rudal pertahanan udara, menurut laporan Reuters pada Maret lalu.
Tidak jelas apakah pejabat militer Rusia yang berkunjung itu membantu Iran memperbaiki S-300. Selain itu, Rusia dilaporkan mulai mengirimkan radar dan peralatan pertahanan udara yang tidak disebutkan jumlahnya ke Iran Agustus tahun lalu, jeda di antara dua serangan Israel.
"Saya belum mendengar atau melihat apa pun yang menunjukkan bahwa Rusia telah melakukan apa pun untuk mengganti baterai yang hancur akibat serangan Israel," kata James Devine, profesor madya di Departemen Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Mount Allison, kepada The New Arab, Jumat (18/4/2025).
"Namun, berdasarkan liputan latihan militer Iran, tampaknya Iran masih memiliki beberapa komponen baterai S-300 yang beroperasi," ujarnya.
Insinyur Iran mungkin telah menemukan cara untuk mengintegrasikan radar Bavar-373 dengan peluncur S-300. Bisa jadi serangan Israel yang diluncurkan pada jarak jauh hanya menargetkan radar sistem, seperti yang terjadi pada bulan April, sehingga komponen lain seperti peluncur tetap utuh.
Devine menunjukkan bahwa setiap S-300 terdiri dari empat komponen: radar pencegat, radar akuisisi peringatan dini, kendaraan peluncur, serta komando dan kontrol.
“Sistem terpadu yang baru mungkin mencakup komponen yang masih ada. Atau, mungkin juga Iran menggunakan rudal yang lebih tua,” katanya.
“Mereka meningkatkan rudal 48N6E2 menjadi rudal 48N6DM beberapa tahun lalu, jadi mungkin beberapa rudal yang lebih tua dikembalikan ke garis depan.”
Federico Borsari, pakar pertahanan di Pusat Analisis Kebijakan Eropa mengatakan "intelijen yang solid" menunjukkan bahwa pertahanan udara Iran mengalami kerusakan yang signifikan, terutama radar S-300.
"Meskipun kunjungan pejabat Rusia jelas menguatkan bukti kerja sama militer yang kuat, tingkat dan cakupan bantuan tersebut masih belum pasti," kata Borsari kepada The New Arab.
"Ada kemungkinan juga bahwa teknisi Iran mencari saran dari Rusia tentang cara meningkatkan kemampuan bertahan dan ketahanan S-300 mereka dan, secara lebih umum, untuk membantu memahami rencana serangan potensial Israel," paparnya.
Dia mencatat bahwa Iran telah "menunjukkan minat yang besar" dalam mengintegrasikan Bavar-373 dalam negerinya dengan S-300 untuk "meningkatkan redundansi" pertahanan udara dan rudal terintegrasinya.
“Dengan kata lain, jika S-300 rusak atau melemah akibat serangan potensial, Bavar 373 dapat menggantikannya atau sebagai alternatif dapat digunakan dalam kombinasi,” kata Borsari.
“Tergantung pada tingkat integrasi, masuk akal jika Iran dapat mengimbangi hilangnya radar pengendali tembakan 30N6E2 Tombstone milik S-300 dengan menggunakan radar pencarian/sektor volume 64N6 dan radar akuisisi 96L6E untuk mendukung unit iluminator Bavar dalam mengunci target," imbuh dia.
Devine juga tidak menganggap mengejutkan bahwa Iran akan mencoba untuk “menyatukan” pertahanan udaranya yang tersisa.
Pada hari yang sama, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mohammad Bagheri mengeklaim pertahanan udara Iran berada pada puncak kesiapan, dan kerusakan kecil yang dialaminya telah diperbaiki sepenuhnya.
Tujuh pejabat militer senior Rusia yang mengkhususkan diri dalam rudal mengunjungi Iran pada tahun 2024, dua di antaranya adalah pakar rudal pertahanan udara, menurut laporan Reuters pada Maret lalu.
Tidak jelas apakah pejabat militer Rusia yang berkunjung itu membantu Iran memperbaiki S-300. Selain itu, Rusia dilaporkan mulai mengirimkan radar dan peralatan pertahanan udara yang tidak disebutkan jumlahnya ke Iran Agustus tahun lalu, jeda di antara dua serangan Israel.
"Saya belum mendengar atau melihat apa pun yang menunjukkan bahwa Rusia telah melakukan apa pun untuk mengganti baterai yang hancur akibat serangan Israel," kata James Devine, profesor madya di Departemen Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Mount Allison, kepada The New Arab, Jumat (18/4/2025).
"Namun, berdasarkan liputan latihan militer Iran, tampaknya Iran masih memiliki beberapa komponen baterai S-300 yang beroperasi," ujarnya.
Insinyur Iran mungkin telah menemukan cara untuk mengintegrasikan radar Bavar-373 dengan peluncur S-300. Bisa jadi serangan Israel yang diluncurkan pada jarak jauh hanya menargetkan radar sistem, seperti yang terjadi pada bulan April, sehingga komponen lain seperti peluncur tetap utuh.
Devine menunjukkan bahwa setiap S-300 terdiri dari empat komponen: radar pencegat, radar akuisisi peringatan dini, kendaraan peluncur, serta komando dan kontrol.
“Sistem terpadu yang baru mungkin mencakup komponen yang masih ada. Atau, mungkin juga Iran menggunakan rudal yang lebih tua,” katanya.
“Mereka meningkatkan rudal 48N6E2 menjadi rudal 48N6DM beberapa tahun lalu, jadi mungkin beberapa rudal yang lebih tua dikembalikan ke garis depan.”
Federico Borsari, pakar pertahanan di Pusat Analisis Kebijakan Eropa mengatakan "intelijen yang solid" menunjukkan bahwa pertahanan udara Iran mengalami kerusakan yang signifikan, terutama radar S-300.
"Meskipun kunjungan pejabat Rusia jelas menguatkan bukti kerja sama militer yang kuat, tingkat dan cakupan bantuan tersebut masih belum pasti," kata Borsari kepada The New Arab.
"Ada kemungkinan juga bahwa teknisi Iran mencari saran dari Rusia tentang cara meningkatkan kemampuan bertahan dan ketahanan S-300 mereka dan, secara lebih umum, untuk membantu memahami rencana serangan potensial Israel," paparnya.
Dia mencatat bahwa Iran telah "menunjukkan minat yang besar" dalam mengintegrasikan Bavar-373 dalam negerinya dengan S-300 untuk "meningkatkan redundansi" pertahanan udara dan rudal terintegrasinya.
“Dengan kata lain, jika S-300 rusak atau melemah akibat serangan potensial, Bavar 373 dapat menggantikannya atau sebagai alternatif dapat digunakan dalam kombinasi,” kata Borsari.
“Tergantung pada tingkat integrasi, masuk akal jika Iran dapat mengimbangi hilangnya radar pengendali tembakan 30N6E2 Tombstone milik S-300 dengan menggunakan radar pencarian/sektor volume 64N6 dan radar akuisisi 96L6E untuk mendukung unit iluminator Bavar dalam mengunci target," imbuh dia.
Devine juga tidak menganggap mengejutkan bahwa Iran akan mencoba untuk “menyatukan” pertahanan udaranya yang tersisa.
Lihat Juga :