Liga Arab: Seruan Netanyahu soal Negara Palestina Didirikan di Arab Saudi Adalah Ilusi!
Senin, 10 Februari 2025 - 10:30 WIB
loading...
Liga Arab kecam keras PM Israel Benjamin Netanyahu yang serukan Negara Palestina didirikan di wilayah Kerajaan Arab Saudi. Foto/Marc Israel Sellem/Jerusalem Post
A
A
A
RIYADH - Liga Arab mengecam keras Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang menyerukan Negara Palestina didirikan di wilayah Kerajaan Arab Saudi.
“Logika di balik pernyataan itu tidak dapat diterima dan mencerminkan pemisahan total dari kenyataan,” kata kepala Liga Arab Ahmed Aboul Gheit dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
"Itu tidak lebih dari sekadar fantasi atau ilusi," lanjut dia.
Baca Juga: Pejabat Arab Saudi Balas Netanyahu: Pindahkan Saja Israel ke Alaska
Seruan Netanyahu itu disampaikan dalam wawancaranya dengan Channel 14 pada Kamis lalu. Awalnya, dia menyinggung tuntutan pembentukan Negara Palestina sebagai syarat yang diajukan Arab Saudi untuk normalisasi hubungan dengan Israel.
Penyiar Channel 14 Yaakov Bardugo menanyakan syarat tersebut, dengan keliru menyebut "Negara Palestina" sebagai "Negara Saudi".
Netanyahu segera mengoreksinya, tetapi membalas dengan mengatakan: "Saudi dapat mendirikan Negara Palestina di Arab Saudi; mereka memiliki banyak tanah di sana."
Bardugo merespons bahwa itu adalah ide menarik yang tidak boleh dikesampingkan, dan Netanyahu mengulangi ucapannya, dengan mengatakan bahwa Arab Saudi memang memiliki banyak wilayah.
Netanyahu menambahkan bahwa selama negosiasi Perjanjian Abraham yang menghasilkan kesepakatan normalisasi dengan negara-negara Arab lainnya, ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, tetapi pada akhirnya kesepakatan tersebut ditandatangani.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menolak seruan Netanyahu tersebut meski tidak menyebutkan langsung narasi pembentukan Negara Palestina di wilayah Saudi.
"Mentalitas pendudukan Israel yang ekstremis tidak memahami apa arti tanah Palestina bagi saudara-saudara Palestina dan hubungan emosional, historis, dan hukum mereka dengan tanah ini," katanya.
Mesir dan Yordania secara langsung mengutuk seruan Netanyahu, di mana Kairo menggambarkan gagasan itu sebagai pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Saudi.
Qatar mengutuk komentar Netanyahu itu sebagai seruan provokatif.
Arab Saudi mengatakan kerajaan menghargai respons penolakan negara-negara Arab terhadap pernyataan Netanyahu.
Arab Saudi tidak mengakui Israel, tetapi sejak tahun 2020 telah merundingkan pemulihan hubungan dengan imbalan pakta pertahanan AS dan bantuan Washington untuk program nuklir sipil.
Menurut Times of Israel, pembicaraan tersebut digagalkan oleh serangan kelompok milisi Palestina yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel yang memicu perang Gaza.
“Logika di balik pernyataan itu tidak dapat diterima dan mencerminkan pemisahan total dari kenyataan,” kata kepala Liga Arab Ahmed Aboul Gheit dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
"Itu tidak lebih dari sekadar fantasi atau ilusi," lanjut dia.
Baca Juga: Pejabat Arab Saudi Balas Netanyahu: Pindahkan Saja Israel ke Alaska
Seruan Netanyahu itu disampaikan dalam wawancaranya dengan Channel 14 pada Kamis lalu. Awalnya, dia menyinggung tuntutan pembentukan Negara Palestina sebagai syarat yang diajukan Arab Saudi untuk normalisasi hubungan dengan Israel.
Penyiar Channel 14 Yaakov Bardugo menanyakan syarat tersebut, dengan keliru menyebut "Negara Palestina" sebagai "Negara Saudi".
Netanyahu segera mengoreksinya, tetapi membalas dengan mengatakan: "Saudi dapat mendirikan Negara Palestina di Arab Saudi; mereka memiliki banyak tanah di sana."
Bardugo merespons bahwa itu adalah ide menarik yang tidak boleh dikesampingkan, dan Netanyahu mengulangi ucapannya, dengan mengatakan bahwa Arab Saudi memang memiliki banyak wilayah.
Netanyahu menambahkan bahwa selama negosiasi Perjanjian Abraham yang menghasilkan kesepakatan normalisasi dengan negara-negara Arab lainnya, ada banyak tuntutan yang harus dipenuhi, tetapi pada akhirnya kesepakatan tersebut ditandatangani.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menolak seruan Netanyahu tersebut meski tidak menyebutkan langsung narasi pembentukan Negara Palestina di wilayah Saudi.
"Mentalitas pendudukan Israel yang ekstremis tidak memahami apa arti tanah Palestina bagi saudara-saudara Palestina dan hubungan emosional, historis, dan hukum mereka dengan tanah ini," katanya.
Mesir dan Yordania secara langsung mengutuk seruan Netanyahu, di mana Kairo menggambarkan gagasan itu sebagai pelanggaran langsung terhadap kedaulatan Saudi.
Qatar mengutuk komentar Netanyahu itu sebagai seruan provokatif.
Arab Saudi mengatakan kerajaan menghargai respons penolakan negara-negara Arab terhadap pernyataan Netanyahu.
Arab Saudi tidak mengakui Israel, tetapi sejak tahun 2020 telah merundingkan pemulihan hubungan dengan imbalan pakta pertahanan AS dan bantuan Washington untuk program nuklir sipil.
Menurut Times of Israel, pembicaraan tersebut digagalkan oleh serangan kelompok milisi Palestina yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel yang memicu perang Gaza.
(mas)
Lihat Juga :