Profil Ahmed al-Sharaa, Pemimpin De Facto Suriah yang Dulunya Komandan Al Qaeda

Rabu, 25 Desember 2024 - 13:01 WIB
loading...
Profil Ahmed al-Sharaa,...
Pemimpin de facto Suriah Ahmed al-Sharaa. Foto/aa
A A A
DAMASKUS - Ahmed al-Sharaa merupakan penguasa de facto baru Suriah. Status ini didapatnya setelah kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpinnya berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Baru-baru ini, al-Sharaa dikabarkan telah mencapai kesepakatan dengan faksi-faksi pemberontak untuk bergabung sebagai satu kekuatan di bawah Kementerian Pertahanan Suriah. Kabar itu diungkap pemerintahan Suriah yang baru melalui rilis resmi pada Selasa (24/12/2024).

“Pertemuan antara al-Sharaa dan para pemimpin kelompok itu berakhir dengan kesepakatan tentang pembubaran semua kelompok dan integrasi mereka di bawah pengawasan kementerian pertahanan," ungkap pernyataan pemerintahan baru itu.

Setelah pihaknya menggulingkan rezim Assad, al-Sharaa memang memiliki tugas berat untuk segera memulihkan stabilitas Suriah.

Ia juga berusaha keras menghindari bentrokan antar kelompok di sana, termasuk di antaranya melalui cara seperti menarik faksi-faksi oposisi lain menuju pemerintahannya.

Profil Ahmed al-Sharaa


Ahmed Hussein al-Sharaa atau biasa dikenal juga dengan nama Abu Mohammad al-Julani merupakan pemimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Beberapa waktu lalu, kelompok oposisi bersenjata itu berhasil menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.

Mengutip Al Jazeera, al-Sharaa lahir di Riyadh, Arab Saudi, tahun 1982. Tempat kelahirannya itu dulunya adalah lokasi ayahnya bekerja sebagai insinyur perminyakan.

Keluarganya kemudian kembali ke Suriah pada 1989. Bersama al-Sharaa, mereka menetap di dekat Damaskus.

Menurut pengakuan sejumlah temannya di sekolah dulu, al-Sharaa sebenarnya tampak seperti anak laki-laki biasa yang rajin belajar. Selama masa mudanya, ia juga digambarkan sebagai sosok pendiam dan pemalu, serta tertutup secara sosial.

Bibit radikalisme muncul di dalam dirinya saat Intifada Kedua Palestina pada tahun 2000. Waktu itu, al-Sharaa yang masih berusia antara 17 atau 18 tahun sudah tergerak hatinya untuk membela orang yang ditindas oleh penjajah Israel.

Beberapa waktu berlalu, al-Sharaa pindah pada tahun 2003 ke Irak. Di sini, ia bergabung dengan al-Qaeda yang kala itu menjadi bagian dari perlawanan terhadap invasi Amerika Serikat (AS).

Al-Sharaa sempat ditangkap oleh pasukan AS di Irak dan ditahan selama lima tahun. Setelah bebas, ia kemudian ditugaskan untuk mendirikan cabang al-Qaeda di Suriah, Front al-Nusra, yang waktu itu sedang memperluas pengaruhnya di wilayah yang dikuasai oposisi, khususnya Idlib.

Pada awalnya, al-Sharaa biasa berkoordinasi langsung dengan Abu Bakr al-Baghdadi. Namun, tiba-tiba al-Baghdadi mengumumkan kelompoknya memutuskan hubungan dengan al-Qaeda dan akan memperluas wilayah ke Suriah, termasuk dengan cara menggabungkan Front al-Nusra ke dalam kelompok baru yang disebut ISIL.

Menariknya, al-Sharaa menolak pembelotan ini dan mempertahankan kesetiaannya kepada al-Qaeda.

Dalam wawancara pada tahun 2014, ia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Suriah harus diperintah berdasarkan interpretasi kelompoknya tentang “hukum Islam” dan kaum minoritas di negara tersebut tidak akan diakomodasi.

