AS Setop Pembiayaan Penjualan Senjata Baru ke Ukraina
Selasa, 04 Maret 2025 - 19:45 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump (kanan) memberi isyarat selama pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, 28 Februari 2025. Foto/Global Look Press/Jim LoScalzo/Keystone Press Agency
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menangguhkan pendanaan untuk penjualan senjata baru ke Ukraina, menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.
Dalam artikel pada hari Senin (3/3/2025), publikasi tersebut mengatakan, “Washington telah menghentikan pembiayaan penjualan senjata baru ke Ukraina dan sedang mempertimbangkan membekukan pengiriman senjata dari persediaan AS."
Segera setelah memangku jabatan pada bulan Januari, Trump menangguhkan semua bantuan asing, termasuk bantuan militer, kecuali ke Israel dan Mesir, sambil menunggu peninjauan.
Sementara itu, Axios mengklaim Trump akan mengadakan pertemuan pada hari Senin sore mengenai konflik Ukraina, "termasuk kemungkinan penangguhan bantuan militer AS."
Menurut outlet media tersebut, Wakil Presiden AS J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz dan beberapa pejabat senior lainnya diperkirakan akan ambil bagian.
The Washington Post, mengutip seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, memuat laporan serupa pada hari Senin, yang mengatakan Trump akan mengadakan pertemuan di kemudian hari untuk "membahas apakah akan mengakhiri bantuan militer ke Ukraina."
Surat kabar itu mengklaim selain menghentikan pengiriman senjata dan peralatan ke Kiev, penghentian pembagian informasi intelijen dan pelatihan bagi pasukan dan pilot Ukraina juga sedang dipertimbangkan.
Pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meramalkan perjanjian damai antara negaranya dan Rusia "masih sangat, sangat jauh."
Dia juga menyatakan keyakinannya meskipun terjadi pertikaian sengit dengan Trump dan Vance di Gedung Putih pada hari Jumat, "Ukraina memiliki kemitraan yang cukup kuat dengan Amerika Serikat" untuk menjaga agar bantuan tetap mengalir.
Mengomentari pernyataan pemimpin Ukraina itu di platform Truth Social miliknya, Presiden Trump menggambarkannya sebagai "pernyataan terburuk yang dapat dibuat Zelensky."
Dia lebih lanjut memperingatkan "Amerika tidak akan mentolerirnya lebih lama lagi," seraya menambahkan Zelensky "tidak menginginkan Perdamaian selama dia mendapat dukungan Amerika."
Berbicara kepada Fox News setelah akhir pekan, Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz mengisyaratkan, "Kesabaran rakyat Amerika tidak tak terbatas, dompet mereka tidak tak terbatas, dan persediaan serta amunisi kita tidak tak terbatas."
Pejabat itu menggambarkan Zelensky sebagai "masalah" karena penolakannya "membicarakan perdamaian."
"Waktu tidak berpihak padanya. Waktu tidak berpihak pada konflik yang terus berlanjut," tegas Waltz.
Dalam wawancara dengan outlet yang sama pada hari Minggu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pemimpin Ukraina telah diberi tahu dengan tegas selama pertemuan hari Jumat dengan Trump bahwa dukungan keuangan lebih lanjut akan bergantung pada kesediaan Ukraina merundingkan perdamaian dengan Rusia.
Baca juga: 3 Penyebab Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Retak, Salah Satunya karena Rusia
Dalam artikel pada hari Senin (3/3/2025), publikasi tersebut mengatakan, “Washington telah menghentikan pembiayaan penjualan senjata baru ke Ukraina dan sedang mempertimbangkan membekukan pengiriman senjata dari persediaan AS."
Segera setelah memangku jabatan pada bulan Januari, Trump menangguhkan semua bantuan asing, termasuk bantuan militer, kecuali ke Israel dan Mesir, sambil menunggu peninjauan.
Sementara itu, Axios mengklaim Trump akan mengadakan pertemuan pada hari Senin sore mengenai konflik Ukraina, "termasuk kemungkinan penangguhan bantuan militer AS."
Menurut outlet media tersebut, Wakil Presiden AS J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz dan beberapa pejabat senior lainnya diperkirakan akan ambil bagian.
The Washington Post, mengutip seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, memuat laporan serupa pada hari Senin, yang mengatakan Trump akan mengadakan pertemuan di kemudian hari untuk "membahas apakah akan mengakhiri bantuan militer ke Ukraina."
Surat kabar itu mengklaim selain menghentikan pengiriman senjata dan peralatan ke Kiev, penghentian pembagian informasi intelijen dan pelatihan bagi pasukan dan pilot Ukraina juga sedang dipertimbangkan.
Pada hari Minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meramalkan perjanjian damai antara negaranya dan Rusia "masih sangat, sangat jauh."
Dia juga menyatakan keyakinannya meskipun terjadi pertikaian sengit dengan Trump dan Vance di Gedung Putih pada hari Jumat, "Ukraina memiliki kemitraan yang cukup kuat dengan Amerika Serikat" untuk menjaga agar bantuan tetap mengalir.
Mengomentari pernyataan pemimpin Ukraina itu di platform Truth Social miliknya, Presiden Trump menggambarkannya sebagai "pernyataan terburuk yang dapat dibuat Zelensky."
Dia lebih lanjut memperingatkan "Amerika tidak akan mentolerirnya lebih lama lagi," seraya menambahkan Zelensky "tidak menginginkan Perdamaian selama dia mendapat dukungan Amerika."
Berbicara kepada Fox News setelah akhir pekan, Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz mengisyaratkan, "Kesabaran rakyat Amerika tidak tak terbatas, dompet mereka tidak tak terbatas, dan persediaan serta amunisi kita tidak tak terbatas."
Pejabat itu menggambarkan Zelensky sebagai "masalah" karena penolakannya "membicarakan perdamaian."
"Waktu tidak berpihak padanya. Waktu tidak berpihak pada konflik yang terus berlanjut," tegas Waltz.
Dalam wawancara dengan outlet yang sama pada hari Minggu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pemimpin Ukraina telah diberi tahu dengan tegas selama pertemuan hari Jumat dengan Trump bahwa dukungan keuangan lebih lanjut akan bergantung pada kesediaan Ukraina merundingkan perdamaian dengan Rusia.
Baca juga: 3 Penyebab Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Retak, Salah Satunya karena Rusia
(sya)
Lihat Juga :