Pakar Sebut Tes Antibodi Lawan Covid-19 Tak Bisa Diandalkan

Sabtu, 02 Mei 2020 - 23:23 WIB
loading...
Pakar Sebut Tes Antibodi...
Ilustrasi
A A A
WASHINGTON - Sejumlah pakar mengatakan, tes antibodi yang telah disebut-sebut sebagai solusi untuk mengakhiri penguncian dan membuat orang kembali bekerja, ternyata tidak dapat diandalkan. Tes antibodi seharusnya mengungkapkan apakah seseorang memiliki penyakit, dalam hal ini Covid-19.

Pemerintah di sejumlah negara, termasuk Jerman dan Swedia telah menyarankan bahwa menggunakan tes antibodi untuk menentukan apakah orang sudah terinfeksi Covid-19 dapat menjadi jalan untuk mengurangi penguncian dan kembali normal, berdasarkan pada asumsi bahwa orang yang sudah pernah terinfeksi akan memiliki kekebalan, yang memungkinkan mereka untuk meninggalkan rumah dan kembali bekerja.

Tetapi, para ahli di Amerika Serikat (AS) meningkatkan kekhawatiran tentang kualitas alat tes antibodi Covid-19 yang sekarang ada di pasaran. Ini memberikan potensi kelemahan utama dalam strategi tersebut.

Menurut penelitian baru yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan, dari 14 alat tes berbeda yang tersedia di pasaran, hanya tiga yang memberikan hasil yang dapat diandalkan secara konsisten, dengan sebagian besar dari mereka secara keliru menandakan antibodi pada orang yang tidak memilikinya.

Meskipun penelitian ini belum ditinjau oleh sejawat dan dapat direvisi, temuan ini meningkatkan kekhawatiran tentang perjalanan pandemi. Jika orang mengandalkan tes ini, mereka mungkin percaya diri bahwa mereka kebal terhadap virus, padahal mereka tidak kebal dan menempatkan diri mereka dalam bahaya.

Para peneliti yang dipimpin oleh Alexander Marson, seorang ahli imunologi di University of California dan Patrick Hsu, seorang bioengineer di University of California, menganalisis 10 alat tes cepat yang memberikan sinyal ya-tidak untuk antibodi dan dua tes menggunakan teknik laboratorium yang dikenal sebagai Elisa yang menunjukkan jumlah antibodi yang ada dan umumnya dianggap lebih dapat diandalkan.

Empat dari tes menghasilkan tingkat positif palsu, berkisar antara 11 hingga 16 persen, sementara banyak sisanya berkisar sekitar lima persen. Keempat tes dengan positif palsu paling sedikit dibuat oleh Sure Biotech, Wondfo Biotech dan dua tes Eliza.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
Waspada! AS Rencanakan...
Waspada! AS Rencanakan Perang yang Lebih Luas dengan Iran
Militer AS Tutupi Jumlah...
Militer AS Tutupi Jumlah Korban Luka dan Tewas, Malu karena Kalah Perang Iran?
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Kebakaran Panti Asuhan...
Kebakaran Panti Asuhan Tewaskan Setidaknya 11 Orang, Termasuk Anak-Anak
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Serukan Bangun Permukiman Yahudi di Gaza
Rekomendasi
Bittime: Pasar Tokenisasi...
Bittime: Pasar Tokenisasi Aset RI Diramal Sentuh USD88 Miliar di 2030
9 Jaksa Mulai Bekerja...
9 Jaksa Mulai Bekerja Tangani Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Timnas Argentina Pulang...
Timnas Argentina Pulang Tanpa Trofi Disambut Bak Juara, Bagaimana Masa Depan Lionel Messi?
Berita Terkini
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
Waspada! AS Rencanakan...
Waspada! AS Rencanakan Perang yang Lebih Luas dengan Iran
Saat Banyak Orang Bermigrasi...
Saat Banyak Orang Bermigrasi ke Berlin, tapi 288.000 Warga Jerman Justru Pilih Tinggalkan Negaranya
Infografis
Zionis Israel Tak Bisa...
Zionis Israel Tak Bisa Hancurkan Hamas secara Militer
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved