Beijing Simulasikan Duel Sistem Pertahanan China vs Rudal Siluman AS di Laut China Selatan
Senin, 06 Januari 2025 - 09:38 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, penampang radar yang rendah dan tanda inframerah yang minimal membuat mereka sulit dideteksi dan dicegat oleh pertahanan musuh.
Kedua, rudal hipersonik mengurangi ketergantungan pada platform intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) eksternal, yang memastikan efektivitas dalam lingkungan peperangan elektromagnetik yang intens.
Ketiga, kemampuan mereka untuk mengoordinasikan serangan melalui berbagi data di antara beberapa rudal menyediakan kemampuan gerombolan, yang memungkinkan serangan terkoordinasi dan presisi tinggi.
Sebaliknya, rudal hipersonik, meskipun kecepatannya ekstrem, menciptakan fenomena unik seperti gelombang plasma dan reaksi kimia, yang dapat membuatnya lebih mudah dideteksi. Selain itu, semburan dan panjang gelombang cahaya khas yang ditinggalkannya dapat dilacak oleh sensor canggih.
Meskipun telah melihat hasil simulasi tersebut, China mungkin memiliki beberapa opsi untuk mengalahkan LRASM AS yang bersifat siluman, seperti senjata energi terarah, teknologi anti-siluman, dan "shooting the archer”—menghancurkan pesawat peluncur atau kapal sebelum mereka mencapai jangkauan.
Tidak seperti sistem senjata dan rudal konvensional, senjata laser memberikan serangan seketika dengan magasin amunisi yang hampir tak terbatas dengan biaya yang dapat diabaikan. Atribut ini menjadikannya ideal untuk melawan serangan pesawat nirawak dan rudal jelajah.
Asia Times menyebutkan pada Agustus 2024 bahwa China telah membuat langkah signifikan dalam teknologi senjata laser, sebagaimana dibuktikan oleh upgrade kapal amfibi Tipe 071, Shiming Shan, dengan sistem senjata laser canggih.
Sistem laser, yang spesifikasinya masih dirahasiakan, diharapkan dapat memperkuat pertahanan terhadap pesawat nirawak dan kawanan perahu kecil, yang berpotensi mencakup kemampuan silau untuk membutakan sensor dan pencari.
Namun, senjata laser masih dalam tahap pengembangan awal dan menghadapi kekurangan yang signifikan seperti kebutuhan ruang dan daya yang besar, efektivitas yang berkurang pada jarak yang lebih jauh, dan kepekaan terhadap kondisi atmosfer.
China juga dapat menggunakan teknologi deteksi canggih bersama pesawat generasi berikutnya untuk mengalahkan rudal jelajah siluman seperti LRASM, yang memungkinkan intersepsi rudal dan pesawat peluncurnya.
Asia Times menyebutkan pada bulan November 2024 bahwa simulasi PLA National Defense University dan State Key Laboratory of Intelligent Game di Beijing mengungkapkan bahwa radar anti-siluman baru China dapat mendeteksi pesawat tempur siluman F-22 dan F-35 dari jarak hingga 180 kilometer.
Simulasi yang memodelkan serangan AS ke Shanghai dari Jepang tersebut menyoroti kerentanan pada perisai siluman F-22 dan F-35, terutama saat F-35 beroperasi dalam "beast mode", yang membuatnya dapat dideteksi dari jarak 450 kilometer. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya penempatan F-22 AS di Jepang, yang mengintensifkan fokus China dalam melawan ancaman siluman.
Kedua, rudal hipersonik mengurangi ketergantungan pada platform intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) eksternal, yang memastikan efektivitas dalam lingkungan peperangan elektromagnetik yang intens.
Ketiga, kemampuan mereka untuk mengoordinasikan serangan melalui berbagi data di antara beberapa rudal menyediakan kemampuan gerombolan, yang memungkinkan serangan terkoordinasi dan presisi tinggi.
Sebaliknya, rudal hipersonik, meskipun kecepatannya ekstrem, menciptakan fenomena unik seperti gelombang plasma dan reaksi kimia, yang dapat membuatnya lebih mudah dideteksi. Selain itu, semburan dan panjang gelombang cahaya khas yang ditinggalkannya dapat dilacak oleh sensor canggih.
Meskipun telah melihat hasil simulasi tersebut, China mungkin memiliki beberapa opsi untuk mengalahkan LRASM AS yang bersifat siluman, seperti senjata energi terarah, teknologi anti-siluman, dan "shooting the archer”—menghancurkan pesawat peluncur atau kapal sebelum mereka mencapai jangkauan.
Tidak seperti sistem senjata dan rudal konvensional, senjata laser memberikan serangan seketika dengan magasin amunisi yang hampir tak terbatas dengan biaya yang dapat diabaikan. Atribut ini menjadikannya ideal untuk melawan serangan pesawat nirawak dan rudal jelajah.
Asia Times menyebutkan pada Agustus 2024 bahwa China telah membuat langkah signifikan dalam teknologi senjata laser, sebagaimana dibuktikan oleh upgrade kapal amfibi Tipe 071, Shiming Shan, dengan sistem senjata laser canggih.
Sistem laser, yang spesifikasinya masih dirahasiakan, diharapkan dapat memperkuat pertahanan terhadap pesawat nirawak dan kawanan perahu kecil, yang berpotensi mencakup kemampuan silau untuk membutakan sensor dan pencari.
Namun, senjata laser masih dalam tahap pengembangan awal dan menghadapi kekurangan yang signifikan seperti kebutuhan ruang dan daya yang besar, efektivitas yang berkurang pada jarak yang lebih jauh, dan kepekaan terhadap kondisi atmosfer.
China juga dapat menggunakan teknologi deteksi canggih bersama pesawat generasi berikutnya untuk mengalahkan rudal jelajah siluman seperti LRASM, yang memungkinkan intersepsi rudal dan pesawat peluncurnya.
Asia Times menyebutkan pada bulan November 2024 bahwa simulasi PLA National Defense University dan State Key Laboratory of Intelligent Game di Beijing mengungkapkan bahwa radar anti-siluman baru China dapat mendeteksi pesawat tempur siluman F-22 dan F-35 dari jarak hingga 180 kilometer.
Simulasi yang memodelkan serangan AS ke Shanghai dari Jepang tersebut menyoroti kerentanan pada perisai siluman F-22 dan F-35, terutama saat F-35 beroperasi dalam "beast mode", yang membuatnya dapat dideteksi dari jarak 450 kilometer. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya penempatan F-22 AS di Jepang, yang mengintensifkan fokus China dalam melawan ancaman siluman.
Lihat Juga :