Trump Makin Simpati pada Rusia, Eropa Galau Andalkan Senjata Nuklir Siapa?
Senin, 17 Maret 2025 - 09:25 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump semakin bersimpati pada Rusia, negara-negara Eropa galau mencari perlindungan senjata nuklir ke pihak lain. Foto/Departemen Energi AS
A
A
A
LONDON - Hanya dua negara Eropa yang bersenjata nuklir, yakni Prancis dan Inggris.
Namun, cara mengoperasikan senjata nuklir Inggris tidak independen alias butuh kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).
Pertanyaan yang muncul di kalangan pejabat Eropa sekarang adalah apakah AS akan menggunakan senjata nuklirnya untuk membela Eropa di era Donald Trump yang tidak dapat diprediksi?
Tidak ada sekutu NATO di Eropa yang ingin menghadapi perang nuklir, atau pun pengabaian AS.
Baca Juga: Donald Trump: Seluruh Negara Harus Singkirkan Senjata Nuklir, Kekuatannya Gila!
Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa Trump semakin bersimpati kepada Rusia, dan menjauh dari teman-teman lama, negara-negara Eropa kini mendiskusikan bagaimana cara mengatasi ancaman serangan nuklir musuh—terutama Rusia —tanpa bantuan Amerika.
Negara-negara Eropa beralih ke Prancis dan Inggris sebagai opsi perlindungan.
Prancis memiliki sekitar 300 hulu ledak nuklir, yang sepenuhnya dikembangkan secara independen.
Militernya memiliki kekuatan untuk meluncurkan hulu ledak dari kapal selam atau menggunakan jet tempur dan pesawat pengebom untuk menjatuhkannya dari langit.
Inggris memiliki sekitar 250 hulu ledak nuklir, tetapi tidak seperti Prancis, London tidak serta-merta memegang kunci persenjataan nuklirnya sendiri.
Inggris mengembangkan senjata nuklirnya bekerja sama dengan AS.
Inggris dapat memutuskan kapan dan apakah akan menggunakannya, tetapi ia membutuhkan dukungan teknis dan logistik dari AS untuk dapat mengoperasikannya.
Lukasz Kulesa, direktur proliferasi dan kebijakan nuklir di Royal United Services Institute (RUSI), mengatakan tantangan akan muncul bagi Inggris jika kerja sama nuklirnya dengan AS berakhir.
Para pakar mengatakan Australia harus mengantisipasi Washington bersikap "skeptis" terhadap aliansi berbagi intelijen penting Five Eyes dan mengatakan aliansi AUKUS mungkin juga dalam masalah.
"Itu akan menyebabkan masalah serius dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, terutama dalam hal akses rudal balistik, yang merupakan tempat ketergantungan besar," kata Kulesa kepada ABC, Senin (17/3/2025).
Namun, cara mengoperasikan senjata nuklir Inggris tidak independen alias butuh kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).
Pertanyaan yang muncul di kalangan pejabat Eropa sekarang adalah apakah AS akan menggunakan senjata nuklirnya untuk membela Eropa di era Donald Trump yang tidak dapat diprediksi?
Tidak ada sekutu NATO di Eropa yang ingin menghadapi perang nuklir, atau pun pengabaian AS.
Baca Juga: Donald Trump: Seluruh Negara Harus Singkirkan Senjata Nuklir, Kekuatannya Gila!
Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa Trump semakin bersimpati kepada Rusia, dan menjauh dari teman-teman lama, negara-negara Eropa kini mendiskusikan bagaimana cara mengatasi ancaman serangan nuklir musuh—terutama Rusia —tanpa bantuan Amerika.
Negara-negara Eropa beralih ke Prancis dan Inggris sebagai opsi perlindungan.
Prancis memiliki sekitar 300 hulu ledak nuklir, yang sepenuhnya dikembangkan secara independen.
Militernya memiliki kekuatan untuk meluncurkan hulu ledak dari kapal selam atau menggunakan jet tempur dan pesawat pengebom untuk menjatuhkannya dari langit.
Inggris memiliki sekitar 250 hulu ledak nuklir, tetapi tidak seperti Prancis, London tidak serta-merta memegang kunci persenjataan nuklirnya sendiri.
Inggris mengembangkan senjata nuklirnya bekerja sama dengan AS.
Inggris dapat memutuskan kapan dan apakah akan menggunakannya, tetapi ia membutuhkan dukungan teknis dan logistik dari AS untuk dapat mengoperasikannya.
Lukasz Kulesa, direktur proliferasi dan kebijakan nuklir di Royal United Services Institute (RUSI), mengatakan tantangan akan muncul bagi Inggris jika kerja sama nuklirnya dengan AS berakhir.
Nasib Five Eyes dan AUKUS Juga Terancam
Para pakar mengatakan Australia harus mengantisipasi Washington bersikap "skeptis" terhadap aliansi berbagi intelijen penting Five Eyes dan mengatakan aliansi AUKUS mungkin juga dalam masalah.
"Itu akan menyebabkan masalah serius dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, terutama dalam hal akses rudal balistik, yang merupakan tempat ketergantungan besar," kata Kulesa kepada ABC, Senin (17/3/2025).
Lihat Juga :