Jumlah Korban Tewas di Gaza Sebenarnya Bisa Capai 64.260 Jiwa
Jum'at, 10 Januari 2025 - 20:45 WIB
loading...
A
A
A
Metode ini melibatkan referensi silang beberapa sumber data untuk memperkirakan total korban tewas.
Data untuk analisis ini berasal dari tiga daftar: daftar jenazah yang diidentifikasi Kementerian Kesehatan Gaza, survei daring yang diprakarsai Kementerian Kesehatan tempat warga Palestina melaporkan kematian kerabat mereka, dan berita kematian yang diunggah di platform media sosial seperti X, Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
"Kami hanya memasukkan mereka yang dipastikan meninggal oleh kerabat mereka atau yang dipastikan meninggal oleh kamar mayat dan rumah sakit," papar penulis utama studi Zeina Jamaluddine, ahli epidemiologi di London School of Hygiene and Tropical Medicine.
"Kemudian kami melihat tumpang tindih antara ketiga daftar tersebut, dan berdasarkan tumpang tindih ini, Anda dapat memperoleh estimasi total populasi yang terbunuh," ujar dia.
Patrick Ball, ahli statistik di Human Rights Data Analysis Group yang berbasis di AS yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengonfirmasi validitas metode tangkap-tangkap kembali.
"Teknik ini telah digunakan selama berabad-abad, dan saya yakin para peneliti telah mencapai estimasi yang baik untuk Gaza," ujar Ball.
Kevin McConway, profesor statistik terapan di Universitas Terbuka Inggris, juga memuji para peneliti atas pendekatan mereka.
"Pasti ada banyak ketidakpastian saat membuat estimasi dari data yang tidak lengkap," papar dia. "Namun, sangat mengagumkan para peneliti menggunakan tiga pendekatan analisis statistik lainnya untuk memeriksa estimasi mereka. Secara keseluruhan, saya menganggap estimasi ini cukup meyakinkan," simpul dia.
Meskipun metodologinya menyeluruh, penelitian ini mengakui beberapa keterbatasan. Data tersebut tidak memperhitungkan 10.000 warga Gaza yang diyakini terkubur di bawah reruntuhan, dan jumlah korban tewas mungkin masih diremehkan karena penyebab kematian tidak langsung seperti kurangnya layanan kesehatan, makanan, air, sanitasi, atau penyebaran penyakit.
Data untuk analisis ini berasal dari tiga daftar: daftar jenazah yang diidentifikasi Kementerian Kesehatan Gaza, survei daring yang diprakarsai Kementerian Kesehatan tempat warga Palestina melaporkan kematian kerabat mereka, dan berita kematian yang diunggah di platform media sosial seperti X, Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
"Kami hanya memasukkan mereka yang dipastikan meninggal oleh kerabat mereka atau yang dipastikan meninggal oleh kamar mayat dan rumah sakit," papar penulis utama studi Zeina Jamaluddine, ahli epidemiologi di London School of Hygiene and Tropical Medicine.
"Kemudian kami melihat tumpang tindih antara ketiga daftar tersebut, dan berdasarkan tumpang tindih ini, Anda dapat memperoleh estimasi total populasi yang terbunuh," ujar dia.
Pendapat Pakar
Patrick Ball, ahli statistik di Human Rights Data Analysis Group yang berbasis di AS yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengonfirmasi validitas metode tangkap-tangkap kembali.
"Teknik ini telah digunakan selama berabad-abad, dan saya yakin para peneliti telah mencapai estimasi yang baik untuk Gaza," ujar Ball.
Kevin McConway, profesor statistik terapan di Universitas Terbuka Inggris, juga memuji para peneliti atas pendekatan mereka.
"Pasti ada banyak ketidakpastian saat membuat estimasi dari data yang tidak lengkap," papar dia. "Namun, sangat mengagumkan para peneliti menggunakan tiga pendekatan analisis statistik lainnya untuk memeriksa estimasi mereka. Secara keseluruhan, saya menganggap estimasi ini cukup meyakinkan," simpul dia.
Keterbatasan dan Kritik
Meskipun metodologinya menyeluruh, penelitian ini mengakui beberapa keterbatasan. Data tersebut tidak memperhitungkan 10.000 warga Gaza yang diyakini terkubur di bawah reruntuhan, dan jumlah korban tewas mungkin masih diremehkan karena penyebab kematian tidak langsung seperti kurangnya layanan kesehatan, makanan, air, sanitasi, atau penyebaran penyakit.
Lihat Juga :