Namun, seiring waktu pandangan al-Sharaa juga ikut berubah. Ia kemudian mulai menjauhkan diri dari proyek al-Qaeda yang bertujuan mendirikan “kekhalifahan global” di semua negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Sebagai gantinya, al-Sharaa bersama para anak buahnya yang setia memulai misi baru. Di Suriah, ia kemudian mengumumkan penggabungan sejumlah kelompok oposisi dengan nama Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Tujuan HTS yang dinyatakan waktu itu adalah untuk membebaskan Suriah dari pemerintahan otokratis Assad.

Selain itu, kelompok ini ingin mengusir milisi Iran dari negara tersebut dan mendirikan pemerintahan baru sesuai dengan interpretasi mereka sendiri tentang “hukum Islam”.

Sebagai pendiri HTS, al-Sharaa telah berusaha memisahkan diri dari pihak lain dan hanya berfokus pada pembentukan “republik Islam” di Suriah.

Sejak 2016, ia telah memposisikan dirinya dan kelompok sebagai penjaga yang kredibel bagi Suriah jika sudah terbebas dari rezim al-Assad.

Secara perlahan, HTS menghimpun kekuatan dari provinsi Idlib. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka melancarkan serangan yang mengejutkan rezim Assad di Damaskus di akhir tahun 2024.

Tak butuh waktu lama, Assad akhirnya melarikan diri ke luar negeri. Sebagai gantinya, al-Sharaa yang menjadi pemimpin HTS pun secara tidak langsung menjadi pemimpin de facto Suriah sekarang.

Tambahan informasi, sebelumnya al-Sharaa juga masuk deretan buronan Amerika Serikat dalam daftar " Teroris Global yang Ditunjuk Khusus " pada bulan Mei 2013 dengan hadiah sebesar USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.

Namun, status tersebut dicabut pada awal Desember 2024 setelah al-Sharaa bertemu dengan delegasi AS untuk berunding mengenai kondisi di Suriah.

Demikianlah ulasan mengenai profil Ahmed al-Sharaa, pemimpin de facto Suriah yang dulunya menjadi komandan di salah satu cabang Al Qaeda.

Baca juga: CIA Disebut Jalankan Program Cuci Otak Lewat Obat dan Penganiayaan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepala FSB Rusia: Barat...
Kepala FSB Rusia: Barat akan Kerahkan ISIS Suriah dalam Perang Melawan Iran
Seluruh Tentara AS Hengkang...
Seluruh Tentara AS Hengkang setelah 10 Tahun Bercokol di Suriah
AS Tarik 1.000 Pasukannya...
AS Tarik 1.000 Pasukannya dari Suriah
ISIS Berupaya Bunuh...
ISIS Berupaya Bunuh Presiden Suriah al-Sharaa, 5 Kali Gagal
Pasukan AS Mundur dari...
Pasukan AS Mundur dari Pangkalan Utama Suriah, Pindah ke Yordania
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan...
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan dari Suriah ke Irak
Densus Tangkap 8 Terduga...
Densus Tangkap 8 Terduga Teroris JAD Afiliasi ISIS di Sulteng
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Wapres JD Vance: Israel...
Wapres JD Vance: Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan Politik AS
Rekomendasi
Sinopsis The Last Girl...
Sinopsis The Last Girl on the Trafficking List di V+Short, Kisah Olive Terjebak Sindikat Berbahaya
Piala Dunia 2026: Spanyol...
Piala Dunia 2026: Spanyol Hancurkan Arab Saudi 4-0
Dokter Tifa Masih Diinfus...
Dokter Tifa Masih Diinfus dan Roy Suryo Tidak Mau Makan Obat
Berita Terkini
4 Prasyarat Iran untuk...
4 Prasyarat Iran untuk Negosiasi di Swiss, Dapat Dana Segar Rp106 Triliun
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved