Puluhan Rudal dan Ratusan Drone Rusia Bombardir Ibu Kota Ukraina

Senin, 07 April 2025 - 06:41 WIB
loading...
Puluhan Rudal dan Ratusan...
Puluhan rudal dan ratusan drone Rusia telah membombardir Ibu Kota Ukraina, Kyiv, pada hari Minggu. Foto/Dinas Darurat Negara Ukraina
A A A
KYIV - Puluhan rudal dan ratusan drone Rusia telah membombardir Ibu Kota Ukraina, Kyiv, pada hari Minggu. Laporan sementara dari wali kota setempat, Vitali Klitschko, menyatakan satu orang tewas.

Angkatan Udara Ukraina melaporkan 23 rudal dan 109 drone serang Rusia diluncurkan, yang mana 13 rudal dan 40 done ditembak jatuh, dan 53 drone lainnya hilang dalam penerbangan tanpa menyebabkan kerusakan.

Kerusakan dilaporkan terjadi di wilayah Kyiv, Sumy, Kharkiv, Khmelnytskyi, Cherkasy, dan Mykolaiv, kata Angkatan Udara Ukraina.

Baca Juga: Rusia Tuding Zelensky Mainkan Permainan Berbahaya dengan Trump

Di ibu kota, Klitschko mengatakan satu orang tewas dan tiga orang terluka, sementara kebakaran terjadi di "bangunan nonperumahan”. Satu gedung perkantoran juga hancur sebagian.

Andriy Yermak, kepala kantor Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, menulis di Telegram: "Rusia meningkatkan intensitas serangan dan jelas tidak ingin menghentikan tembakan, tidak menginginkan perdamaian. Rusia ingin membunuh warga Ukraina, anak-anak kita."

"Bahasa kekerasan adalah satu-satunya yang dipahami [Presiden Rusia Vladimir] Putin," imbuh Yermak. "Semua mitra kita harus beralih ke bahasa ini."

Zelensky mengatakan serangan itu membuktikan bahwa tekanan terhadap Rusia masih belum cukup.

"Serangan semacam itu adalah respons Putin terhadap semua upaya diplomatik internasional," kata Zelensky dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Telegram, yang dikutip ABC, Senin (7/4/2025).

"Tidak ada pelonggaran tekanan. Semua kekuatan harus diarahkan untuk memastikan keamanan dan membawa perdamaian lebih dekat,” paparnya.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukannya menembak jatuh 11 drone Ukraina pada Sabtu malam di tiga wilayah Rusia.

Kedua belah pihak terus melancarkan serangan jarak jauh sementara negosiasi gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat (AS) terus berlanjut.

Bulan lalu, baik Kyiv maupun Moskow mengatakan mereka sepakat untuk membekukan serangan terhadap infrastruktur energi dan mengakhiri serangan di Laut Hitam.

Kedua belah pihak sejak itu menuduh pihak lain berulang kali melanggar perjanjian untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi.

Ukraina juga menuduh Rusia secara sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan besar selama seminggu terakhir.

Pada hari Jumat, serangan rudal balistik dan drone Rusia di kota Kryvyi Rih—kota kelahiran Zelensky—menewaskan 19 orang, termasuk sembilan anak-anak.

"Ya, perang harus berakhir," tulis Zelensky dalam pernyataan pada Sabtu pagi.

"Namun untuk mengakhirinya, kita tidak boleh takut untuk mengatakan apa adanya. Kita tidak boleh takut untuk menekan satu-satunya pihak yang melanjutkan perang ini dan mengabaikan semua usulan dunia untuk mengakhirinya,” imbuh dia.

"Kita harus menekan Rusia, yang memilih untuk membunuh anak-anak alih-alih gencatan senjata. Kita harus memberlakukan sanksi tambahan terhadap mereka yang tidak dapat hidup tanpa serangan balistik terhadap orang-orang tetangga. Kita harus melakukan segala yang mungkin untuk menyelamatkan nyawa,” paparnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 3 Tewas Tertimpa Reruntuhan, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Dewan Etik Partai Golkar...
Dewan Etik Partai Golkar Jatuhkan Sanksi kepada 3 Kader dari Sumsel
DPR: Kasus Chromebook...
DPR: Kasus Chromebook Adalah The New White Collar Crime Terbaik Tanpa Kriminalisasi
Lima Korban SPPI dan...
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
Berita Terkini
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Infografis
India Gunakan S-400...
India Gunakan S-400 Rusia dan Drone Israel untuk Lawan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved