AS Kerahkan Pesawat Pengebom B-1B ke Semenanjung Korea, Korut Sebut Gertakan Sembrono

Kamis, 17 April 2025 - 13:42 WIB
loading...
AS Kerahkan Pesawat...
Korea Utara kritik pengerahan pesawat pengebom B-1B Amerika Serikat ke Semenanjung Korea, menyebutnya sebagai gertakan sembrono. Foto/News1
A A A
PYONGYANG - Pemerintah Korea Utara (Korut) mengkritik Amerika Serikat (AS) karena mengerahkan pesawat pengebom strategis B-1B dalam latihan militer gabungan dengan Korea Selatan baru-baru ini.

Dalam pernyataan yang dimuat oleh media pemerintah Korea Utara; KCNA, Kamis (17/4/2025), Kementerian Pertahanan setempat mengatakan pengerahan pesawat pengebom strategis AS ke Semananjung Korea telah menjadi "praktik militer rutin". "Itu gertakan yang sembrono," kata kementerian tersebut.

Pesawat B-1B dikerahkan dalam latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan AS yang diadakan pada hari Selasa bersama dengan jet tempur, menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Baca Juga: Korea Utara Bikin Kapal Perang Terbesar dan Tercanggih, Berikut Penampakannya

Pesawat pengebom B-1B telah ditampilkan dalam latihan militer gabungan dalam beberapa tahun terakhir yang telah lama dikecam Korea Utara sebagai latihan menginvasi Pyongyang. Namun Seoul menggambarkan latihan itu sebagai latihan pertahanan semata.

"Langkah militer AS dan ROK baru-baru ini merupakan ancaman terbuka bagi keamanan negara kita," imbuh pernyataan kementerian tersebut, merujuk pada nama resmi Korea Selatan; Republik Korea.

Surat kabar Rodong Sinmun juga merilis pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Utara, yang mengatakan: "Amerika Serikat baru-baru ini telah membuat rekor baru dalam pengerahan aset strategis secara terbuka ke Semenanjung Korea, termasuk kapal selam nuklir, pesawat pengebom strategis, dan kapal induk."

"Pengerahan aset strategis AS di Semenanjung Korea telah ditetapkan sebagai praktik militer rutin, bukan sebagai bagian dari tindakan darurat, dan merupakan ancaman yang konstan, bukan variabel, terhadap lingkungan keamanan regional," imbuh pernyataan kementerian tersebut.

"Kami akan menekan niat agresif Amerika Serikat untuk secara permanen mengganggu lingkungan keamanan regional dengan kekuatan yang kuat."

Seorang pakar geopolitik meyakini Korea Utara menggunakan latihan militer gabungan rutin AS-Korea Selatan sebagai dalih untuk mengalihkan kesalahan atas meningkatnya ketegangan sambil membenarkan pengembangan senjata nuklirnya yang berkelanjutan.

“Di tengah meningkatnya ketidakpastian dalam hubungan Korea Utara-AS, Pyongyang akan menggunakan pembenaran untuk memperkuat kemampuan pencegahan defensifnya guna lebih mengembangkan strategi nuklirnya yang asimetris, pre-emptif, dan penggunaan awal,” kata Lim Eul-chul, seorang profesor di Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam.

Sikap ini mungkin juga mencerminkan perhitungan Korea Utara bahwa Presiden AS Donald Trump, yang disibukkan dengan perang tarif global, tidak dapat terlibat perundingan dengan Korea Utara untuk saat ini.

Karena pemerintahan Trump semakin tenggelam dalam konflik perdagangannya dengan China, krisis Semenanjung Korea kemungkinan akan turun dalam daftar prioritas diplomatiknya.

“Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un kemungkinan akan mengambil posisi bahwa dia tidak akan mengulurkan tangan sampai Trump menempatkan isu Korea Utara lebih tinggi dalam agenda politik dan ekonominya,” imbuh Lim.

“Ini tampaknya semacam ‘taktik menunda secara tidak langsung’ untuk kebuntuan yang berlarut-larut dan langkah untuk mengamankan posisi yang lebih unggul dalam negosiasi di masa mendatang," ujarnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
AS-Iran Saling Serang,...
AS-Iran Saling Serang, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Perbarui IPKP PPKP Daruba,...
Perbarui IPKP PPKP Daruba, BNPP Soroti Transportasi hingga Infrastruktur Morotai
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
Tidak Semua Yoghurt...
Tidak Semua Yoghurt Sehat, Salah Pilih Bisa Bikin Gula Darah Naik
Berita Terkini
7 Pemimpin yang Mengubah...
7 Pemimpin yang Mengubah Dunia, Fatima al Fihri yang Mendirikan Kampus Pertama di Dunia
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved