TV Kremlin: Rusia Sekarang Dapat Menyerang 3 Ibu Kota Sekutu NATO

Senin, 17 Februari 2025 - 08:22 WIB
loading...
TV Kremlin: Rusia Sekarang...
Televisi pemerintah Rusia memperingatkan bahwa Moskow sekarang dapat menyerang tiga ibu kota sekutu NATO. Foto/MDAA
A A A
MOSKOW - Televisi pemerintah Rusia, Russia-1, memperingatkan bahwa Rusia sekarang dapat menyerang tiga ibu kota sekutu NATO, yakni Brussels, London, dan Paris.

Peringatan itu muncul dalam program "Evening with Vladimir Solovyov" dengan menghadirkan ilmuwan politik terkenal Rusia; Sergey Mikheyev.

Di program tersebut, Mikheyev menekankan tentang perubahan sikap Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia dan Ukraina.

"Jelas bahwa apa yang terjadi adalah berita baik. Ini sangat berbeda dari semua yang pernah kita lihat sebelumnya," katanya dalam program tersebut pada Minggu, yang diterjemahkan oleh jurnalis Julia Davis, sebagaiamana dilansir Newsweek, Senin (17/2/2025).

Baca Juga: Inggris Umumkan Siap Kerahkan Tentara ke Ukraina

"Jika Anda membandingkan retorika tim [Donald] Trump dengan retorika [Joe] Biden, keduanya sangat berbeda," ujarnya. "Sekarang, tidak ada isolasi, bahkan dari pihak Amerika."

Dia kemudian merujuk pada sikap pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap pasukan AS dan Pasal 5 NATO, dengan mencatat klaim Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa pasukan AS tidak akan terlibat dalam konflik dengan Rusia.

"Kita harus menjelaskan pemikiran ini kepada orang Eropa, sekarang kita benar-benar dapat menyerang Brussels, London, dan Paris. Kita dapat melupakan Pasal 5 dan melupakan Amerika yang maju untuk membantu," papar Mikheyev.

Pasal 5 menetapkan bahwa jika sekutu NATO menjadi korban serangan bersenjata, setiap anggota aliansi lainnya akan menganggap tindakan kekerasan ini sebagai serangan bersenjata terhadap semua anggota dan akan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk membantu sekutu yang diserang.

Belgia, Inggris Raya, dan Prancis semuanya adalah negara anggota NATO.

Kebijakan luar negeri pemerintahan Trump mengisyaratkan penyimpangan dari komitmen AS sebelumnya dan dapat memengaruhi posisi strategis Ukraina.

Selama tiga tahun terakhir, sekitar 50 negara telah memberikan lebih dari USD126 miliar dalam bentuk bantuan militer ke Kyiv tetapi perubahan prioritas AS dapat menekan sekutu Eropa untuk meningkatkan kontribusi mereka.

Prioritas AS saat ini adalah mengamankan perbatasannya ketimbang mengurusi keamanan Eropa.

Sementara itu, Rusia tampaknya sedang menilai kembali pilihan politiknya di tengah perubahan sikap pemerintah AS.

Hegseth sebelumnya telah berbicara di markas NATO di Brussels pada hari Rabu, di mana dia mengatakan: "Kembali ke perbatasan Ukraina sebelum tahun 2014 adalah tujuan yang tidak realistis."

Trump juga meminta negara-negara Eropa untuk mengambil alih sebagian besar dukungan pertahanan Ukraina, termasuk pasukan penjaga perdamaian yang diusulkan yang tidak akan melibatkan pasukan AS.

"Untuk lebih jelasnya, sebagai bagian dari jaminan keamanan, tidak akan ada pasukan AS yang dikerahkan ke Ukraina," kata Hegseth.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menulis di X pada hari Jumat: "Federasi Rusia tidak ingin mengakhiri perang dan terus meningkatkan ketegangan global. Itulah sebabnya dukungan militer AS sangat penting bagi Ukraina. Hanya dengan cara ini kita dapat mencapai perdamaian yang adil dan abadi."

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyerukan pertemuan darurat bagi para pemimpin Eropa untuk membahas Ukraina dan peran AS dalam pertemuan yang kemungkinan akan diadakan pada hari Senin, menurut laporan The Guardian.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
Harga Minyak Dunia Turun...
Harga Minyak Dunia Turun usai Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dekati Level Sebelum Perang AS-Iran
Rekomendasi
3 Prioritas Pramono...
3 Prioritas Pramono Anung Jelang 5 Abad Kota Jakarta
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
Jejak Perang yang Diabadikan...
Jejak Perang yang Diabadikan dalam Al Quran, Apa Saja?
Berita Terkini
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Pakar Militer Ini Ungkap...
Pakar Militer Ini Ungkap AS dan Iran Masih Berusaha Raih Klaim Kemenangan
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Infografis
Negara NATO Ini Klaim...
Negara NATO Ini Klaim akan Diinvasi Rusia dalam Beberapa Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved