PBB Tuduh Rusia Dukung Tentara Bayaran Wagner Group di Libya

Sabtu, 05 September 2020 - 08:23 WIB
loading...
PBB Tuduh Rusia Dukung...
Para milisi bersenjata yang terlibat perang di Libya. Foto/Libya Observer
A A A
NEW YORK CITY - Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa Rusia telah memperkuat dukungan logistiknya untuk perusahaan militer swasta Wagner Group di Libya. Setidaknya sekitar 338 penerbangan kargo dukungan Moskow dari Suriah dikirim dalam sembilan bulan hingga 31 Juli.

Laporan, yang dilihat oleh Reuters, menyatakan bahwa langkah itu bertujuan membantu kelompok tentara bayaran tersebut mendukung pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar di Libya timur.

Laporan yang tidak dipublikasikan—yang dibuat oleh pemantau sanksi independen dan diserahkan ke Komite Sanksi Libya di Dewan Keamanan PBB—juga menemukan bahwa Turki, Uni Emirat Arab, Yordania, Rusia dan Qatar telah melanggar embargo senjata di Libya.

Misi PBB di Yordania, Rusia, Qatar dan Uni Emirat Arab belum menanggapi permintaan komentar atas laporan tersebut. (Baca: Pakar: Turki Bisa Kerahkan Sistem Rudal S-400 Rusia ke Libya )

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada 5 Januari lalu bahwa jika ada orang Rusia di Libya, mereka tidak mewakili atau dibayar oleh pemerintahnya.

Laporan PBB menyimpulkan bahwa dukungan logistik langsung Rusia untuk Wagner Group, dan kemungkinan perusahaan militer swasta lainnya yang berbasis di Federasi Rusia, telah meningkat secara signifikan dari Januari hingga Juni 2020.

Laporan tersebut termasuk 338 penerbangan mencurigakan oleh pesawat militer Federasi Rusia antara 1 November 2019 hingga 31 Agustus 2020.

Pengawas sanksi mengatakan dalam laporan rahasia pada Mei bahwa Wagner Group Rusia memiliki hingga 1.200 personel yang ditempatkan di Libya. (Baca juga: Rusia Diduga Kerahkan Sistem Rudal S-400 ke Libya )

Libya mengalami kekacauan setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011 oleh rakyatnya yang memberontak dengan dukungan dari NATO. Sejak 2014, negara itu telah terpecah, dengan pemerintah yang diakui secara internasional mengendalikan Ibu Kota Libya; Tripoli, dan bagian barat laut, sedangkan kubu Haftar menguasai bagian timur Libya.

Haftar didukung oleh Mesir, UEA dan Rusia. Sedangkan Turki mendukung pemerintah Tripoli. "Embargo senjata tetap sama sekali tidak efektif," bunyi laporan PBB, seperti dikutip Reuters, Jumat (4/9/2020). "Sejak keterlibatan lebih langsung oleh Turki pada Desember 2019 dan UEA pada Januari 2020, transfer senjata ke Libya oleh kedua negara ini telah menyebar luas dan terang-terangan dengan mengabaikan langkah-langkah sanksi," lanjut laporan itu.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Mungkinkah Turki Serius...
Mungkinkah Turki Serius Hidupkan Kembali Kekuasaan Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem?
WSIS Prizes 2026 PBB:...
WSIS Prizes 2026 PBB: Dua Program Digitalisasi Kemendikdasmen Diakui Dunia
Dilema Sistem Petisi...
Dilema Sistem Petisi China: Antara Stabilitas Nasional dan Suara Warga
Putri Bajrakitiyabha...
Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia, Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional
Rekomendasi
KPK Rincikan Penyitaan...
KPK Rincikan Penyitaan Uang dari Geledah Rumah Silmy Karim
AS Juara Piala Dunia...
AS Juara Piala Dunia 2026, Jeep Siap Bagi-bagi Mobil Wrangler
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
Berita Terkini
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved