Sama-sama Operasikan S-400 Rusia, Mengapa India Boleh Miliki Jet Siluman F-35 AS tapi Turki Tidak?

Minggu, 16 Februari 2025 - 12:15 WIB
loading...
Sama-sama Operasikan...
Sama-sama operasikan sistem rudal S-400 Rusia, mengapa India boleh membeli jet tempur siluman F-35 AS, sedangkan Turki dilarang. Foto/Military Watch Magazine
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara tak terduga telah membuka jalan bagi Amerika untuk menjual jet tempur siluman F-35 kepada India.

Ini memicu pertanyaan kritis dari pihak Turki yang dicegah memiliki pesawat tempur canggih tersebut dengan alasan Ankara mengoperasikan sistem rudal S-400 Rusia. Padahal, India juga mengoperasikan senjata pertahanan serupa.

Pada 13 Februari, Presiden Trump dalam pertemuan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di Washington menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk menjual jet tempur siluman F-35 ke New Delhi.

Selama konferensi pers, Modi tidak secara langsung menanggapi komentar Trump tentang F-35 tetapi sebaliknya berfokus pada kemitraan pertahanan yang lebih luas antara kedua negara.

Baca Juga: AS Ingin Jual Jet Tempur Siluman F-35 ke India, Negara Islam Bersenjata Nuklir Ini Geram

Selain itu, pernyataan resmi dari pemerintah India memperkuat harapan untuk menyelesaikan pesanan baru untuk enam pesawat patroli maritim Boeing P-8I, yang akan memperluas armada India saat ini yang berjumlah 12 unit.

Meskipun perkembangan ini telah memacu diskusi di India tentang Su-57 Rusia dan F-35 Amerika yang berpotensi bersaing untuk mendapatkan kesepakatan Angkatan Udara India, hal itu juga telah memicu reaksi tajam dari Pakistan, yang memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memperlebar kesenjangan militer dan mengancam stabilitas regional.

Selama jumpa pers mingguan pada 14 Februari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Shafqat Ali Khan memperingatkan tentang dampak dari transfer senjata tersebut, dengan menambahkan bahwa hal itu memperburuk ketidakseimbangan militer di kawasan tersebut dan mengancam stabilitas strategis.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak banyak membantu untuk mendukung tujuan perdamaian abadi di Asia Selatan.

“Tindakan tersebut tetap tidak membantu dalam mencapai tujuan perdamaian abadi di Asia Selatan. Kami mendesak mitra internasional kami untuk mengambil pandangan holistik dan objektif tentang masalah perdamaian dan keamanan di Asia Selatan dan menahan diri dari mendukung posisi yang sepihak dan menyimpang dari kenyataan di lapangan,” paparnya.

Namun, tuduhan Pakistan bahwa kesepakatan tersebut akan mengganggu upaya untuk menjaga perdamaian di kawasan tersebut tampak kontradiktif, mengingat bahwa negara itu juga dilaporkan sedang dalam proses memperoleh jet tempur generasi kelima dari China.

Turki Mempertanyakan Standar Ganda AS


Pakistan tidak sendirian dalam kemarahannya atas pengumuman Trump.

Keputusan tersebut juga telah mengirimkan gelombang kejut ke Turki, sekutu setia Pakistan, yang dikeluarkan dari program F-35 oleh Amerika setelah membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.

Gema frustrasi semakin keras, karena banyak orang di Turki melihat langkah ini sebagai contoh lain dari kebijakan selektif Washington. Meskipun pejabat Turki tetap bungkam mengenai masalah tersebut, reaksi dari masyarakat Ankara sama sekali tidak tenang.

Mengutip laporan EurAsian Times, Minggu (16/2/2025), platform media sosial, khususnya X, telah dibanjiri dengan tuduhan "kemunafikan" dan "standar ganda" Amerika Serikat.

Banyak warga Turki pengguna media sosial mempertanyakan mengapa India, meskipun memperoleh sistem S-400 buatan Rusia yang sama, terus menikmati dukungan Washington sementara Turki dikeluarkan dari program F-35 tanpa ragu-ragu.

Didepaknya Turki dari program F-35 pada tahun 2019 dibenarkan oleh AS dengan alasan bahwa mengoperasikan F-35 dan S-400 menimbulkan risiko keamanan yang besar, yang berpotensi membahayakan teknologi siluman jet tempur generasi kelima tersebut.

Namun, akuisisi serupa oleh India tidak memicu konsekuensi yang sama.

Faktanya, alih-alih menjatuhkan sanksi, Parlemen AS kemudian memberikan pengecualian kepada India berdasarkan Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA), yang secara efektif melindunginya dari hukuman.

Jurnalis penerbangan Gareth Jennings menanggapi reaksi keras publik Turki tersebut, dengan menyatakan bahwa meskipun frustrasi di Turki dapat dimengerti, situasinya telah berubah di bawah pemerintahan Trump.

Dia bersugesti bahwa kebijakan sebelumnya tidak lagi berlaku dengan cara yang sama, menyiratkan bahwa standar ganda yang dipersepsikan lebih tentang pergeseran prioritas politik daripada bias langsung.

Beberapa pihak juga menunjukkan perbedaan utama antara situasi Turki dan India. Turki, sebagai anggota NATO, akan menerima versi F-35 berstandar NATO, menjadikan keberadaan S-400 sebagai ancaman langsung terhadap sistem pertahanan sekutu.

Sebaliknya, AS dapat menawarkan India varian F-35 yang disesuaikan yang dilengkapi dengan teknologi lokal, yang dirancang untuk beroperasi secara independen dari sistem militer terpadu NATO.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Raksasa Teknologi Oracle...
Raksasa Teknologi Oracle PHK 21.000 Karyawan usai Fokus Bisnis Beralih ke AI
Rekomendasi
Guru MI di Karawang...
Guru MI di Karawang Dilatih Kuasai E-LKPD Berbasis STEM
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Berita Terkini
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Infografis
Pesawat Pengebom Rusia...
Pesawat Pengebom Rusia Dicegat Jet Tempur Siluman F-35 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved