Cara Israel Bunuh Bos Hizbullah Hassan Nasrallah: Kerahkan 14 Jet Tempur dan 80 Ton Amunisi

Senin, 06 Januari 2025 - 11:55 WIB
loading...
Cara Israel Bunuh Bos...
Sebuah laporan terbaru mengungkap bagaimana cara Israel membunuh mantan Sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah dalam serangan udara di Lebanon. Foto/Al Manar
A A A
BEIRUT - Sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Minggu telah mengungkapkan informasi baru tentang pembunuhan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hizbullah Hassan Nasrallah oleh serangan udara Israel di Lebanon.

Laporan itu mengungkapkan bahwa intelijen Israel menerima laporan terperinci tentang lokasi dan pergerakannya beberapa hari sebelum operasi pembunuhannya dimulai.

Menurut laporan Asharq Al-Awsat, keputusan tingkat tinggi untuk menghabisi Nasrallah memuncak dalam 14 serangan udara yang menargetkan gedung-gedung yang dimasukinya, termasuk semua kemungkinan rute pelarian.

Serangan itu berlanjut selama beberapa hari untuk mencegah operasi penyelamatan bagi Nasrallah dan rombongannya.

Baca Juga: Hamas Rilis Video Tentara Israel Liri Albag yang Disandera: Tulislah di Makamku...

Menurut laporan itu, sumber keamanan Israel mengonfirmasi bahwa perburuan bos Hizbullah itu dimulai setelah perang 2006, yang dipelopori oleh Intelijen Militer (Aman) dan Mossad.

Namun, keputusan politik untuk bertindak ditunda hingga saat yang tepat tiba.

Operasi itu mendapatkan momentum ketika Nasrallah menjanjikan dukungan untuk Hamas dalam perangnya melawan Israel setelah serangan 7 Oktober 2023.

Laporan itu mengatakan bahwa pasukan Israel menggunakan strategi penipuan untuk membuat Nasrallah percaya bahwa Israel tidak berniat meningkatkan konflik.

Baik Hizbullah maupun Israel mempertahankan keterlibatan terbatas, memberi isyarat satu sama lain bahwa tidak ada pihak yang berniat mengerahkan sepenuhnya kemampuan militer mereka. Pendekatan ini menyebabkan Nasrallah menurunkan pertahanannya.

Eskalasi tersebut dipicu pada 16 September 2024, menyusul kegagalan upaya mediasi utusan Amerika Serikat (AS) Amos Hochstein untuk meyakinkan Hizbullah agar menghentikan serangannya terhadap Israel, yang menurut kelompok milisi Lebanon itu dilakukan untuk mendukung Gaza.

Setelah Hizbullah menolak permintaan Israel untuk melepaskan diri dari konflik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanannya saat itu, Yoav Gallant, mengatakan bahwa penduduk Israel di utara hanya dapat kembali setelah invasi darat ke Lebanon.

Pada 17 September, kabinet keamanan Israel menyetujui invasi tersebut dan menerapkan rencana gangguan komunikasi, meledakkan pager dan perangkat nirkabel.

Sebagai tanggapan, Nasrallah menyampaikan pidato pada 19 September, dengan mengatakan bahwa pertempuran tidak akan berhenti kecuali Israel mengakhiri operasinya di Gaza. Israel merujuk hal ini sebagai alasan untuk eskalasi besar-besaran, yang berpuncak pada invasi darat pada awal Oktober.

Operasi intelijen yang mengarah pada pembunuhan Nasrallah berlangsung selama 18 tahun dan melibatkan pengawasan terperinci terhadap kepemimpinan Hizbullah, dari komandan tertinggi hingga pemimpin unit lokal.

Agen Israel melacak pergerakan Nasrallah selangkah demi selangkah. Beberapa hari sebelum serangan, intelijen militer Israel menunjukkan lokasi persisnya di dalam kompleks di bawah area perumahan di Beirut selatan yang terdiri dari 20 bangunan yang saling terhubung. Penemuan ini dianggap sebagai kesempatan langka dan sekali seumur hidup.

Rencana akhir, menurut Asharq Al-Awsat, diawasi oleh Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Herzi Halevi, dengan Perdana Menteri Netanyahu secara pribadi menghadiri pengarahan akhir.

Armada yang terdiri dari 14 jet tempur yang dipersenjatai dengan 80 ton amunisi disiapkan. Operasi tersebut dilaksanakan pada pukul 18.21 selama salat Isya.

Hanya dalam 10 detik, bangunan-bangunan itu runtuh, meninggalkan kawah besar di lokasi tersebut. Semua pintu keluar potensial dibombardir untuk menghilangkan peluang melarikan diri. Serangan terus berlanjut selama beberapa hari untuk menghalangi upaya darurat dan penyelamatan Lebanon.

Koresponden militer Amir Bohbot mencatat bahwa Nasrallah gagal menafsirkan serangan yang meningkat itu sebagai peringatan.

"Nasrallah, yang bangga karena memahami strategi Israel, menjadi terlalu percaya diri," kata Bohbot, seraya menambahkan bahwa strategi intelijen Israel untuk menyesatkan Nasrallah memperkuat keyakinannya bahwa dia bukanlah target.

Nasrallah, yang telah memimpin Hizbullah yang didukung Iran selama 32 tahun, tewas pada 27 September 2023 ketika serangkaian serangan udara Israel meratakan beberapa bangunan di pinggiran selatan Beirut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Bangunan Bimbingan Belajar...
Bangunan Bimbingan Belajar Ambruk, 14 Anak Tewas
Rekomendasi
Dua Atlet Utusan IFeL...
Dua Atlet Utusan IFeL Bawa Indonesia Juara eFootball China Invitational 2026
Gerindra: Komunikasi...
Gerindra: Komunikasi Prabowo dengan Jokowi Baik-Baik Aja
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Berita Terkini
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Infografis
2 Negara NATO akan Kirim...
2 Negara NATO akan Kirim Jet Tempur dan Kapal Perang ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved