Hamas Serukan Mobilisasi Massa Lawan Pembatasan Israel di Kompleks Masjid Al-Aqsa
Sabtu, 01 Maret 2025 - 03:01 WIB
loading...
Pasukan Israel memperketat akses ke Kompleks Masjid Al-Aqsa untuk umat Islam selama Ramadan. Foto/tasnim
A
A
A
GAZA - Anggota senior Hamas Abdul Rahman Shadid menyerukan "mobilisasi besar-besaran" di kompleks Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan, dan untuk mendobrak pembatasan Israel di Yerusalem Timur yang diduduki.
"Kita tidak boleh menyerah pada pembatasan pendudukan, dan kita harus menghadapinya dengan sekuat tenaga dan mematuhi hak historis dan religius kita atas masjid yang diberkahi," ujar dia dalam pernyataan yang dipublikasikan di saluran Telegram kelompok tersebut.
Dia menekankan, “Perlunya menginvestasikan kesempatan bulan Ramadan dalam melindungi Masjid Al-Aqsa dengan kerumunan yang bersorak, dan menghiasi halamannya dengan jemaah dan penjaga."
Sementara itu, Tahani Mustafa, pakar Israel-Palestina di International Crisis Group, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penting untuk "berhati-hati" ketika menunjukkan optimisme apa pun atas fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Dia mengatakan, “Para politisi Israel telah memperjelas mereka tidak tertarik pada fase kedua.”
“Publik Israel juga tidak benar-benar tertarik melihat penghentian permusuhan secara permanen," ujar dia.
Mustafa mengatakan, “Hamas menginginkan penghentian permusuhan dan itulah yang coba diperjuangkan kelompok itu, meskipun faktanya kami telah melihat lebih dari 400 pelanggaran Israel terhadap apa yang telah disepakati, setidaknya pada fase pertama."
"Kita tidak boleh menyerah pada pembatasan pendudukan, dan kita harus menghadapinya dengan sekuat tenaga dan mematuhi hak historis dan religius kita atas masjid yang diberkahi," ujar dia dalam pernyataan yang dipublikasikan di saluran Telegram kelompok tersebut.
Dia menekankan, “Perlunya menginvestasikan kesempatan bulan Ramadan dalam melindungi Masjid Al-Aqsa dengan kerumunan yang bersorak, dan menghiasi halamannya dengan jemaah dan penjaga."
Sementara itu, Tahani Mustafa, pakar Israel-Palestina di International Crisis Group, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penting untuk "berhati-hati" ketika menunjukkan optimisme apa pun atas fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Dia mengatakan, “Para politisi Israel telah memperjelas mereka tidak tertarik pada fase kedua.”
“Publik Israel juga tidak benar-benar tertarik melihat penghentian permusuhan secara permanen," ujar dia.
Mustafa mengatakan, “Hamas menginginkan penghentian permusuhan dan itulah yang coba diperjuangkan kelompok itu, meskipun faktanya kami telah melihat lebih dari 400 pelanggaran Israel terhadap apa yang telah disepakati, setidaknya pada fase pertama."
Lihat Juga :