Mengapa Mesir dan Yordania Menolak Usulan Trump untuk Menampung Pengungsi Gaza?
Senin, 27 Januari 2025 - 01:10 WIB
loading...
A
A
A
Dalam perang Timur Tengah 1967, ketika Israel merebut Tepi Barat dan Jalur Gaza, 300.000 warga Palestina lainnya melarikan diri, sebagian besar ke Yordania.
Krisis pengungsi yang telah berlangsung puluhan tahun telah menjadi pendorong utama konflik Israel-Palestina dan merupakan salah satu masalah paling pelik dalam perundingan damai yang terakhir kali gagal pada tahun 2009. Palestina mengklaim hak untuk kembali, sementara Israel mengatakan mereka harus diserap oleh negara-negara Arab di sekitarnya.
Baca Juga: Lebanon Kembali Membara! 11 Warga Tewas Ditembak Tentara Israel
Tetap bertahan di tanah sendiri merupakan inti dari budaya Palestina, dan hal itu terlihat jelas di Gaza pada hari Minggu, ketika ribuan orang mencoba untuk kembali ke bagian wilayah yang paling hancur.
Kedua negara telah berdamai dengan Israel tetapi mendukung pembentukan negara Palestina di Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan Yerusalem timur, wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah tahun 1967. Mereka khawatir bahwa pemindahan penduduk Gaza secara permanen dapat membuat hal itu mustahil.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi juga telah memperingatkan tentang implikasi keamanan dari pemindahan sejumlah besar warga Palestina ke Semenanjung Sinai Mesir, yang berbatasan dengan Gaza.
“Perdamaian yang telah kita capai akan lenyap dari tangan kita,” kata el-Sissi pada Oktober 2023, setelah serangan Hamas di Israel selatan memicu perang, dilansir AP. “Semua demi gagasan melenyapkan perjuangan Palestina.”
Tahun 1970-an, ketika Organisasi Pembebasan Palestina milik Yasser Arafat, kelompok pejuang terkemuka pada masanya, mengubah wilayah selatan negara itu menjadi landasan peluncuran untuk menyerang Israel. Krisis pengungsi dan tindakan PLO turut mendorong Lebanon ke dalam perang saudara selama 15 tahun pada tahun 1975. Israel menginvasi dua kali dan menduduki Lebanon selatan dari tahun 1982 hingga tahun 2000.
Krisis pengungsi yang telah berlangsung puluhan tahun telah menjadi pendorong utama konflik Israel-Palestina dan merupakan salah satu masalah paling pelik dalam perundingan damai yang terakhir kali gagal pada tahun 2009. Palestina mengklaim hak untuk kembali, sementara Israel mengatakan mereka harus diserap oleh negara-negara Arab di sekitarnya.
Baca Juga: Lebanon Kembali Membara! 11 Warga Tewas Ditembak Tentara Israel
2. Trauma dengan Nakba
Banyak warga Palestina memandang perang terbaru di Gaza, di mana seluruh lingkungan telah dibombardir hingga hancur dan 90% dari populasi 2,3 juta orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka, sebagai Nakba baru. Mereka khawatir jika sejumlah besar warga Palestina meninggalkan Gaza, maka mereka juga tidak akan pernah kembali.Tetap bertahan di tanah sendiri merupakan inti dari budaya Palestina, dan hal itu terlihat jelas di Gaza pada hari Minggu, ketika ribuan orang mencoba untuk kembali ke bagian wilayah yang paling hancur.
3. Mesir dan Yordania Sudah Menolak Gagasan Menerima Pengungsi Gaza sejak Lama
Mesir dan Yordania dengan keras menolak gagasan untuk menerima pengungsi Gaza di awal perang, ketika gagasan itu digulirkan oleh beberapa pejabat Israel.Kedua negara telah berdamai dengan Israel tetapi mendukung pembentukan negara Palestina di Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan Yerusalem timur, wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah tahun 1967. Mereka khawatir bahwa pemindahan penduduk Gaza secara permanen dapat membuat hal itu mustahil.
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi juga telah memperingatkan tentang implikasi keamanan dari pemindahan sejumlah besar warga Palestina ke Semenanjung Sinai Mesir, yang berbatasan dengan Gaza.
4. Takut Pejuang Hamas Akan Ikut Mengungsi
Hamas dan kelompok lainnya berakar kuat dalam masyarakat Palestina dan kemungkinan akan pindah bersama para pengungsi, yang berarti bahwa perang di masa mendatang akan terjadi di tanah Mesir, sesuatu yang dapat menggoyahkan perjanjian damai Camp David yang bersejarah, landasan stabilitas regional.“Perdamaian yang telah kita capai akan lenyap dari tangan kita,” kata el-Sissi pada Oktober 2023, setelah serangan Hamas di Israel selatan memicu perang, dilansir AP. “Semua demi gagasan melenyapkan perjuangan Palestina.”
Tahun 1970-an, ketika Organisasi Pembebasan Palestina milik Yasser Arafat, kelompok pejuang terkemuka pada masanya, mengubah wilayah selatan negara itu menjadi landasan peluncuran untuk menyerang Israel. Krisis pengungsi dan tindakan PLO turut mendorong Lebanon ke dalam perang saudara selama 15 tahun pada tahun 1975. Israel menginvasi dua kali dan menduduki Lebanon selatan dari tahun 1982 hingga tahun 2000.
5. PLO Juga Bisa Jadi Benalu
Yordania, yang berselisih dengan PLO dan mengusirnya dalam situasi yang sama pada tahun 1970, telah menampung lebih dari 2 juta pengungsi Palestina, yang sebagian besar telah diberikan kewarganegaraan.Lihat Juga :