Polarisasi Politik AS Semakin Kentara
Kamis, 03 September 2020 - 11:12 WIB
loading...
A
A
A
Sejak pembunuhan George Floyd oleh petugas keamanan, polarisasi kembali memanas. Kekerasan terhadap para demonstran semakin meluas. Trump pun berulang kali mengungkapkan satu frasa yang diutarakan kepala polisi Miami yang rasis pada 1967: “When the looting starts, the shooting starts.”
Padahal, pemimpin sebelumnya berusaha menghindari perpecahan. George W Bush berjanji menjadi “a uniter, not a divider.” Kemudian, Barack Obama menggambarkan negara di mana memiliki negara bagian Merah dan Biru akan menyatu menjadi satu AS. “Kedua gagal mencairkan polarisasi. Dan justru Trump memperparah popularisasi,” kata John Kenneth White, pakar politik The Catholic University of America dan penulis “What Happened to the Republican Party?”, dilansir The Hill.
![Polarisasi Politik AS Semakin Kentara]()
Polarisasi politik juga merambah ke pandemi korona. Walaupun semua orang sepakat bahwa pandemi itu memang isu kesehatan yang menjadi isu bersama. Trump pun memanfaatkan isu tersebut untuk tetap menjaga loyalitas pendukung Partai Republik.
Polarisasi pun kembali dimainkan Trump saat berkunjung ke Kenosha, Wisconsin, yang dilanda kerusuhan antara warga kulit hitam dan aparat kepolisian. Kunjungan tersebut menunjukkan dukungan kepada aparat kepolisian.
Trump pun menyalahkan teror domestik atas kerusakan parah yang terjadi di kota tersebut. Kerusuhan di Kenosha telah terjadi sejak 23 Agustus lalu sejak polisi menembak Jacob Blake sebanyak tujuh kali. Trump justru bukan menyembuhkan krisis ketidakadilan dan rasial, tetapi justru memanaskannya. Dia terus mengampanyekan pesan “hukum dan tatanan” untuk memperkuat kembali dukungan kaum kulit putih.
Strategi tersebut kali ini sepertinya berhasil. Beberapa jajak pendapat menyatakan popularitasnya kini kian mendekati mantan Wakil Presiden Joe Biden. (Baca juga: Dilanda Kekeringan, Petani Bogor Diminta Segara Urus Klaim Asuransi)
Padahal, pemimpin sebelumnya berusaha menghindari perpecahan. George W Bush berjanji menjadi “a uniter, not a divider.” Kemudian, Barack Obama menggambarkan negara di mana memiliki negara bagian Merah dan Biru akan menyatu menjadi satu AS. “Kedua gagal mencairkan polarisasi. Dan justru Trump memperparah popularisasi,” kata John Kenneth White, pakar politik The Catholic University of America dan penulis “What Happened to the Republican Party?”, dilansir The Hill.

Polarisasi politik juga merambah ke pandemi korona. Walaupun semua orang sepakat bahwa pandemi itu memang isu kesehatan yang menjadi isu bersama. Trump pun memanfaatkan isu tersebut untuk tetap menjaga loyalitas pendukung Partai Republik.
Polarisasi pun kembali dimainkan Trump saat berkunjung ke Kenosha, Wisconsin, yang dilanda kerusuhan antara warga kulit hitam dan aparat kepolisian. Kunjungan tersebut menunjukkan dukungan kepada aparat kepolisian.
Trump pun menyalahkan teror domestik atas kerusakan parah yang terjadi di kota tersebut. Kerusuhan di Kenosha telah terjadi sejak 23 Agustus lalu sejak polisi menembak Jacob Blake sebanyak tujuh kali. Trump justru bukan menyembuhkan krisis ketidakadilan dan rasial, tetapi justru memanaskannya. Dia terus mengampanyekan pesan “hukum dan tatanan” untuk memperkuat kembali dukungan kaum kulit putih.
Strategi tersebut kali ini sepertinya berhasil. Beberapa jajak pendapat menyatakan popularitasnya kini kian mendekati mantan Wakil Presiden Joe Biden. (Baca juga: Dilanda Kekeringan, Petani Bogor Diminta Segara Urus Klaim Asuransi)
Lihat Juga :