Zelensky: 155 Warga China Ikut Perang Dukung Rusia Melawan Ukraina

Kamis, 10 April 2025 - 06:32 WIB
loading...
Zelensky: 155 Warga...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebut ada 155 warga China yang ikut perang mendukung Rusia melawan Ukraina. Foto/Telegram/zelenskyy_official
A A A
KYIV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Rusia telah menyeret China ke dalam perang melawan Ukraina. Menurutnya, Beijing mengetahui bahwa banyak warganya direkrut oleh militer Moskow untuk berperang.

Zelensky—yang kepemimpinan perangnya mengalami pergolakan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih—juga mengatakan bahwa Kyiv siap membeli peralatan militer AS senilai hingga USD50 miliar.

Menurutnya, pejabat Ukraina akan mengadakan pertemuan dengan delegasi AS minggu depan sebagai bagian dari upaya Washington untuk mendorong Moskow dan Kyiv agar menyetujui gencatan senjata.

Baca Juga: Tentara China Ikut Perang Sokong Rusia Melawan Ukraina, AS Cemas

Kyiv memiliki rincian 155 warga negara China telah dikerahkan ke garis depan, kata Zelensky, sehari setelah mengeklaim tentara Ukraina telah menangkap dua warga negara China yang bertempur di wilayah Donetsk timur.

Zelensky mengatakan Ukraina siap membebaskan warga negara China yang ditangkap dengan imbalan pembebasan tawanan perang Ukraina yang ditahan di Rusia.

"Keterlibatan terang-terangan warga negara China dalam operasi tempur di wilayah Ukraina merupakan langkah yang disengaja untuk memperluas perang," kata Zelensky, yang dikutip dari AFP, Kamis (10/4/2025).

"Ini merupakan indikasi lain bahwa Moskow hanya perlu memperpanjang pertempuran," imbuh dia.

Kritik baru terhadap Rusia dan China muncul beberapa jam setelah Beijing menolak laporan bahwa warga negaranya telah direkrut dalam jumlah besar untuk berperang membela Rusia, dan memperingatkan warga negara China untuk "menghindari keterlibatan dalam konflik bersenjata".

"Ini adalah kesalahan kedua Rusia. Yang pertama adalah Korea Utara. Mereka menyeret negara lain ke dalam perang. Saya yakin bahwa mereka sekarang menyeret China ke dalam perang ini," kata Zelensky kepada wartawan di Kyiv.

Menurut intelijen Kyiv, Korea Selatan, dan Barat, Pyongyang tahun lalu mengirim lebih dari 10.000 tentaranya untuk mendukung tentara Rusia setelah Ukraina melancarkan serangan lintas batas yang berani di wilayah Kursk barat.

"Masalah 'China' serius. Ada 155 orang dengan nama dan detail paspor yang berperang melawan Ukraina di wilayah Ukraina," kata Zelensky.

Sebuah dokumen yang dibagikan kepada AFP oleh seorang pejabat senior Ukraina berisi dugaan nama dan detail paspor dari 168 warga negara China yang menurut Kyiv telah direkrut oleh tentara Rusia, menurut intelijennya.

Zelensky mengatakan dia yakin ada "lebih banyak lagi" dan bahwa informasi lebih lanjut sedang dikumpulkan.

Dia tidak menuduh Beijing telah secara langsung mengirim tentara tersebut, tetapi mengatakan otoritas China menyadari bahwa warganya sedang direkrut.

"Jelas bagaimana mereka merekrut mereka. Salah satu skemanya adalah melalui media sosial, khususnya TikTok dan jejaring sosial China lainnya, tempat orang Rusia mendistribusikan iklan," kata Zelensky.

"Beijing mengetahui hal ini," imbuh dia.

China Tetap Menyangkal


Sehari sebelumnya, Zelensky telah menerbitkan video salah satu dari dua warga negara China yang diduga ditangkap mengenakan seragam militer dan tangan terikat.

Dalam video tersebut, tahanan tersebut menirukan suara pertempuran dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Mandarin. Tentara Ukraina mengatakan kartu identitas China dan kontrak untuk dinas militer Rusia telah ditemukan pada mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian sebelumnya telah menolak klaim Zelensky bahwa banyak warga negara China telah direkrut oleh Rusia untuk berperang sebagai "sama sekali tidak berdasar".

"Pemerintah China selalu meminta warganya untuk menjauh dari wilayah konflik bersenjata (dan) menghindari keterlibatan dalam konflik bersenjata dalam bentuk apa pun," katanya.

Dia menambahkan bahwa Beijing sedang memverifikasi informasi yang relevan tentang warga China yang ditangkap dengan Kyiv.

Ketika ditanya tentang klaim Zelensky dalam jumpa pers harian, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak berkomentar.

China menampilkan dirinya sebagai pihak yang netral dalam perang tiga tahun tersebut dan mengatakan tidak mengirimkan bantuan yang mematikan ke kedua belah pihak, tidak seperti Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.

Namun, China adalah mitra politik dan ekonomi yang dekat dengan Rusia, dan anggota NATO telah mencap Beijing sebagai "pendukung yang menentukan" invasi Moskow, yang tidak pernah dikutuknya.

"Posisi pihak China mengenai masalah krisis Ukraina jelas dan tegas, dan telah memperoleh persetujuan luas dari masyarakat internasional," kata Lin.

"Pihak Ukraina harus melihat dengan benar upaya dan peran konstruktif China dalam mendorong penyelesaian politik terhadap krisis Ukraina," imbuh dia.

Zelensky mengatakan bahwa dia telah menerima sinyal bahwa Washington memandang warga negara China yang berperang untuk Rusia sebagai hal yang tidak dapat diterima.

"Amerika Serikat sangat terkejut dan yakin bahwa ini tidak dapat diterima. Ini adalah sinyal yang telah mereka kirimkan kepada kami," katanya kepada wartawan.

Menanggapi kerja sama AS-Ukraina, Zelensky mengatakan Kyiv telah memberi isyarat kepada Washington bahwa mereka ingin membeli "paket besar" perlengkapan pertahanan.

"Kami siap mencari 30 miliar atau 50 miliar (dolar) untuk peralatan militer AS," katanya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Pesawat Pengebom Strategis...
Pesawat Pengebom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh saat Latihan Penerbangan, Apakah Ada Sabotase?
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
AS dan Iran Setujui...
AS dan Iran Setujui Kesepakatan untuk Akhiri Perang di Timur Tengah, Ini Isinya
Masuki Tahun Baru 1448...
Masuki Tahun Baru 1448 H, Arab Saudi Ganti Kain Kiswah Kakbah
Rekomendasi
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
BMKG Pantau Potensi...
BMKG Pantau Potensi Likuefaksi usai Gempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Berita Terkini
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Momen Terakhir Wanita...
Momen Terakhir Wanita Tewas dalam Bungee Jumping 39 Meter: 'Bernapas Terengah-engah'
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved